5 Sebab Dikabulkannya Doa

By | December 7, 2015

Di antara sebab-sebab dikabulkannya do’a oleh Allah عزّوجلّ adalah:

1. Merasa yakin akan dikabulkan do’anya dengan hati yang khusuk dan tenang, sebagaimana Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda:

اُدْعُوا اللهَ تَعَالَى وَاَنْتُمْ مُوْقِنُوْنَ بِالاِجَابَةِِ، وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ لَا يَسْتَجِيْبُ دُعَاءً مِّنْ قَلْبِِ غَافِلٍ لاَهٍ

“Berdo’alah kepada Allah Ta’ala dalam keadaan yakin akan dikabulkan, dan ketahuilah bahwa Allah tidak akan mengabulkan do’a dengan hati yang lalai lagi bermain-main. ”

Jika seorang hamba berdo’a kepada Tuhannya pasti akan didengar dan dikabulkan selama ter-penuhi syarat-syaratnya, bahkan Allah malu jika tidak mengabulkannya, Nabi bersabda;

إِنَّ اللهَ حَيِيٌّ كَرِيمٌ يَسْتَحْيِي إِذَا رَفَعَ الرَّجُلَ إِلَيْهِ يَدَيْهِ أَنْ يَرُدَّهُمَا صِفْرًا خَائبَتَيْن

“Sesungguhnya Allah malu lagi maha pemurah. Dia malu jika seorang hamba-Nya berdo’a sambil mengangkat tangannya kepada-Nya, lalu Allah mengembalikannya dengan tangan hampa (tidak mengabulkannya). ”

2. Merasa sangat butuh kepada Allah yang membentangkan kebaikan dunia dan akhirat serta yang menghindarkan segala keburuan dunia dan akhirat.

Jika seseorang yang meminta tidak merasa butuh kepada Allah, maka dia tidak akan serius meminta dan akhirnya tidak berdo’a. Oleh karena itu, Allah akan memperkenankan do’anya orang yang sedang dalam kondisi darurat sebab mereka pasti berdo’a karena benar-benar butuh kepada Allah dan mereka yakin yang mengabulkan hanya Allah, dalam firman-Nya:

أَمَّنْ يُجِيبُ الْمُضْطَرَّ إِذَا دَعَاهُ وَيَكْشِفُ السُّوءَ

“Siapakah yang mampu memperkenankan do’anya orang yang sedang kesulitan/darurat (melainkan Allah) jika dia berdo’a kepada-Nya dan Dialah yang menghilangkan kesusahan” (QS. an-Naml [27]: 62)

3. Memperbanyak do’a tidak hanya di saat susah.

Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda dalam sebuah hadits:

مَنْ سَرَّهُ أَنْ يَسْتَجِيبَ اللَّهُ لَهُ عِنْدَ الشَّدَائِدِ وَالْكَرْبِ فَلْيُكْثِرْ الدُّعَاءَ فِي الرَّخَاءِ

“Barangsiapa yang ingin dikabulkan do’anya oleh Allah ketika lapang dan sulit, maka hendaknya memperbanyak do’anya saat lapang. ”

4. Do’a untuk kebaikan agama lebih penting dari kebaikan dunia.

Kebaikan dunia, agama, dan akhirat hanya di tangan Allah عزّوجلّ. Rasulullah صلى الله عليه وسلم meminta kepada Allah جل جلا له semua perkara itu supaya menjadi lebih baik, beliau berdo’a:

اللَّهُمَّ أَصْلِحْ لِي دِينِي الَّذِي هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِي وَأَصْلِحْ لِي دُنْيَايَ الَّتِي فِيهَا مَعَاشِي وَأَصْلِحْ لِي آخِرَتِي الَّتِي فِيهَا مَعَادِي وَاجْعَلْ الْحَيَاةَ زِيَادَةً لِي فِي كُلِّ خَيْرٍ وَاجْعَلْ الْمَوْتَ رَاحَةً لِي مِنْ كُلِّ شَرٍّ

“Ya Allah perbaikilah agamaku karena (agamaku-lah) yang memelihara urusanku, perbaikilah du-niaku karena (duniakulah) tempat hidupku (sekarang), perbaikilah akhiratku karena (akhiratkulah) tempat kembaliku, dan jadikanlah hidupku semakin bertambah segala kebaikan untukku, dan jadikanlah matiku waktu istirahat dari segala keburukan.” (HR. Muslim: 2720)

Rasulullah صلى الله عليه وسلم dalam do’a di atas mendahulukan do’a untuk kebaikan agama, setelah itu untuk kebaikan dunia, bukan berarti urusan dunia tidak penting atau tidak boleh mementingkan urusan dunia. Boleh mementingkan urusan dunia, tetapi jangan sampai tujuan pokok dari segala urusan adalah dunia. Oleh karena itu, Rasulullah صلى الله عليه وسلم juga berdo’a:

وَلَا تَجْعَلْ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا وَلَا مَبْلَغَ عِلْمِنَا

“Dan janganlah Engkau jadikan dunia ini menjadi tujuan pokokku serta puncak ilmu pengetahuanku.”

Setiap hamba selalu membutuhkan pertolongan Tuhannya dalam setiap urusannya karena yang memudahkan segala urusan hanyalah Allah عزّوجلّ baik urusan dunia lebih-lebih urusan ibadah dan akhiratnya, oleh karenanya Rasulullah صلى الله عليه وسلم berpesan kepada salah seorang sahabatnya supaya setiap akhir shalat tidak melupakan do’a;

اللَّهُمَّ أَعِنِّي عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ

“Ya Allah tolonglah aku (untuk dimudahkan) berdzikir/mengingat-Mu, mensyukuri-Mu, dan beribadah kepada-Mu dengan cara yang baik.”

Tidak ada yang memudahkan kita untuk shalat dan segala urusan kita kecuali Allah جل جلا له. Karena itu, para sahabat Nabi صلى الله عليه وسلم pernah bersajak dengan ucapan:

وَاللهِ لَوْلاَ اللهُ مَا اهْتَدَيْنَا وَلاَ صُمْنَا وَلاَ ضَلَّيْنَا

“Demi Allah, jika tidak (karena) Allah, kita tidak mendapat petunjuk dan juga tidak akan berpuasa serta shalat.”

5. Meminta jalan yang lurus adalah do’a yang paling bermanfaat.

Do’a yang paling besar manfaatnya tidak lain adalah do’a meminta petunjuk jalan yang lurus, dalam Surat al-Fatihah. Oleh karena itu, setiap muslim akan mengulang-ulang do’a ini dalam shalatnya minimal dalam sehari semalam sebanyak 17 kali. Orang yang mendapat jalan yang lurus pasti akan dimudahkan untuk melakukan ketaatan dan meninggalkan kemaksiatan, se-hingga dia tidak akan ditimpa keburukan baik di dunia atau di akhirat.

Tidak ada selain Allah عزّوجلّ yang memudahkan kita untuk mendapatkan jalan yang lurus, dan tetap kokoh/teguh di atasnya. Allah عزّوجلّ berfirman:

يُثَبِّتُ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الآخِرَةِ وَيُضِلُّ اللَّهُ الظَّالِمِينَ وَيَفْعَلُ اللَّهُ مَا يَشَاءُ

Allah meneguhkan orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh, dalam kehidupan dunia dan akhirat, dan Allah-lah yang menyesatkan orang-orang yang zalim, dan Allah memperlakukan apa yang Dia kehendaki. (QS. Ibrahim [14]: 27)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *