Tips Parenting: Nafkahi Anak Dengan Harta Yang Halal

By | November 18, 2015

Pak Budi dan Ibu Dewi tengah gusar, pasalnya anak ketiga mereka agak berbeda denga kedua kakak diatasnya. Kakak-kakaknya sangat penurut dan mudah untuk disuruh shalat, berprestasi di sekolah dan sudah hapal juz amma sebelum genap berusia 10 tahun. Hal ini berbeda dengan anak ketiga mereka yang bernama Iwan. Iwan suka sekali membantah dan susah untuk disuruh shalat, prestasi di sekolahnya juga tidak sebagus kedua kakak tertuanya.

Kini keadaannya bertambah parah, kondisi anak-anak mereka semakin bermasalah. Bukan Iwan, anak ketiga mereka, saja yang sulit untuk diatur, tapi sekarang kedua kakaknya juga ikut-ikutan menjadi sulit diatur. Sebagai orang tua, Pak Budi dan Ibu Dewi menjadi bertambah pusing.

Usut punya usut, ternyata perubahan aneh ini terjadi bertepatan ketika sang ayah, Bapak Budi, pindah kerja ke perusahaannya yang sekarang. Secara materi, keluarga mereka sekarang sebenarnya lebih mapan dan berlimpah harta.

Pekerjaan bapak Budi di perusahaan barunya sangatlah enak, gaji besar dan fasilitas yang menngiurkan. Namun banyak yang tidak mengetahui bahwa di tempat barunya tersebut, praktek suap-menyuap adalah hal yang lazim. Ia merasa terjebak dalam sebuah sistem dimana semua orang melakukan ini. Ia bingung dan akhirnya masuk ke dalam lingkaran kejahatan penyuapan. Dalam hati kecilnya Pak Budi merasa sangat bersalah namun ia terus saja bekerja sampai akhirnya anak ketiga mereka, Iwan meniggal dunia akibat tertabrak oleh truk pengangkut pasir ketika mengendarai motor tanpa helm di saat berusaha melawan arah. Iwan tewas sketika di tempat dengan kepala pecah.

Kejadian ini sangat mengejutkan Pak Budi dan Ibu Dewi. Mereka akhirnya berusaha introspeksi diri dan menyadari betapa pentingnya menafkahai anak-anak dengan harta yang halal. Terlepas dari itu, mereka percaya bahwa meninggalnya anak mereka adalah sudah suratan takdir.

Setelah berfikir panjang dan melakukan istikharah, Pak Budi akhirnya memutuskan untuk mengundurkan diri dari tempatnya bekerja. Ia kini merintis usaha kecil-kecilan di depan rumahnya bersama sang istri. Mereka membuka lapak rumah makan kecil yang cukup sederhana. Tak jarang, kedua anak mereka ikut membantu menyiapkan masakan atau membawa perlengkapan dagang ke depan rumah.

Meskipun mendapat cibiran dari tetangga dan masyarakat sekitar, keluarga Pak Budi kini merasa hidupnya lebih berkah dan bersahaja meskipun hanya berjualan makanan di depan rumah. Pak Budi dan istri juga memiliki lebih banyak waktu untuk bermain atau bersenda gurau dengan anak-anak mereka. Kedua anak mereka sekarang juga menjadi lebih baik, prestasi sekolahnya semakin membaik, dan hapalan Qurannya juga semakin banyak, yang paling besar sudah mau hapal 3 juz, dan adiknya yang hanya berjarak 2 tahun kini sudah hapal juz amma dan juz 29.

***

Sudahkah seorang ayah atau ibu menafkahi anak-anak mereka dengan harta yang halal? Harta yang akan menjadi darah daging mereka. Jika sumbernya baik, mengalir pula kebaikan dalam diri anak-anak. Jika sumbernya buruk, mengalir pula keburukan dalam diri mereka. Anak adalah investasi para orang tua, kita akan menuai hasilnya nanti di akhirat.

“Apabila manusia telah mati, terputuslah amalannya kecuali tiga hal: shadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau anak shalih yang mendoakannya.” (HR. Muslim)

“Sesungguhnya Allah akan mengangkat derajat seorang hamba yang shalih di jannah, kemudian ia berkata: ‘Wahai Rabbku, dari mana ini?’ Maka Allah berfirman: ‘Dengan sebab istighfar (permintaan ampun) anakmu untukmu’.” (HR. Ahmad)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *