Allah Adalah Dzat Yang Maha Pengampun

By | November 23, 2015

Muslim meriwayatkan dalam Shahih dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah bersabda, “Seorang laki-laki yang belum pernah berbuat kebaikan apa pun berpesan kepada keluarganya: Jika dia mati, maka hendaknya mereka membakarnya lalu separuh abunya ditebar di daratan dan separuh lagi di lautan. Demi Allah, jika Allah mampu mengembalikannya, niscaya dia akan menyiksanya dengan siksaan yang tidak pernah ditimpakan kepada siapa pun di dunia. Ketika laki-laki itu mati, mereka melakukan apa yang dipesankannya. Lalu Allah memerintahkan daratan agar mengumpulkannya dan memerintahkan lautan agar mengumpulkannya pula. Kemudian Allah bertanya, ‘Mengapa kamu melakukan itu?’ Dia menjawab, ‘Karena takut kepada-Mu, ya Rabbi,dan Engkau lebih mengetahuinya.’ Maka Allah mengampuninya.” [1]

Hadits di atas berkisah tentang seorang laki-laki yang tidak bersyukur meskipun memiliki anak-anak dan harta yang berlimpah. Kehidupannya hanya diisi dengan dosa dan kemaksiatan. Seketika ajal datang menjemput, ketakutan hebat menghampirinya karena teringat semua kemaksiatan yang dilakukan sepanjang usianya.

Laki-laki itu sangat yakin, jika dia mati, Allah TA’ALA akan menyiksanya dengan siksaan yang amat pedih. Dia kemudian memanggil seluruh anak-anaknya. Dia bertanya, “Ayah seperti apa aku ini bagi kalian wahai anak-anakku?” Mereka menjawab, “Sebaik-baik ayah.” Sang ayah lalu mengutarakan kegelisahan dan kecemasannya serta mengakui semua dosa dan kemaksiatan yang pernah dilakukannya. Maka dia menyuruh anak-anaknya agar membakarnya dan menebarkan abunya di udara agar selamat dari adzab Allah TA’ALA. Dengan cara itu, dia berfikir bahwa Allah TA’ALA tidak akan mampu mengumpulkan tulang-belulangnya dan menghidupkannya kembali.

Semua anak-anaknya lalu bergegas mengumpulkan kayu bakar, menyalakan api untuk membakar ayah mereka di dalam api itu hingga menjadi arang, lalu sisanya dihancurkan hingga menjadi abu. Setengah abunya ditebar ke laut dan setengahnya lagi disebar ke daratan. Setelah melakukan siasat tersebut, mereka menyangka bahwa Allah TA’ALA tidak bisa mengembalikan dan menghidupkan ayah mereka.

Meskipun demikian, mereka lupa bahwa Allah TA’ALA Maha berkuasa atas segala sesuatu, Allah TA’ALA menghidupkan dan mematikan, Dia membangkitkan hamba-hamba-Nya pada hari Kiamat dari berbagai keadaan. Mereka yang dimangsa oleh ikan-ikan buas di dasar laut, mereka yang dimakan binatang liar di pedalaman hutan belantara, mereka yang telah berubah menjadi tanah dan tanahnya menjadi bahan makanan bagi tumbuh-tumbuhan, semuanya akan dibangkitkan dan dihidupkan kembali oleh Allah TA’ALA yang Maha Berkuasa dalam keadaan utuh.

Firman Allah TA’ALA,

إِن كُلُّ مَن فِي ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ إِلَّآ ءَاتِي ٱلرَّحۡمَٰنِ عَبۡدٗا ٩٣ لَّقَدۡ أَحۡصَىٰهُمۡ وَعَدَّهُمۡ عَدّٗا ٩٤  وَكُلُّهُمۡ ءَاتِيهِ يَوۡمَ ٱلۡقِيَٰمَةِ فَرۡدًا ٩٥

“Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi, kecuali akan datang kepada Tuhan yang Maha Pemurah selaku seorang hamba. Sesungguhnya Allah telah menentukan jumlah mereka dan menghitung mereka dengan hitungan yang teliti. Dan tiap-tiap mereka akan datang kepada Allah pada hari Kiamat dengan sendiri-sendiri.” (QS. Maryam: 93-95).

Setelah anak-anaknya melakukan permintaan ayah mereka, sang ayahpun telah mati dan sudah menjadi abu, Maka Allah memerintahkan bumi dan laut agar mengumpulkan serpihan-serpihan abunya. Lalu Dia Yang Maha Perkasa berfirman, “Jadilah si fulan.” Pria yang telah menjadi abu itu lalu tiba-tiba langsung berdiri. Ketika Allah TA’ALA bertanya mengapa dia memerintahkan anak-anaknya untuk membakarnya, si pria menjawab (dan Allah lebih tahu tentang hal itu), “Karena aku takut kepada-Mu Ya Allah.” Maka Allah TA’ALA mengampuni dosa-dosanya karena rasa takutnya itu. Allah TA’ALA memaklumi prasangkanya yang bodoh karena menyangka Allah tidak mampu menghidupkanya kembali. Maha Suci Allah, Maha Pengampun lagi Maha Berkuasa.

Takut kepada Allah merupakan tingkatan tertinggi orang-orang shalih. Meskipun bergelimang dengan dosa. Allah telah mengampuni dosa-dosa besar laki-laki yang disebutkan dalam hadits di atas. Ini karena hatinya masih menyimpan rasa takut kepada Allah TA’ALA Yang Maha Pengampun. Allah TA’ALA mungkin saja memaafkan seseorang karena kebodohannya. Pria tersebut mengira bahwa Allah tidak mampu menghidupkannya kembali jika jasadnya telah menjadi abu yang bertebrangan.

Sesama seorang muslim, kita tidak boleh mengkafirkan saudara kita sesama muslim hanya karena dosanya yang tampak di hadapan kita. Jika dia seorang musim, melakukan dosa namun tidak bertaubat, maka hisab dan urusannya kembali kepada Allah TA’ALA semata. Untuk dosa selain dosa syirik, jika Allah TA’ALA berkehendak, maka Dia menyiksanya. Sebaliknya , jika Dia berkehendak, maka Dia mengampuninya.

Allah TA’ALA Sangat Senang Kepada Hamba-Nya Yang Kembali Kepada-Nya

Muslim meriwayatkan dalam Shahih-nya dari Samak berkata bahwa Nu’man bin Basyir berkhutbah, “Sungguh, Allah lebih berbahagia dengan taubat hamba-Nya daripada seorang laki-laki yang membawa makanan dan minumannya di atas punggung unta, kemudian dia berjalan. Sesampainya di daerah yang sepi, datanglah waktu untuk tidur siang. Dia turun dan tidur siang di bawah pohon. Dia tertidur dan untanya pergi meninggalkannya. Dia terbangun lalu berjalan beberapa jarak, tetapi dia tidak menemukan apa pun. Kemudian dia berjalan beberapa jarak untuk kedua kalinya, tetapi dia tetap tidak menemukan apa pun. Lalu dia berjalan beberapa jarak untuk ketiga kalinya, tetapi dia masih tidak menemukan apa pun. Dia kembali mendatangi tempat di mana dia beristirahat siang. Manakala dia sedang duduk, tiba-tiba untanya datang berjalan hingga ia menjatuhkan tali kekangnya di depannya. Sungguh Allah lebih berbahagia dengan taubat seorang hamba daripada orang ini manakala dia menemukan untanya.”Samak berkata, “Sya’bi mengklaim bahwa Nu’man menyandarkan hadis ini kepada Nabi. Adapun aku tidak mendengarnya.”[2]

Rasulullah ﷺ  menjadikan kisah di atas sebagai perumpamaan terhadap kebahagiaan Allah TA’ALA dengan taubat hamba-Nya. Laki-laki yang dikisahkan dalam hadis tersebut melakukan perjalanan sendirian dengan bekal makanan dan minuman di atas punggung untanya. Hadis-hadis lain menerangkan bahwa daratan yang dilaluinya adalah daratan yang sepi, tanpa tumbuh-tumbuhan, sunyi dan mencelakakan karena tidak memiliki air dan makanan. Di siang hari dalam perjalanannya yang melelahkan, laki-laki musafir ini melihat sebatang pohon di daratan. Dia pun kemudian turun dan beristirahat di bawahnya. Begitu dia menutup kedua matanya, untanya lalu menghilang. Ketika dia bangun dia tidak melihatnya.

Hilangnya unta di daratan gersang seperti ini berarti kematian. Dia pun bergegas berlari ke sana-kemari untuk mencarinya, tetapi tidak kunjung menemukannya. Dia kembali ke tempat semula dalam keadaan lelah dan haus. Saking lelahnya dia pun kembali tertidur. Ketika dia bangun, dia menemukan untanya sudah tepat berada di depan matanya. Dia sangat bahagia dengan kebahagiaan seperti orang yang selamat dari kematian. Saking bahagianya, dia pun salah berucap. Dia berkata, “Ya Allah, Engkau adalah hambaku dan aku adalah tuhanmu.” Rasulullah ﷺ  telah menyampaikan kepada kita bahwa Allah lebih berbahagia dengan taubatnya seorang hamba daripada orang yang menemukan kembali untanya di daratan yang mematikan dan menegerikan tersebut.

Allah TA’ALA Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Dia mengembalikan unta laki-laki ini setelah dia berputus asa darinya. Dan taubat menjadikan Allah ridha kepada hamba-Nya. Allah lebih berbahagia dengan taubatnya seorang hamba daripada laki-laki yang menemukan untanya di tempat tandus tersebut.

Kita tentunya perlu mengingat bahwa bahagianya Allah TA’ALA adalah sifat yang sesuai dengan keagungan dan kesempurnaan-Nya, tidak disamakan dengan bahagianya makhluk. Ini berpijak kepada firman Allah,

فَاطِرُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِۚ جَعَلَ لَكُم مِّنۡ أَنفُسِكُمۡ أَزۡوَٰجٗا وَمِنَ ٱلۡأَنۡعَٰمِ أَزۡوَٰجٗا يَذۡرَؤُكُمۡ فِيهِۚ لَيۡسَ كَمِثۡلِهِۦ شَيۡءٞۖ وَهُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلۡبَصِيرُ ١١

(Dia) Pencipta langit dan bumi. Dia menjadikan bagi kamu dari jenis kamu sendiri pasangan-pasangan dan dari jenis binatang ternak pasangan-pasangan (pula), dijadikan-Nya kamu berkembang biak dengan jalan itu. Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dialah yang Maha Mendengar dan Melihat (QS. Asy-Syura: 11)

Hadis di atas juga mengajarkan kepada kita bahwa Allah TA’ALA tidak menyalahkan orang yang dikuasai oleh emosi yang berlebihan dan mengatakan sesuatu yang tidak diinginkannya. Seandainya dia bermaksud mengucapkan hal itu, pastinya dia telah kufur kepada Allah TA’ALA.

Selain itu, kisah ini juga mnegisyaratkan bolehnya seseorang menceritakan ucapan orang lain yang salah, seperti Rasulullah ﷺ  yang menceritakan ucapan laki-laki ini dan sebagaimana Al-Qur’an menyampaikan ucapan orang-orang yang mengatakan kekufuran. Seperti ucapan mereka,

لَّقَدۡ سَمِعَ ٱللَّهُ قَوۡلَ ٱلَّذِينَ قَالُوٓاْ إِنَّ ٱللَّهَ فَقِيرٞ وَنَحۡنُ أَغۡنِيَآءُۘ سَنَكۡتُبُ مَا قَالُواْ وَقَتۡلَهُمُ ٱلۡأَنۢبِيَآءَ بِغَيۡرِ حَقّٖ وَنَقُولُ ذُوقُواْ عَذَابَ ٱلۡحَرِيقِ ١٨١

Sesungguhnya Allah telah mendengar perkatan orang-orang yang mengatakan: “Sesunguhnya Allah miskin dan kami kaya”. Kami akan mencatat perkataan mereka itu dan perbuatan mereka membunuh nabi-nabi tanpa alasan yang benar, dan Kami akan mengatakan (kepada mereka): “Rasakanlah olehmu azab yang mem bakar” (QS. Ali Imran: 181)

Dan ucapan mereka,

وَقَالَتِ ٱلۡيَهُودُ يَدُ ٱللَّهِ مَغۡلُولَةٌۚ غُلَّتۡ أَيۡدِيهِمۡ وَلُعِنُواْ بِمَا قَالُواْۘ بَلۡ يَدَاهُ مَبۡسُوطَتَانِ يُنفِقُ كَيۡفَ يَشَآءُۚ وَلَيَزِيدَنَّ كَثِيرٗا مِّنۡهُم مَّآ أُنزِلَ إِلَيۡكَ مِن رَّبِّكَ طُغۡيَٰنٗا وَكُفۡرٗاۚ وَأَلۡقَيۡنَا بَيۡنَهُمُ ٱلۡعَدَٰوَةَ وَٱلۡبَغۡضَآءَ إِلَىٰ يَوۡمِ ٱلۡقِيَٰمَةِۚ كُلَّمَآ أَوۡقَدُواْ نَارٗا لِّلۡحَرۡبِ أَطۡفَأَهَا ٱللَّهُۚ وَيَسۡعَوۡنَ فِي ٱلۡأَرۡضِ فَسَادٗاۚ وَٱللَّهُ لَا يُحِبُّ ٱلۡمُفۡسِدِينَ ٦٤

Orang-orang Yahudi berkata: “Tangan Allah terbelenggu”, sebenarnya tangan merekalah yang dibelenggu dan merekalah yang dilaknat disebabkan apa yang telah mereka katakan itu. (Tidak demikian), tetapi kedua-dua tangan Allah terbuka; Dia menafkahkan sebagaimana Dia kehendaki. Dan Al Quran yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu sungguh-sungguh akan menambah kedurhakaan dan kekafiran bagi kebanyakan di antara mereka. Dan Kami telah timbulkan permusuhan dan kebencian di antara mereka sampai hari kiamat. Setiap mereka menyalakan api peperangan Allah memadamkannya dan mereka berbuat kerusakan dimuka bumi dan Allah tidak menyukai orang-orang yang membuat kerusakan. (QS. Al-Maidah: 64)

 

 

[1] Riwayat ini dalam Shahih Muslim, 4/2111. Diriwayatkan oleh Muslim dari Abu Hurairah dan Abu Said Al-Khudri (no. 2756, 2757). Ada di Syarah Shahih Muslim Nawawi, 17/226.

Diriwayatkan oleh Bukhari di beberapa tempat dalam Shahih-nya. Bukhari meriwayatkannya dari Hudzaifah dalam Kitab Ahadisil Anbiya’, bab keterangan tentang Bani Israil, 6/494, no. 3452 (6/514, no. 3479). Di dalam Kitabur Raqaq, bab takut kepada Allah (11/312), no. 6480.

Bukhari meriwayatkannya dari Abu Said Al-Khudri dalam Kitabul Anbiya’, 6/514 no. 3478: dalam Kitabur Raqaq, bab takut kepada Allah, 11312, no. 6481, dalam Kitabut Tauhid, bab firman Allah. “Mereka hendak merubah janji Allah.” (QS. Al-Fath: 15), 13/466, no. 7508. Dia meriwayatkannya di bab ini dari Abu Hurairah, 13/466, no. 7506.

[2] Hadis dengan lafazh ini diriwayatkan oleh Muslim dalam Shahih-nya dari Nu’man bin Basyir dalam Kitabud Da’awat, bab dorongan taubat, 4/2103, no. 2745. Diriwayatkan oleh Bukhari dari Abdullah bin Mas’ud secara marfu’ dalam Kitabud Da’awat,bab taubat, 11/102, no. 6308. Diriwayatkan oleh Muslim dalam Kitabut Taubah, bab anjuran bertaubat, 4/2103, no. 2744. Muslim juga meriwayatkannya dari Barra’ bin Azib dan Anas bin Malik.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *