Apa Itu Zakat?

By | December 6, 2015

Mengapa Harus Membayar Zakat

Membayar zakat merupakan bagian dari agama Islam yang sangat penting setelah dua kalimat syahadat dan shalat.

Menunaikan zakat adalah memberikan sebagian harta kepada orang-orang tertentu (mustahiqqin).

Zakat dibayarkan dengan syarat-syarat yang telah ditetentukan.

Jika seorang mukmin memiliki harta yang telah mencapai nisab zakat (kadar tertentu)…

…maka diwajibkan atas mukmin tersebut memberikan sebagian hartanya kepada golongan yang berhak menerimanya.

Hukum menunaikan zakat adalah wajib dan merupakan salah satu rukun Islam.

“Islam dibangun atas lima perkara; Bersaksi bahwa tiada Ilah yang berhak disembah selain Allah dan bahwa nabi Muhammad utusan Allah, menegakkan shalat, menunaikan zakat, melaksanakan haji dan puasa Ramadhan.” [1]

Perintah menunaikan zakat selalu beriringan setelah mendirikan shalat.

“Dan dirikanlah salat, tunaikanlah zakat.” (QS. Al Baqarah: 43)

Perintah membayar zakat disebutkan sama banyaknya dengan perintah mendirikan shalat di dalam Al Quran.

 “Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka dan mendoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (QS. At-Taubah: 103)

Keutamaan Membayar Zakat

Membayar Zakat memiliki keutamaan dan manfaat yang sangat banyak. Dari segi sosial, zakat merupakan sarana untuk membantu fakir miskin sehingga dapat mengurangi kecemburuan sosial di masyarakat. Selain itu, membayar zakat juga berarti memperluas peredaran uang dan harta benda, meningkatkan perputarannya sehingga lebih banyak pihak yang dapat mengambil manfaatnya. Adapun dari persepektif agama, manfaat membayar zakat di antaranya adalah:

  1. Salah Satu Sifat Penghuni Surga

“Sesungguhnya orang-orang yang bertaqwa itu berada dalam taman-taman (syurga) dan mata air-mata air, Sambil menerima segala pemberian Rabb mereka. Sesungguhnya mereka sebelum itu di dunia adalah orang-orang yang berbuat kebaikan. Di dunia mereka sedikit sekali tidur diwaktu malam. Dan selalu memohonkan ampunan diwaktu pagi sebelum fajar. Dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak mendapat bagian (maksudnya ialah orang miskin yang tidak meminta-minta).” (QS. Adz-Dzaariyaat: 15-19)

  1. Salah Satu Sifat Orang Yang Diberi Rahmat (Kasih Sayang) Oleh Allah

“Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya. mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. At-Taubah: 71)

  1. Mensucikan Harta dan Jiwa Pelakunya

“Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka.” (QS. At-Taubah: 103)

Diriwayatkan dari Abu Hurairah h, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

“Sedekah (Zakat) itu tidak akan mengurangi harta benda.” [2]

  1. Sebab Datangnya Segala Kebaikan

Adapun meninggalkan kewajiban zakat akan menyebabkan terhalangnya kebaikan-kebaikan. Hal ini sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ:

“Dan tidaklah mereka meninggalkan kewajiban (membayar) zakat harta benda mereka melainkan hujan tidak akan diturunkan kepada mereka. kalau sekiranya bukan karena binatang ternak, niscaya mereka tidak akan diberi hujan (yakni mereka ditimpa kekeringan, pent).” [3]

  1. Mendapatkan Perlindungan dan Naungan Arsy Allah di Hari Kiamat

Diriwayatkan dari Abu Hurairah h, bahwa Nabi ﷺ bersabda:

“Ada tujuh golongan yang akan mendapatkan naungan dari Allah pada hari yang tidak ada naungan kecuali naungan-Nya, diantaranya yaitu: “Seseorang yang menyedekahkan hartanya dengan sembunyi-sembunyi sehingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diinfakkan oleh tangan kanannya.” [4]

Syarat Harta Benda Yang Wajib Dikeluarkan Zakatnya

Zakat merupakan ibadah yang mengandung nilai sosial yaitu dengan memberikan bantuan kepada yang membutuhkan.

Terdapat ketentuan hukum yang berkaitan dengan pelaksanaan zakat.

Zakat tidak wajib dikeluarkan kecuali jika telah terpenuhi syarat-syaratnya.

Syarat zakat itu sendiri terbagi menjadi dua.

Yang pertama berkaitan dengan orangnya, dan yang kedua berkaitan dengan harta benda itu sendiri.

Adapun syarat yang berkenaan dengan orang yang wajib mengeluarkannya adalah orang Islam yang merdeka (bukan budak/hamba sahaya).

Zakat hanya wajib bagi setiap muslim, dan tidak wajib bagi orang non-muslim.

Zakat juga tidak wajib bagi seorang hamba sahaya karena ia tidak memiliki harta benda.

Sebab harta apapun yang ada di tangan budak, maka sesungguhnya harta itu milik tuannya.

Jadi siapa mereka yang wajib mengeluarkan zakat?

Zakat diwajibkan kepada orang muslim yang baligh, merdeka, dan memilki akal sehat.

  1. Kepemilikan Penuh

Harta benda yang wajib dibayarkan zakatnya harus berupa harta milik penuh perorangan dan bukan milik hak orang lain.

Zakat juga tidak diambil dari harta yang haram seperti mencuri, pemalsuan, suap, riba, ihtikar (menimbun untuk memainkan harga), menipu dan lain sebagainya.

Sebab cara-cara ini tidak membuat seseorang menjadi pemilik harta yang sah dan harus mengembalikan kepada pemiliknya.

Apabila pemiliknya tidak lagi diketahui, harta tersebut wajib dikeluarkan untuk kepentingan secara umum tanpa mengharap pahala darinya.

Karena Allah ﷻ adalah Dzat yang Maha baik, sebagaimana Rasulullah ﷺ bersabda:

“Sesungguhnya Allah itu Maha Baik, dan tidak menerima kecuali yang baik-baik saja (dari amalan para hamba-Nya, pent).” [5]

Sedangkan piutang yang masih ada harapan untuk dikembalikan, maka pemilik harta harus mengeluarkan zakatnya setiap tahun. Namun jika tidak ada harapan kembali karena satu atau beberapa hal, maka pemilik piutang hanya berkewajiban mengeluarkan zakat pada saat hutang itu dikembalikan. Zakat seperti ini cukup dikeluarkan untuk satu tahun saja meskipun telah lewat beberapa tahun. [6]

  1. Termasuk Harta Yang Berkembang

Harta yang wajib dikeluarkan zakatnya harus berupa harta yang berkembang aktif dan memberi keuntungan atau manfaat kepada pemiliknya. Rasulullah ﷺ bersabda:

“Seorang muslim tidak wajib mengeluarkan zakat pada budak dan kudanya.” [7]

Budak/hamba sahaya dan kuda diperlukan untuk keperluan pribadi.

Maka berdasarkan hadits ini, beberapa ulama berpendapat bahwa rumah yang tinggali plus perabotannya dan kendaraan tidak wajib dikeluarkan zakatnya.

Sebab harta itu digunakan untuk kepentingan pribadi, bukan untuk dikembangkan.

Sebaliknya, rumah, ruko, warung, atau mobil yang disewakan masuk kategori wajib dikeluarkan zakatnya karena termasuk harta yang berkembang (jika telah memenuhi syarta-syarat lainnya)

  1. Telah Mencapai Nishab (Batas Minimal)

Nishab adalah batas minimal suatu harta wajib dikenai zakat.

Apabila kurang dari batas minimal tersebut, maka tidak wajib zakat.

Sebagai contoh, nishab onta adalah 5 ekor, kambing adalah 40 ekor, emas adalah 20 mitsqal (85 gram emas murni), perak adalah 200 Dirham (595 gram perak murni).

Sedangkan nishab zakat perdagangan adalah 85 gram emas murni. [8]

Maka jika seseorang memiliki onta kurang dari lima ekor onta, kambing kurang dari 40 ekor, atau memiliki emas dan barang dagangan yang nilainya kurang dari 85 gram emas murni atau perak yang kurang dari 595 gram perak murni, maka ia tidak wajib mengeluarkan zakat.

Hal ini berdasarkan sabda Nabi ﷺ:

“Tidak ada kewajiban zakat pada kurma (atau hasil pertanian, pent) yang kurang dari 5 wasaq (setara dengan 900 kg, pent). Tidak ada kewajiban zakat pada wariq/perak yang kurang dari 5 uqiyah (1 uqiyah berjumlah 40 dirham). Dan tidak ada kewajiban zakat pada onta yang kurang dari 5 ekor.” [9]

Ketentuan nishab di atas adalah syarat yang disepakati oleh mayoritas ulama sehingga orang yang memiliki harta kurang dari batas minimal yang ditentukan tidak termasuk dalam kategori orang kaya.

Dan kita ketahui bahwa zakat hanya diwajibkan atas orang kaya. Nabi ﷺ bersabda:

“… beritahukan kepada mereka bahwa Allah telah mewajibkan zakat yang diambil dari orang-orang kaya dan dibagikan kepada orang-orang fakir di antara mereka.” [10]

  1. Nishab Sudah Melebihi Kebutuhan Pokok Pemiliknya

Kebutuhan pokok adalah kebutuhan untuk tetap hidup dan jika tidak terpenuhi maka seseorang akan mengalami kesulitan, kebinasaan atau bahkan kematian.

Kebutuhan dasar itu mencakup kebutuhan pribadi dan yang menjadi tanggung jawabnya seperti isteri, anak, orang tua, kerabat yang dibiayai.

Nabi ﷺ bersabda: Contohnya adalah kebutuhan terhadap makanan, minuman, pakaian, tempat tinggal, alat kerja, atau kebutuhan untuk membayar hutang.

Jika ia memiliki harta yang dibutuhkan untuk keperluan ini, maka ia tidak wajib zakat. Seperti yang disebutkan dalam firman Allah ﷻ:

 “Dan mereka bertanya kepadamu apa yang mereka nafkahkan. Katakanlah: ‘Yang lebih dari keperluan.” (QS. Al-Baqarah: 219).

“Sebaik-baik sedekah (zakat) ialah yang dikeluarkan dari apa yang telah melebihi kebutuhan pokok.” [11]

Yang dimaksud lebih dari keperluan maksudnya adalah lebih dari kebutuhan keluarga, seperti yang ditafsirkan oleh Ibnu Abbas dan kebanyakan ulama tafsir. (Tafsir Ibnu Katsir pada ayat tersebut).

  1. Telah Mencapai Haul (Satu Tahun)

Harta yang dikenai zakat adalah harta telah melewati masa satu tahun atau 12 bulan hijriyah dan mencapai nishab yang telah disebutkan di atas.

Syarat ini berlaku bagi zakat uang, perdagangan dan hewan ternak.

Adapun untuk zakat hasil pertanian tidak ada syarat harus melewati masa haul satu tahun.

Sebab zakat dari hasil pertanian dikeluarkan pada setiap kali panen jika telah mencapai nishabnya sebagaimana Allah ﷻ berfirman:

 “Dan tunaikanlah haknya di hari memetik hasilnya (dengan disedekahkan kepada fakir miskin).” (QS. Al-An’am: 141)

Mereka Yang Berhak Menerima Zakat

Lalu siapa saja yang berhak menerima zakat. Apakah setiap orang berhak menerimanya?

Allah ﷻ menerangkan perkara ini di dalam Al Quran sebagaimana berikut.

“Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para mu’allaf yang dibujuk hatinya, budak (untuk memerdekakannya), orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan untuk mereka yuang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah, dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. (QS. At-Taubah: 60)

Ancaman Untuk Orang Yang Tidak Mau Membayar Zakat

Banyak sekali keterangan dari Al Quran dan hadits-hadits yang menunjukkan dengan jelas bahwa membayar zakat merupakan kewajiban seorang muslim.

Artinya jika sampai seorang muslim meninggalkannya karena mengingkari kewajibannya, para ulama telah sepakat  bahwa orang itu telah kafir (murtad), keluar dari agama Islam.

Sebab pada hakikatnya ia telah mendustakan Al-Qur’an dan As-Sunnah. [12] Dia harus bertaubat jika ingin kembali diakui lagi sebagai seorang muslim.

Jika dia enggan bertaubat, maka berdasarkan dalil-dalil syar’i boleh untuk diperangi.

Orang yang tidak mau membayar kewajiban zakat baik karena pelit atau membayarnya dibawah kadar kewajibannya maka ia telah berbuat zhalim.

Allah ﷻ mengancam orang-orang ini dengan ancaman yang sangat keras.

“…Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya pada jalan Allah, Maka beritahukanlah kepada mereka, (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih. Pada hari dipanaskan emas perak itu dalam neraka Jahannam, lalu dibakar dengannya dahi mereka, Lambung dan punggung mereka (lalu dikatakan) kepada mereka: “Inilah harta bendamu yang kamu simpan untuk dirimu sendiri, Maka rasakanlah sekarang (akibat dari) apa yang kamu simpan itu.” (QS. At-Taubah: 34-35)

Pemerintah muslim bahkan berhak mengambil secara paksa zakat dan juga separuh harta milik orang yang enggan membayar kewajibannya sebagai hukuman.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Pada onta yang digembalakan dari setiap 40 ekor, (zakatnya yang wajib dikeluarkan berupa) bintu labun (yakni Onta yang telah genap berumur dua tahun dan masuk tahun ke tiga, pent). Tidak boleh onta dipisahkan dari hitungannya. Barangsiapa mengeluarkan zakat untuk mencari pahala, maka dia mendapatkan pahalanya. Dan barangsiapa yang enggan membayarnya, maka sesungguhnya kami akan mengambil (zakat)nya dan separuh hartanya, sebagai kewajiban dari kewajiban-kewajiban Rabb kami. Dan tidak halal bagi keluarga Muhammad sesuatu pun dari zakat itu”. [13]

Allah ﷻ berfirman:

“Sekali-kali janganlah orang-orang yang bakhil (kikir) dengan harta yang Allah berikan kepada mereka dari karuniaNya menyangka bahwa kebakhilan itu baik bagi mereka. Sebenarnya kebakhilan itu adalah buruk bagi mereka. Harta yang mereka bakhilkan itu akan dikalungkan di lehernya kelak pada hari kiamat. Dan kepunyaan Allah-lah segala warisan (yang ada) di langit dan di bumi. Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Ali ‘Imran: 180)

  1. Menjadi Seekor Ular Jantan Beracun

Diriwayatkan dari Abu Hurairah h, ia berkata, Rasulullah ﷺ bersabda:

“Barang siapa yang diberi oleh Allah harta kemudian ia tidak membayar zakatnya, maka akan dijelmakan harta itu pada hari kiamat dalam bentuk ular yang kedua kelopak matanya menonjol. Ular itu melilitnya kemudian menggigit dengan dua rahangnya sambil berkata: “Aku adalah hartamu, aku adalah simpananmu”.

Lalu beliau membacakan firman Allah ﷻ di dalam QS. Ali ‘Imron: 180, yang artinya:

“Sekali-kali janganlah orang-orang yang bakhil dengan harta yang Allah berikan kepada mereka dari karunia-Nya menyangka, bahwa kebakhilan itu baik bagi mereka. Sebenarnya kebakhilan itu adalah buruk bagi mereka. Harta yang mereka bakhilkan itu akan dikalungkan kelak di lehernya di hari kiamat.” [14]

Di dalam riwayat lain, Rasulullah ﷺ bersabda:

“Tidaklah pemilik harta simpanan yang tidak melakukan haknya padanya (maksudnya tidak mengeluarkan zakatnya, pent), kecuali harta simpanannya akan datang pada hari kiamat sebagai seekor ular jantan aqra’ yang akan mengikutinya dengan membuka mulutnya. Jika ular itu mendatanginya, pemilik harta simpanan itu lari darinya. Lalu ular itu memanggilnya,“Ambillah harta simpananmu yang telah engkau sembunyikan! Aku tidak membutuhkannya.” Maka ketika pemilik harta itu melihat, bahwa dia tidak dapat menghindar darinya, dia memasukkan tangannya ke dalam mulut ular tersebut. Maka ular itu memakannya sebagaimana binatang jantan memakan makanannya.” [15]

  1. Menjadi Bahan Bakar Untuk Memanggang Pemiliknya

“Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya pada jalan Allah, maka beritahukanlah kepada mereka, (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih. Pada hari dipanaskan emas perak itu di dalam neraka Jahannam, lalu dibakarnya dahi mereka, lambung dan punggung mereka (lalu dikatakan) kepada mereka: “Inilah harta bendamu yang kamu simpan untuk dirimu sendiri, maka rasakanlah sekarang (akibat dari) apa yang kamu simpan.” (QS. At-Taubah: 34-35)

Di dalam hadits yang shahih, Rasulullah ﷺ bersabda:

“Tidaklah pemilik emas dan pemilik perak yang tidak menunaikan haknya (perak) darinya (yaitu zakat), kecuali jika telah terjadi hari kiamat (perak) dijadikan lempengan-lempengan di neraka, kemudian dipanaskan di dalam neraka Jahannam, lalu dibakarlah dahinya, lambungnya dan punggungnya. Tiap-tiap lempengan itu dingin, dikembalikan (dipanaskan di dalam Jahannam) untuk (menyiksa)nya. (Itu dilakukan pada hari kiamat), yang satu hari ukurannya 50 ribu tahun, sehingga diputuskan (hukuman) di antara seluruh hamba. Kemudian dia akan melihat (atau: akan diperlihatkan) jalannya, kemungkinan menuju surga, dan kemungkinan menuju neraka.” [16]

  1. Dihukumi Kafir Jika Menginkari Kewajibannya

Perintah zakat banyak terdapat di dalam Al Quran dan hadits hadits dari Rasulullah ﷺ.

Mengingkari membayar zakat berarti telah mendustakan Allah ﷻ dan Rasul-Nya ﷺ.

Orang yang mengingkarinya berarti telah murtad, keluar dari agama Islam.

Konsekuensinya sangat fatal, seperti halal darahnya, batal akad pernikahannya, tidak berhak mendapat jatah warisan dan tidak pula mewariskan.

Jika ia meninggal dunia dalam keadaan belum bertaubat maka jenazahnya tidak dimandikan, tidak disholatkan, dan tidak boleh dikubur di pekuburan kaum muslimin.

Apabila orang-orang yang mendustakan kewajiban memayar zakat dalam jumlah yang cukup banyak, maka pemerintah muslim berhak memerangi mereka, sebagaimana yang dilakukan oleh khalifah Abu bakar Ash-Shiddiq dan para sahabat. [17]

Sedangkan orang yang tidak mau membayar zakat karena pelit namun masih meyakini kewajibannya…

…maka ia dihukumi sebagai orang muslim yang fasiq karena telah berbuat dosa besar, dan tidak sampai dihukumi sebagai orang kafir.

 

[1] HR. Bukhari no.8 dan Muslim no. 16

[2] HR. Muslim IV/2001 no.2588

[3] HR. Ibnu Majah II/1332 no.4019, dan di-shahih-kan oleh syaikh Al-Albani dalam Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah no.105

[4] HR. Bukhari I/234 no.629, dan Muslim II/715 no.1031

[5] HR. Muslim II/703 no.1015

[6] Lihat Dalil Al-Irsyaadaat Li Hisab Zakati Asy-Syarikaat, hal. 24

[7] HR. Bukhari II/532 no.1395, dan Muslim II/675 no.982

[8] Al-Irsyaadaat Li Hisab Zakati Asy-Syarikaat, hal. 24-25

[9] HR. Bukhari II/529 no. 1390, dan Muslim II/675 no. 980

[10] HR.Bukhari II/505 no.1331, dan Muslim I/50 no. 19, dari Ibnu Abbas

[11] HR. Bukhari II/518 no. 1360, dan Muslim II/717 no.1034

[12] Al-Mughni, karya Ibnu Qudamah II/572, dan Al-Majmu’ karya imam An-Nawawi V/334

[13] HR An-Nasai V/25 no. 2448, Ahmad V/2 no. 20030; di-hasan-kan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ Ash-Shaghir no. 4265

[14] HR. Bukhari II/508 no.1338

[15] HR Muslim II/684 no. 988

[16] HR Muslim II/680 no. 987, dari Abu Hurairah.

[17] HR. Bukhari II/507 no. 1335

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *