Bagaimana Status Anak di Luar Nikah?

By | December 16, 2015

“Barangsiapa menggauli wanita dengan keadaan yang dia yakini pernikahan itu sah, maka nasab (anak) diikutkan kepadanya,

…dan dengannya berkaitanlah masalah mushaharah (kekerabatan) dengan kesepakatan ulama sesuai yang kami ketahui.

Meskipun pada hakikatnya pernikahan itu batil (tidak teranggap) di hadapan Allah dan RasulNya,

…dan begitu juga setiap hubungan badan yang dia yakini tidak haram padahal sebenarnya haram, (maka nasabnya tetap diikutkan kepadanya)”.  (Majmu’ Al Fatawa Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, 32/66-67)

Hukum asalnya adalah seorang anak dinasabkan kepada ayahnya.

Tapi jika anak itu hasil zina, makan nasabnya dijatuhkan kepada ibunya.

Hal ini didasari oleh hadits riwayat Bukhari dan Muslim berikut ini.

“Anak dinasabkan kepada pemilik ranjang. Sedangkan laki-laki yang menzinai hanya akan mendapatkan kerugian.” (HR. Bukhari no. 6749 dan Muslim no. 1457.)

Pemilik ranjang di sini adalah wanita yang dizinahi.

Inilah mayoritas pendapat ulama.

Yaitu anak hasil zina dinasabkan kepada ibunya dan keluarga ibunya.

Apabila pria yang menikahi tersebut ingin menikahinya setelah bayinya terlahir ke dunia.

Anak hasil zina tersebut tetap dinasabkan kepada ibunya.

Dan anak itu statusnya adalah anak tiri bagi ayah biologisnya sendiri.

Artinya, anak tersebut akan selalu tidak berbapak.

Hal ini juga berlaku untuk hukum waris.

Jika anak tersebut perempuan, maka ayah kandungya yang telah berzina tersebut – meskipun telah menikahi ibunya – tidak boleh menjadi walinya.

Walinya adalah wali hakim sebab anak perempuan tersebut tidak memiliki wali.

Lihatlah akibat zina.

Nasab seseorang menjadi rusak karenanya.

Di antara balasan kebaikan adalah kebaikan selanjutnya dan di antara balasan kejelekan adalah kejelekan selanjutnya.

Semoga Allah memberikan kita dan semua keturunan kita kekuatan untuk menjauhi zina dan perbuatan maksiat lainnya.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *