Bersyukur dan Qanaah

By | November 26, 2015

Cerita fiktif yang akan kita baca di bawah ini sering terjadi dalam kehidupan kita. Meskipun hanya cerita rekaan, semoga pelajaran yang terdapat di dalamnya dapat memberikan renungan berharga untuk kita semua.

Pada suatu ketika, seorang pemilik toko kelontong mengamati suasana di sekitar tokonya. Ia sangat terkejut melihat seekor kucing datang ke samping tokonya. Ia mengusir kucing itu, tetapi kucing itu kerap kembali lagi.

Maka, ia menghampiri kucing itu dan betapa terkejutnya ia ketika melihat ada suatu catatan di mulutnya. Ia mengambil catatan itu dan membacanya, “Tolong sediakan 1/2 kg beras dan dua ekor ayam kampung. Uangnya ada di mulut kucing ini.”

Si penjual toko melihat ke mulut kucing itu dan ternyata ada uang sebesar Rp100.000,00 di sana. Segera ia ambil uang itu, kemudian ia memasukkan 1/2 kg beras dan dua ekor ayam kampung ke dalam kantong plastik dan diletakkan kembali di mulut kucing itu. Si penjual toko sangat terkesan.

Kebetulan pada waktu itu adalah waktu tutup tokonya, maka sang pemilik toko menutup tokonya dan berjalan mengikuti si kucing.

Kucing tersebut berjalan menyusuri jalan dan sampai ke tempat penyeberangan jalan. Kucing itu meletakkan kantong plastiknya, melompat, dan menekan tombol penyeberangan, kemudian menunggu dengan sabar sambil mengambil kembali kantong plastik dengan mulutnya, sampai lampu penyeberangan berwarna hijau. Setelah lampu menjadi hijau, kucing itupun menyeberang, sementara si penjual toko terus mengikutinya.

Kucing tersebut kemudian sampai di perhentian bus dan mulai melihat nomor bus yang akan membawanya pulang…

Si penjual toko terkagum-kagum melihatnya. Si kucing menunggu bus yang tepat. Sebuah bus datang, si kucing menghampirinya, melihat nomor bus, kemudian kembali ke tempat duduknya.

Bus lain datang. Sekali lagi bus lainnya datang. Sekali lagi si kucing menghampiri dan melihat nomor busnya. Setelah melihat bahwa bus tersebut adalah bus yang benar, si kucing akhirnya menaikinya. Si penjual toko dengan kekagumannya mengikuti kucing itu dan menaiki bus tersebut.

Bus berjalan meninggalkan kota menuju ke pinggiran kota. Si kucing melihat pemandangan sekitar. Akhirnya ia bangun dan bergerak ke depan bus. Ia berdiri dengan dua kakinya dan menekan tombol agar bus berhenti. Kemudian ia keluar dengan kantong plastik masih tergantung di mulutnya.

Kucing tersebut berjalan menyusuri jalan sambil diikuti si penjual toko. 

Si kucing berhenti di depan sebuah rumah. Kemudian ia berjalan menyusuri jalan kecil dan meletakkan kantong plastik di atas salah satu anak tangga. Kemudian, ia mundur, berlari kencang, dan membenturkan dirinya ke pintu. Selalu seperti itu berkali-kali. Mundur dan kembali membenturkan dirinya ke pintu rumah tersebut.

Tidak ada jawaban dari dalam rumah. Akhirnya si kucing kembali melalui jalan kecil, melompati tembok kecil, dan berjalan sepanjang batas kebun tersebut. Ia menghampiri jendela dan membenturkan kepalanya beberapa kali, berjalan mundur, melompat balik, dan menunggu di pintu.

Si penjual toko melihat seorang pria tinggi besar membuka pintu dan mulai menyiksa kucing tersebut, menendangnya, memukulinya, serta menyumpahinya.

Si penjual toko berlari untuk menghentikan pria tersebut, “Apa yang kau lakukan? Kucing ini adalah kucing yang jenius. Ia dapat masuk televisi untuk kejeniusannya.” 

Pria itu menjawab, “Apa kau bilang? Kau katakan kucing ini pintar? Dalam satu minggu ini, sudah dua kali kucing bodoh ini lupa membawa kuncinya. Dan kau bilang, kucing ini adalah kucing yang pintar?”

***

Seringkali kita tidak bersyukur dengan nikmat yang telah Allah berikan kepada kita. Nikmat hidup, sehat, rezeki, anak, kendaraan, pendidikan, dan lain sebagainya. Dan yang utama dari semua nikmat itu adalah nikmat iman. Karena hanya dengan mengimani Allah Swt., semua amal dan perbuatan kita kelak akan ditimbang dan Allah akan memberikan ganjaran setimpal atasnya. Tanpa adanya iman di dalam hati kita, semua hanya akan menjadi debu, terbang lalu menghilang sia-sia.

“Kami berikan balasan kepada mereka atas amal yang mereka lakukan. Kami jadikan amal orang-orang kafir sia-sia bagaikan debu yang beterbangan.” (Q.S. Al-Furqan: 23)

“Orang-orang kafir itu semua amal mereka sia-sia. Semua yang mereka lakukan laksana fatamorgana di sebuah lembah. Orang-orang yang kehausan menyangka bahwa fatamorgana itu  adalah air. Ketika mereka mendekati tempat itu, mereka  tidak mendapatkan air sedikitpun  . . .” (Q.S. An-Nur: 39)

“Usaha-usaha orang yang  kafir kepada Tuhan mereka sia-sia laksana debu yang ditiup angin keras pada hari yang panas. Mereka tidak memperoleh manfaat sedikitpun dari hasil usaha mereka di dunia. Orang-orang kafir itu telah amat jauh sesatnya.” (Q.S. Ibrahim: 18)

Bersyukur merupakan salah satu kunci ditambahkannya rezeki seorang hamba. Syukur juga merupakan manifestasi rasa cinta dan ketaatan kepada Allah Swt. melalui pujian dan pengakuan kehambaan kita kepada-Nya.

Imam Qurthubi menjelaskan bahwa hakikat syukur adalah mengakui nikmat tersebut dari Dzat Yang Maha Memberi nikmat dan tidak mempergunakannya selain untuk ketaatan kepada-Nya.

“Kalau seandainya kalian bersyukur, sungguh-sungguh Kami akan menambah untuk kalian (nikmat-Ku) dan jika kalian mengingkarinya, sesungguhnya adzab-Ku sangat keras.” (Q.S. Ibrahim: 7)

Setiap orang beriman wajib berusaha dengan sungguh-sungguh untuk mencari rezeki. Meskipun demikian, tidak boleh menyandarkan diri pada kerja-kerasnya semata sebagai sumber kesuksesannya. Kita harus meyakini bahwa segala sesuatu sejatinya adalah milik Allah Swt.

Dan bila engkau ditimpa sesuatu, maka janganlah engkau berkata, ‘Seandainya aku berbuat demikian, demikian, niscaya akan terjadi demikian dan demikian.’ Akan tetapi, katakanlah, ‘Allah telah menakdirkan dan apa yang Ia kehendakilah yang akan Ia lakukan, karena ucapan “seandainya” akan membukakan (pintu) godaan setan.”(H.R. Muslim)

Oleh karena itu, alangkah sempitnya dunia ini jika kita terus-menerus mengeluh.

“Jikalau anak Adam mempunyai dua lembah dari harta pasti menginginkan yang ketiga, padahal tidaklah mengisi mulut anak Adam melainkan tanah dan Allah akan memberikan taubat atas orang yang bertaubat”. (H.R. Bukhari)

Manusia harus belajar mensyukuri nikmat yang telah Allah berikan. Untuk itu, diperlukan sifat qanaah. Qanaah adalah sifat selalu merasa cukup atas apa yang telah Allah berikan. Ini merupakan sifat orang-orang yang telah Allah berikan kebaikan dalam hatinya. Sifat ini akan menghindarkan kita dari ketamakan, keserakahan, keegoisan, dan hawa nafsu atas segala hal berbau duniawi yang semu.

Sifat qanaah juga bisa mencegah seseorang menjadi peminta-minta. Ia sudah merasa puas dengan apa yang dimilikinya. Sikap ini akan menghasilkan kesederhanaan dalam setiap sendi kehidupan seorang muslim. Meskipun demikian, bukan berarti qanaah harus diartikan secara sempit, yaitu berhenti berusaha karena semata-mata merasa sudah cukup. Ikhtiar dan usaha adalah kewajiban, tetapi jangan sampai kecintaan kepada harta melekat erat di dada. Kita harus mampu menerima dan ridha serta puas terhadap rezeki yang dikaruniakan Allah Swt.

 “Ya Allah, jadikanlah aku merasa qanaah (merasa cukup, puas, rela) terhadap apa yang telah Engkau rizkikan kepadaku, dan berikanlah berkah kepadaku di dalamnya dan gantikanlah bagiku semua yang hilang dariku dengan yang lebih baik.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *