Bolehkah Menikahi Gadis Yang Telah Dizinahi Hingga Hamil?

By | December 17, 2015

“Dan orang-orang yang tidak menyembah tuhan yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina, barang siapa yang melakukan yang demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa(nya).” (QS. Al Furqon: 68).

Perzinaan telah merebak merajalela.

Kota-kota besar bukanlah satu-satunya tempat dimana zina menjamur.

Di desa dan kampung-kampung tidak kalah bahaya.

Masyarakat seolah semakin permissif dengan hal ini.

Alhasil, gadis-gadis beliau sudah berbadan dua sebelum naik ke pelaminan.

“Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk.” (QS. Al Isro’: 32)

Seseorang pernah bertanya kepada Rasulullah Saw,

“Wahai Rasulullah, dosa apa yang paling besar di sisi Allah?

Beliau bersabda, “Engkau menjadikan bagi Allah tandingan, padahal Dia-lah yang menciptakanmu.”

Kemudian ia bertanya lagi, “Terus apa lagi?”

Beliau bersabda, “Engkau membunuh anakmu yang dia makan bersamamu.”

Kemudian ia bertanya lagi, “Terus apa lagi?” Beliau bersabda,

“Kemudian engkau berzina dengan istri tetanggamu.”

Hadits di atas menujukkan besarnya dosa berzina.

Terutama berzina dengan istri tetangga sendiri.

Di dalam hadits riwayat Abu Daud dan Tirmidzi disebutkan

“Jika seseorang itu berzina, maka iman itu keluar dari dirinya seakan-akan dirinya sedang diliputi oleh gumpalan awan (di atas kepalanya)…

…Jika dia lepas dari zina, maka iman itu akan kembali padanya.” (HR. Abu Daud no. 4690 dan Tirmidzi no. 2625)

Lalu bagaimana jika sudah terlanjur berzina dan kehamilan tak terelakkan lagi.

Bolehkah laki-laki pezina menikahi gadis yang dizinahi sebagai bentuk tanggung jawabnya?

Tentang hukum menikahi wanita hamil yang telah dizinahi, para ulama memiliki perbedaan pendapat.

Sebagian membolehkan dan sebagian lain melarangnya seperti Imam Ahmad.

Beliau bersandar pada firman Allah di dalam Al Quran.

“Laki-laki yang berzina tidak mengawini melainkan perempuan yang berzina, atau perempuan yang musyrik;

…dan perempuan yang berzina tidak dikawini melainkan oleh laki-laki yang berzina atau laki-laki musyrik,

…dan yang demikian itu diharamkan atas oran-orang yang mukmin.” (QS. An Nur: 3)

Jika mereka masih ingin menikah juga, syaratnya ada dua:

Pertama: Keduanya bertaubat nasuha kepada Allah

Kedua: Mengosongkan rahim (istibro’)

Mengosongkan rahim maksudnya adalah menunggu sampai melahirkan anak.

Jadi, seorang laki-laki yang menzinahi wanita hingga hamil tidak boleh menikahinya sampai si bayi terlahir ke dunia.

Jika tidak, haram hukumnya menikahi sang wanita meskipun dengan alasan untuk menutupi aib akibat hamil di luar nikah.

Apabila nekad menikah juga, maka nikahnya tidak sah dan hubungan intim keduanya disamakan dengan berzina.

Ironis sekali melihat banyak orang tua yang karena takut anaknya dicap buruk oleh masyarakat tega menikahkan anaknya yang sudah hamil.

Banyak yang memang tidak tahu hukumnya atau yang pura-pura tidak tahu.

Jika pernikahan tetap dilakukan dan keduanya terus berumah tangga hingga melahirkan anak kedua ketiga dan seterusnya.

Maka keduanya – sang pria dan wanita yang berzina tersebut – sama saja dengan berzina.

Mereka harus bertaubat dan pernikahannya harus diulang kembali.

“Di antara balasan kebaikan adalah kebaikan selanjutnya dan di antara balasan kejelekan adalah kejelekan selanjutnya.”

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *