Cerita Nabi Musa Menuntut Ilmu

By | October 19, 2015

Cerita Nabi Musa berikut ini memberikan banyak sekali pelajaran berharga tentang arti kerendahan hati, kesabaran, dan determinasi tinggi untuk mempelajari ilmu agama.

Barangsiapa yang menempuh perjalanan untuk mencari ilmu, maka akan Allah mudahkan jalannya menuju surga.” (HR. Muslim)

Salah satu amal khusus pada hari Jum’at adalah membaca surat Al-Kahfi. Dari Abu Sa’id al-Khudri, dari Nabi Rasulullah Saw bersabda,

Barangsiapa membaca surat Al-Kahfi di hari Jum’at, maka akan dipancarkan cahaya untuknya di antara dua Jum’at.” (HR. Al-Hakim: 2/368 dan Al-Baihaqi: 3/249)

 

Cerita Nabi Musa Menuntut Imu

Di dalam surah Al Kahfi, terdapat satu pelajaran penting dari kisah Nabi Musa dalam mencari ilmu. Rasulullah Saw mengatakan, “Pada suatu ketika, Musa berbicara di hadapan Bani Israil, kemudian ada seseorang yang bertanya, ‘Siapakah orang yang paling pandai?’ Musa menjawab, ‘Aku.’”

Allah Swt menegur ucapaan Nabi Musa tersebut karena tidak mengembalikan pengetahuan suatu ilmu kepada pemiliki alam semesta.

Kemudian Allah mewahyukan kepada Musa, ‘Sesungguhnya Aku memiliki seorang hamba yang berada di pertemuan antara dua laut, hamba-Ku itu lebih pandai daripada kamu!’

Musa kemudian bertanya, ‘Ya Rabbi, bagaimana caranya agar aku bisa bertemu dengannya?’ Maka dijawab, “Bawalah seekor ikan yang kamu masukkan ke dalam suatu tempat, di mana ikan itu menghilang maka di situlah hamba-Ku itu berada!’

Setelah mendapatkan instruksi tersebut, Musa pun akhirnya pergi ditemani seorang pelayan bernama Yusya’ bin Nun. Keduanya membawa ikan tersebut di dalam suatu tempat hingga keduanya tiba di sebuah batu besar. Mereka membaringkan tubuhnya sejenak lalu tertidur.

Tiba-tiba ikan itu melompat mengambil jalannya ke laut tanpa diketahui Musa dan pelayannya.

Lalu keduanya terus menyusuri dari siang hingga Musa berkata kepada pelayannya,

“Bawalah ke mari makanan kita. Sesungguhnya kita telah merasa letih karena perjalanan kita ini. (QS. Al-Kahfi: 62)

Ketika Musa menanyakan bekal untuk makan, Yusya baru teringat pada si ikan dan berkata “Tidaklah yang melupakanku untuk mengabarkannya padamu kecuali setan”.

Musa pun langsung mengetahui itu adalah sebuah tanda dan berkata,

“Itulah tempat yang kita cari, lalu keduanya kembali mengikuti jejak mereka semula. (QS. Al-Kahfi: 64)

Keduanya pun balik ke arah tempat mereka beristirahat sehingga akhirnya berhasil menemui Khidir. Musa kemudian memberi salam kepadanya.

Khidir lalu bertanya, ‘Berasal dari manakah salam yang engkau ucapkan tadi?’ Musa menjawab, ‘Aku adalah Musa.’ Khidir bertanya, ‘Musa yang dari Bani Israil?’ Musa menjawab, ‘Benar!’

“Bolehkah aku mengikutimu supaya kamu mengajarkan kepadaku ilmu yang benar di antara ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu?’ Dia menjawab, “Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sanggup sabar bersamaku.” (QS. Al-Kahfi: 66–67)

Musa tidak langsung patah semangat dan justru berkata,

“Insya Allah, kamu akan mendapati aku sebagai seorang yang sabar dan aku tidak akan menentangmu dalam suatu urusan pun. (QS. Al-Kahfi: 69)

Melihat kesungguhan Musa, Khidir pun akhirnya mengizinkan Musa untuk mengikutinya. Tapi, dengan satu syarat, “Jika kau mengikutiku, jangan menanyakan suatu apa pun padaku sampai aku yang menerangkannya padamu,” kata Khidir kepada Musa.

Terdapat beberapa hikmah berharga dari kisah perjalanan Nabi Musa menemui Khidir untuk menuntut ilmu. Berikut ini adalah beberapa diantaranya:

 

[1] Tidak boleh sombong dan meresa paling pintar

Karena di tempat lain, masih ada orang yang lebih pintar dan lebih alim meskipun hal itu adalah seorang Nabi Musa yang mampu bercakap-cakap langsung dengan Allah Swt.

 

[2] Pentingnya kesungguh-sungguhan dalam menuntut ilmu

“Dan (ingatkanlah peristiwa) ketika Nabi Musa berkata kepada temannya: “Aku tidak akan berhenti berjalan sehingga aku sampai di tempat pertemuan dua laut itu atau aku berjalan terus bertahun-tahun.” (QS. Al-Kahfi: 60)

Ketika Nabi Musa mengetahui ada orang lain yang lebih berilmu darinya, ia begitu antusias untuk menemuinya. Nabi Musa berjalan dan berpergian jauh untuk berguru kepada orang tersebut.

Tempat yang ditujupun belum diketahuinya, hanya bermodalkan ikan dalam keranjang sebagai penunjuk arah.

Sebagai penuntut ilmu, kita harus memiliki kesungguhan seperti yang ditunjukkan Nabi Musa, ia tidak akan berhenti sampai benar-benar menemui Khidir.

 

[3] Perlunya seorang teman dalam mencari ilmu

Maka tatkala mereka berjalan lebih jauh, berkatalah Musa kepada pelayannya: “Bawalah ke mari makanan kita; sesungguhnya kita telah merasa letih karena perjalanan kita ini. (QS. Al Kahfi: 62)

Menurut satu riwayat Bukhari dari Sufyan Bin Uyaynah, pelayan itu adalah pemuda terkenal yang kelak akan meneruskan tugas Nabi Musa, yaitu Yusya’ bin Nun.

Teman seperjuangan akan mempermudah seseorang dalam menentut ilmu, saling tolong menolong dan melengkapi satu sama lain.

 

[4] Syaithan akan menghalangi langkah penuntut ilmu

“Pelayannya menjawab: Tahukah engkau ketika kita mecari tempat berlindung di batu tadi, maka aku lupa (menceritakan tentang) ikan itu dan tidak ada yang membuat aku lupa untuk mengingatnya kecuali setan, dan (ikan) itu mengambil jalannya ke laut dengan cara yang aneh sekali.” (QS. Al-Kahfi: 63)

 

[5] Seorang murid harus berperilaku sopan terhadap gurunya

Musa berkata kepada Khidir: Bolehkah aku mengikutimu supaya kamu mengajarkan kepadaku ilmu yang benar di antara ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu?” (QS. Al Kahfi: 66)

Cerita Nabi Musa ini mengajarkan kepada kita semua bahwa seorang pencari ilmu harus bertanya dengan penuh sopan santun. Nabi Musa menanyakan pertanyaannya dengan cara yang santun, beginilah seharusnya seseorang bertanya kepada gurunya.

 

[6] Guru juga harus memiliki sikap yang bijaksana terhadap muridnya

“Dia (Khidir) menjawab: Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sanggup sabar bersamaku. Dan bagaimana kamu dapat sabar atas sesuatu, yang kamu belum mempunyai pengetahuan yang cukup tentang hal itu?” (QS. Al Kahfi 67-68)

Seorang guru mengetahui muridnya; Khidir mengetahui karakter Nabi Musa dengan baik meskipun baru pertama kali bertemu.

Oleh karena itu, ia mengingatkan Nabi Musa dari semenjak awal pertemuan mereka.

Salah satu etiket lain dari seorang guru adalah berbicara kepada kepada muridnya sesuai dengan level kemampuannya.

Khidir mengatakan bahwa ia memiliki hikmah dari ilmu Allah Swt yang Musa belum pahami, tapi ia tidak menghinakannya.

 

[7] Sabar dan patuh

“Musa berkata: Insya Allah kamu akan mendapati aku sebagai seorang yang sabar, dan aku tidak akan menentangmu dalam sesuatu urusanpun”. Dia (Khidir) berkata: Jika kamu mengikutiku, maka janganlah kamu menanyakan kepadaku tentang sesuatu apa pun, sampai aku sendiri menerangkannya kepadamu.” (QS. Al Kahfi 69-70)

Nabi Musa berusaha meyakinkan Khidir dan berusaha untuk bersabar. Tergesa-gesa adalah masalah besar bagi seorang pencari ilmu. Selain itu, seorang murid juga harus patuh kepada gurunya.

Seorang guru ibarat orang tua, murid harus mematuhi segala peraturan dan arahan yang diberikan gurunya. Karena ia tentunya memiliki pengalaman dan kebikjasanaan.

Demikianlah cerita nabi musa dalam menuntut ilmu. Semoga bermanfaat…

 

Salam

 

Sulaymane Idris

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *