Empat Sumber Fiqih Islam

By | December 8, 2015

Semua hukum yang terdapat dalam fiqih Islam kembali kepada empat sumber:

1. Al Qur’an

Al Qur’an adalah kalamullah yang diturunkan kepada Nabi kita Muhammad untuk menyelamatkan manusia dari kegelapan menuju cahaya yang terang benderang. Ia adalah sumber pertama bagi hukum-hukum fiqih Islam. Jika kita menjumpai suatu permasalahan, maka pertamakali kita harus kembali kepada Kitab Allah guna mencari hukumnya.

Sebagai contoh:

a. Bila kita ditanya tentang hukum khamer (miras), judi, pengagungan terhadap bebatuan dan mengundi nasib, maka jika kita merujuk kepada Al Qur’an niscaya kita akan mendapatkannya dalam firman Allah , (QS. Al maidah: 90)

b. Bila kita ditanya tentang masalah jual beli dan riba, maka kita dapatkan hukum hal tersebut dalam Kitab Allah (QS. Al baqarah: 275). Dan masih banyak contohcontoh yang lain yang tidak memungkinkan untuk di perinci satu persatu.

2. As Sunnah

As-Sunnah yaitu semua yang bersumber dari Nabi Saw berupa perkataan, perbuatan atau persetujuan. 

Contoh perkataan: sabda Nabi : “Mencela sesama muslim adalah kefasikan dan membunuhnya adalah kekufuran” (HR. Bukhari no.46,48; Muslim no. 64,97; Tirmidzi no.1906,2558; Nasa’i no.4036, 4037; Ibnu Majah no.68; Ahmad no.3465,3708.) 

Contoh perbuatan: apa yang diriwayatkan oleh Bukhari bahwa ‘Aisyah pernah ditanya, “Apa yang biasa dilakukan Rasulullah  Saw di rumahnya?” Aisyah menjawab, “Beliau membantu keluarganya, kemudian bila datang waktu shalat, beliau keluar untuk menunaikannya.” (HR. Bukhari no.635, juga diriwayatkan oleh Tirmidzi no.3413, dan Ahmad no.23093,23800,34528)

Contoh persetujuan: apa yang diriwayatkan oleh Abu Dawud bahwa Nabi  Saw pernah melihat seseorang shalat dua rakaat setelah shalat subuh, maka Nabi  berkata kepadanya: “Shalat subuh itu dua rakaat” orang tersebut menjawab, “sesungguhnya saya belum shalat sunat dua rakaat sebelum subuh, maka saya kerjakan sekarang.” Lalu Nabi saw terdiam” (Hadits no.1267)

Maka diamnya beliau berarti menyetujui dilaksanakannya shalat sunat qabliah subuh tersebut setelah shalat subuh, bagi yang belum menunaikannya.

As-Sunnah adalah sumber kedua setelah al Qur’an.

Bila kita tidak mendapatkan hukum dari suatu permasalahan dalam al Qur’an, maka kita merujuk kepada asSunnah, dan wajib mengamalkannya jika kita mendapatkan hukum tersebut.

Dengan syarat, benar-benar bersumber dari Nabi  dengan sanad yang sahih.

As Sunnah berfungsi sebagai penjelas al Qur’an dari apa yang bersifat gelobal dan umum.

Seperti perintah shalat; maka bagaimana tatacaranya didapati dalam as Sunnah.

Oleh karena itu Nabi  bersabda: “Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku shalat” (HR.  Bukhari no.595)

Sebagaimana pula as-Sunnah menetapkan sebagian hukumhukum yang tidak dijelaskan dalam Al Qur’an.

Seperti pengharaman memakai cincin emas dan kain sutra bagi laki-laki.

3. Ijma’

Ijma’ bermakna: Kesepakatan seluruh ulama mujtahid dari umat Muhammad , dari suatu generasi atas suatu hukum syar’i.

Jika sudah bersepakat ulama-ulama tersebut — baik pada generasi sahabat atau sesudahnya— akan suatu hukum syari’at maka kesepakatan mereka adalah ijma’, dan beramal dengan apa yang telah menjadi suatu ijma’ hukumnya wajib.

Dan dalil akan hal tersebut, sebagaimana yang dikabarkan Nabi , bahwa tidaklah umat ini akan berkumpul (bersepakat) dalam kesesatan, dan apa yang telah menjadi kesepakatan adalah hak (benar).

Dari Abu Bashrah bahwa Nabi  bersabda:

“Sesungguhnya Allah tidaklah menjadikan ummatku atau ummat Muhammad berkumpul (besepakat) di atas kesesatan” (HR. Tirmidzi no.2093, Ahmad 6/396)

Contohnya, ijma’ para sahabat, bahwa kakek mendapatkan bagian 1/6 dari harta warisan bersama anak lakilaki, apabila tidak terdapat bapak. Ijma’ merupakan sumber rujukan ketiga.

Jika kita tidak mendapatkan didalam Al Qur’an dan demikian pula as Sunnah, maka untuk hal yang seperti ini kita melihat, apakah hal tersebut telah disepakatai oleh para ulama muslimin, apabila sudah, maka wajib bagi kita mengambilnya dan beramal dengannya.

4. Qiyas

Yaitu mencocokkan perkara yang tidak didapatkan didalamnya hukum syar’i dengan perkara lain yang memiliki nas yang sehukum dengannya, dikarenakan persamaan sebab/ alasan antara keduanya.

Pada qiyas inilah kita meruju’ apabila kita tidak mendapatkan nas dalam suatu hukum dari suatu permasalahan, baik di dalam Al Qur’an, as Sunnah maupun ijma’.

Ia merupakan sumber rujukan keempat setelah Al Qur’an, as Sunnah dan Ijma’. 

Rukun Qiyas Qiyas memiliki empat rukun:

  1. Dasar (dalil)
  2. Masalah yang akan diqiyas-kan
  3. Hukum yang terdapat pada dalil
  4. Kesamaan sebab/alasan antara dalil dan masalah yang diqiyaskan.

Contohnya, Allah mengharamkan khamer dengan dalil Al Qur’an, sebab atau alasan pengharamannya adalah karena ia memabukkan, dan menghilangkan kesadaran.

Jika kita menemukan minuman memabukkan lain dengan nama yang berbeda selain khamer, maka kita menghukuminya dengan haram, sebagai hasil Qiyas dari khamer.

Karena, sebab atau alasan pengharaman khamer –yaitu “mema-bukkan”– terdapat pada minuman tersebut, sehingga ia menjadi haram sebagaimana pula khamer.

Inilah sumber-sumber yang menjadi rujukan syari’at dalam perkara-perkara fiqih Islam, kami sebutkan semoga mendapat manfaat, adapun lebih lengkapnya dapat dilihat di dalam kitab-kitab Usul Fiqh Islam. (Fiqhul Manhaj, ‘ala Manhaj Imam Syafi’i)

 

(Sumber: Majalah Fatawa Vol. 01/ I / Ramadhan 1423 H)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *