Fakta Tentang Uang Yang Harus Anda Sadari

By | December 15, 2015

Kita seringkali membeli sesuatu yang tidak kita butuhkan dengan uang yang tidak kita miliki –berhutang, pinjam kesana kemari, bahkan sampai ada yang mencuri terang-terangan atau korupsi sembunyi-sembunyi.

Hal ini ironisnya dilakukakan hanya untuk membuat kagum orang-orang yang tidak kita sukai.

Uang tidak memiliki nilai intrinsik, tapi mengapa banyak orang di seluruh dunia tega menghancurkan kesehatan, keluarga, bahkan sampai menjual agama mereka hanya untuk mendapatkannya?

Jutaan manusia hidup terjebak dalam hutang dan mendekam dalam jeruji besi imajinasinya sendiri.

Budak sekalipun memiliki kebebasan yang lebih besar daripada penyembah uang.

Mengapa orang-orang mengorbankan diri bahkan nyawa hanya untuk uang?

Apakah alasan klise yang selalu mengatasnamakan kehidupan yang lebih baik bagi keluarga dan anak-anak dapat diterima akal sehat?

Apakah ini karakteristik bangsa yang sudah maju atau kita -manusia modern- yang justru hidup semakin primitif?

Uang memang telah lama menjadi alat kontrol sosial.

Uang adalah sebuah kendaraan yang super efektif untuk mengendalikan manusia.

Hutang membuat ekonomi terus berjalan, menciptakan karyawan yang loyal dan warga masyarakat yang patuh.

Setidaknya patuh terhadap atasan dan bos di kantor, mereka takut dipecat karena hutang rumahnya baru lunas 20 tahun lagi.

Hutang juga membuat roda perekonomian terus berputar.

Dengan hutang, orang-orang bisa berbelanja menggunakan kartu ajaib tanpa memiliki uang sepersenpun.

Orang bisa membeli handphone mewah dengan berhutang meskipun gaji per bulannya tidak sampai setengah harga gadget tersebut.

Banyak pabrik tidak jadi gulung tikar karena barang yang mereka produksi akhirnya ada yang beli, karyawanpun senang tidak jadi dipecat.

Aturan jam kerja yang kita gunakan sekarang bermula pada tahun 1908 di penggilingan pabrik katun New England, Amerika Serikat.

Ketika itu, peraturan libur hari sabtu diterapkan guna memfasilitasi orang-orang Yahudi untuk dapat melakukan ibadah Sabbath.

Dengan dikeluarkannya Undang-Undang Tenaga Kerja tahun (The Fair Labor Standards Act) pada tahun 1938, ditetapkan jam kerja seminggu menjadi lima hari, total 40 jam senin-jum’at diterapkan ke seluruh Amerika.

Menurut data American Community Survey 2013, rata-rata orang Amerika menghabiskan perjalanan kerja 52 menit untuk pulang pergi ke tempat kerja.

Di Indonesia, angkanya tidak jauh berbeda, apalagi jika memperhitungkan kemacetan di kota besar seperti Jakarta.

Apabila ditambah dengan waktu untuk istirahat, makan siang, dan lembur, seorang pekerja bisa menghabiskan 11-12 jam bekerja dalam satu hari. Jika Anda memiliki anak kecil, tambahkan beberapa jam lagi untuk bermain-main bersama mereka.

Bisakah seorang manusia melakukan semuanya tugas dan tanggung jawabnya dengan waktu yang terbatas?

Ketika semuanya berhasil Anda kerjakan, berapa waktu yang tersisa untuk Anda sendiri?

Untuk olahraga, memperdalam agama, atau bersilaturahmi dengan tetangga dan karib keluarga?

Ibarat makan ikan besar yang segar, kita memberikan tempat kerja kita dagingnya yang banyak dan lezat sementara tulangnya kita berikan kepada keluarga di rumah.

Sedangkan untuk diri kita sendiri, tidak ada yang tersisa.

Tak heran, banyak orang yang sudah berumah tangga namun belum juga fasih membaca Al Quran.

Banyak yang sudah menjadi bapak-bapak tapi tidak tahu bagaimana mengajarkan shalat yang benar kepada anak-anaknya.

Banyak yang sudah mempunyai cucu dan uang cukup namun tidak tergerak hatinya menjadi tamu Allah SWT di Mekkah Madinah. Uang sudah mengambil porsi besar dalam hidup kita.

Jika Anda merasa ada yang aneh dari semua ini, jika Anda merasa cara orang-orang sekitar Anda menghabiskan waktunya untuk mengejar uang sudah tidak lagi waras, adakah cara dan kekuatan untuk merubah ini semua?

Mungkin semua fenomena ini bermuara pada tekanan sosial.

Kita dibesarkan sejak bangku SD untuk mematuhi jam sekolah, masuk pagi dan pulang siang atau sore hari tanpa tahu alasan yang pasti.

Yang jelas kita melakukan ini karena anak-anak lain juga melakukannya.

Jika tidak, maka masyarakat akan memberikan cap yang aneh-aneh.

Di usia kanak-kanak, kita tidak memiliki kapasitas intelektual untuk mempertanyakan mengapa dan kenapa, jadi seperti robot, kita mengikuti jalan yang sudah dilalui kakak, ayah, atau keluarga kita lainnya.

Rutinitas berjam-jam di luar rumah ini telah tertanam di otak kita selama bertahun-tahun dan telah menjadi aturan tak tertulis di masyarakat yang harus ditaati.

Kita juga tidak diajarkan untuk mengeluh kepada guru, orang tua, apalagi pemerintah untuk sesuatu yang kita kerjakan.

Tanpa disadari, jalan menjadi masyarakat kelas pekerja telah dirintis sebelum akhirnya seseorang menjadi budak peradaban manusia modern.

Sampai tiba masanya, kita lulus kuliah dan siap “dipakai” oleh industri.

Bos selalu mengatakan, “Jika Anda bekerja keras, Anda akan menjadi pekerja hebat; Jika Anda malas, Anda tidak berguna dan bisa kita pecat sewaktu-waktu”.

Tekanan untuk sukses, kebanggaan, gengsi, rumah, mobil, dan karier telah melebihi dari tekanan untuk menjadi orang tua, kakak, adik, atau saudara yang baik.

Jenjang karier dan kebanggaan bekerja di perusahaan bule telah menjadi strategi yang efektif untuk membeli budak-budak baru -lugu, polos, dan haus penghargaan masyarakat.

Jika Anda memiliki sebuah perushaan dan ingin mendapatkan budak yang loyal, kirim saja ia training ke Amerika dan Eropa, buat orang tuanya bangga.

Sekembalinya pulang ke Indonesia, nyawa mereka telah Anda beli, mereka akan loyal sampai mati bekerja untuk perusahaan Anda.

Ibu bapak mereka juga pasti akan bercerita kepada para tetangganya bahwa anak mereka telah dikirim ke luar negari.

Bagaimana? Hebat kan anak saya?

Jika si budak malas bekerja, orang tua yang akan melecutnya akibat tak tahan dengan cibiran teman dan kolega si orang tua.

Bagaimana jika ia sudah mulai tidak loyal?

Kirim saja lagi ia ke luar negeri selama beberapa hari.

Mudah bukan?

Taktik ini ibarat jarum suntik yang siap diinjeksikan kepada para karyawan yang mulai ingin merdeka.

Tujuan budak ini hanya ada tiga.

Pertama, menggunakan masa muda, produktif, dan sehat untuk menyembah para bos di kantor.

Mereka ingin mendapatkan kesuksesan material, meskipun itu mengorbankan pikiran dan tubuh si budak karena stress dan sakit-sakitan.

Kedua, menabung untuk menikmati hari tua yang sebenarnya akan menjadi fatamorgana.

Meskipun uang ada, tapi mereka akan terbaring lemah,  tidak bisa menikmati hidup akibat berbagai macam penyakit; hipertensi, serangan jantung, kanker, depresi, kecemasan, akibat loyalitas di masa mudanya dulu.

Ketiga, lakukan semua itu atas nama bos dan majikan si budak.

Realita ini memang menyakitkan, tapi kita tidak membutuhkan riset atau penelitian ilmiah yang dilakukan selama bertahun-tahun untuk membuktikkan bahwa semua ini telah terjadi.

Iklan dan image di media massa telah membuat kita mengejar mobil, pakaian, dan rumah yang tidak kita butuhkan dengan pekerjaan yang tidak kita sukai.

Mereka tampak ril karena sebagai masyarakat kita telah dikondisikan untuk melihat kesuksesan seperti apa yang ditampilkan di dalam tv dan iklan-iklan.

Kita tak kuasa untuk menganggap semuanya itu kecuali sebagai sebuah simbol kesuksesan.

Kita membeli sesuatu yang tidak kita perlukan dengan uang yang tidak kita miliki untuk membuat kagum orang-orang yang tidak kita sukai.

Mereka yang memiliki rumah mewah dengan mobil super mahal dipandang sukses meskipun hidup bergelimang dengan dosa.

Kita hidup dalam dunia yang penuh ilusi.

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *