Ghibah Dalam Islam: Adakah Yang Dibolehkan?

By | October 30, 2015
ghibah dalam islam

sumber gambar: quranclasses

Ghibah dalam Islam adalah salah satu perbuatan dosa besar. Mengerjakannya sama dengan makan bangkai saudara sendiri. Tapi tidak semua ghibah dilarang. Ada beberapa kondisi yang membuatnya diperbolehkan.

Ghibah Dalam Islam

Ghibah adalah membicarakan keburukan orang lain. Nama lainnya adalah merumpi, bergosip atau, menggunjing.  Nabi Muhammad Saw bersabda,

“Tahukah kalian apakah ghibah itu?” Mereka menjawab, “Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui” Beliau bersabda, “Engkau mengabarkan tentang saudaramu dengan sesuatu yang dibencinya.” Beliau ditanya, “Bagaimana jika yang aku katakan itu memang terdapat pada saudaraku?” Beliau menjawab, “Jika apa yang kamu katakan terdapat pada saudaramu, maka engkau telah menggunjingnya (melakukan ghibah) dan jika ia tidak terdapat padanya maka engkau telah berdusta atasnya.” (HR. Muslim)

Ghibah Yang Dilarang

Ghibah banyak disepelekan oleh banyak orang dan hanya dianggap sebagai hal biasa. Padahal Allah Swt menganggapnya sebagai perbuatan yang keji dan termasuk ke dalam salah satu dosa besar.

Allah Swt secara tegas mengibaratkan pelakunya seperti orang yang memakan daging bangkai saudaranya sendiri. Allah Swt berfirman di dalam Al Quran,

“Dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. Apakah salah seorang di antara kamu suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik dengannya.” (QS. Al-Hujurat: 12)

Dan Nabi Muhammad Saw menceritakan dalam sebuah hadis, dari Anas bin Malik bahwa Rasulullah Saw bersabda,

“Ketika saya dimi’rajkan, saya melewati suatu kaum yang memiliki kuku dari tembaga sedang mencakar wajah dan dada mereka. Saya bertanya: “Siapakah mereka ini wahai Jibril?” Jibril menjawab: “Mereka adalah orang-orang yang memakan daging manusia (ghibah) dan melecehkan kehormatan mereka.” (HR. Abu Daud 4878)

Bahkan kategori ghibah dalam Islam sama dengan riba yang paling berat. Dalam satu hadis Rasulullah Saw bersabda,

“Riba itu ada tujuh puluh dua pintu, yang paling ringan daripadanya sama dengan seorang laki-laki yang menyetubuhi ibunya (sendiri), dan riba yang paling berat adalah pergunjingan seorang laki-laki atas kehormatan saudaranya.” (As-Silsilah As-Shahihah, 1871)

Sebagai seorang muslim, wajib kita membela kehormatan saudara muslim lainnya. Nabi Muhammad Saw bersabda,

“Barangsiapa membela ghibah atas kehormatan saudaranya, niscaya pada hari kiamat Allah akan menghindarkan api neraka dari wajahnya.” (HR. Ahmad)

Ghibah Dalam Islam Yang Diperbolehkan

Meskipun banyak dalil yang mengharamkannya, Imam Nawawi memperbolehkan ghibah dalam enam keadaan. Berikut ini adalah beberapa kondisi dimana ghibah tidak diharamkan:

[1] Ghibah dibolehkan untuk mengadukan tindak kejahatan dan kedzaliman seseorang kepada penguasa atau pada pihak yang berwenang.

[2] Ghibah dibolehkan untuk meminta tolong kepada orang lain agar orang yang sedang dighibahi tersebut kembali tersadar dan bertaubat.

[3] Ghibah dibolehkan untuk meminta fatwa pada seorang ulama.

[4] Ghibah dibolehkan untuk mengingatkan kaum muslimin terhadap kejelekan seseorang.

[5] Ghibah dibolehkan untuk membicarakan orang yang melakukan satu maksiat. Dan bukan pada masalah lainnya (fokus pada perbuatan maksiat itu saja).

[6] Ghibah dibolehkan untuk menyebut orang lain dengan panggilan yang melekat pada dirinya sebagai identitas. Contohnya, Budi tukang ikan atau Iwan sunda.

Berhati-Hati Menjaga Lisan

Walaupun ada beberapa ghibah yang dibolehkan, sudah sepatutnya kita berhati-berhati untuk menjaga lisan agar tidak terjerumus ke dalam ghibah yang dilarang sehingga melukai perasaan saudara kita sesama muslim.

“Cukuplah kejelekan bagi seseorang dengan meremehkan saudara muslimnya. Setiap muslim haram darahnya, hartanya, dan kehormatannya atas muslim yang lain.” (HR. Muslim 2564)

Demikianlah beberapa penjelasan tentang ghibah. Semoga Allah Swt menjaga lisan kita dan memudahkan kaum muslim dimanapun untuk meninggalkannya dan menjaga kehormatan  harkat dan martabat saudara-saudara seiman.

Semoga bermanfaat…

 

Salam

Sulaymane Idris

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *