Ibu, Ibu, Ibu, Ayah

By | October 12, 2015

Ibu Anda telah memimpikan Anda sejak masih gadis belia, melihat Anda bermain-main dan berlarian di dalam mimpi masa kecilnya.

Dia menggendong boneka bayi lucu di dalam pelukannya, berkhayal itu adalah Anda.

Ketika waktunya berbadan dua, dia membawa Anda dalam tubuhnya. Anda membuatnya sakit setiap pagi selama berminggu-minggu dan berbulan-bulan.

ibu

Ibu, Ibu, Ibu, Ayah

Dia melahirkan Anda ke dunia melalui rasa perih yang teramat sangat.

Tetapi ketika mendengar Anda menangis, melihat wajah Anda yang berkerut, putih kemerah-merahan, dia lupa semua tentang sakit yang dialaminya sambil meneteskan air mata bahagia.

Dia menyusui Anda di dadanya dan seluruh dunianya berputar di sekitar Anda.

Ketika Anda sudah sedikit lebih besar, dia mengendap-endap ke dalam kamar Anda di malam hari hanya untuk menonton Anda tertidur.

Dia menatapi tubuh Anda yang mungil dan menganggapnya sebagai anak yang paling indah di muka bumi.

Dia selalu tahu apa yang Anda butuhkan, meskipun itu di tengah malam yang sunyi.

Dia entah bagaimana selalu tahu ketika Anda membutuhkannya, bahkan ketika Anda sedang tidak berada di sisinya.

Dia datang ke kamar Anda dan mengubah tempat tidur Anda untuk memastikan bahwa Anda tidak kelaparan dan dapat tertidur dengan pulas.

Dia menutup telinga Anda dan memberi selimut agar Anda tidak kedinginan.

Ketika Anda sudah masuk sekolah, dia memaksa Anda untuk menyikat gigi.

Dia yang merawat ketika Anda sakit dan tak mampu menggerakkan badan di tempat tidur.

Dia yang membawa Anda ke rumah sakit, memapah dan menggotong tubuh Anda yang mulai besar hingga ke dalam ruangan.

Ketika Anda sembuh, Anda meninggalkannya berminggu-minggu karena mengikuti acara camping di sekolah.

Dia juga yang mencuci baju kotor Anda, menjemur dan menyetrikanya kembali agar Anda selalu terlihat rapi di depan teman-teman.

Ibu Anda tidak pernah mengeluh.

Dia juga memastikan Anda mendapatkan daging ayam yang lezat sambil berpura-pura mengatakan tidak suka ayam dan lebih memilih telor ceplok.

Dia tidak selalu memberikan Anda permen meskipun dia sangat ingin memanjakan Anda.

Dia selalu mendengarkan Anda dan tidak tertawa ketika orang lain justru mengejek dan mentertawakan Anda di depan umum.

Dia percaya pada Anda ketika Anda sendiri tidak percaya pada diri Anda.

Dia selalu berdoa untuk Anda bahkan ketika Anda tidak berpikir membutuhkannya.

Dia membuat Anda berpikir Anda bisa melakukan hal-hal yang menurut Anda sendiri mustahil.

Ibu selalu setia menunggu Anda pulang ke rumah.

Meskipun Anda terlambat, dia hanya berpura-pura tidur dengan cara yang selalu Anda lakukan dahulu ketika ingin digendong manja dari mobil setelah perjalanan panjang.

Dia selalu membaca membacakan Al Quran di depan Anda agar Anda selalu dihiasi dengan perkataan dan ucapan yang baik.

Dia membuat ayahmu seorang pria yang jauh lebih baik daripada yang orang lain pikirkan.

Dia mengenakan jilbab tua yang sangat murah agar Anda bisa membeli kaos dengan gambar idola Anda.

Dia tidak pernah berpikir untuk berlibur dan membelanjakan uang untuk kesenangannya sehingga Anda memiliki cukup tabungan untuk jalan-jalan ke luar kota bersama teman satu kampus.

Ibu Anda senang dengan baju lebaran tahun lalu sehingga Anda bisa memiliki baju baru ketika lebaran nanti.

Dia tidak meninggalkan keluarga ketika ayahmu belum mampu mencukupi kebutuhan keluarga dan hidup serba kekurangan.

Ketika Anda telah sukses dan berhasil, dia meminta maaf atas kebodohannya membesarkan Anda, menyalahkan dirinya atas kegagalan mendidik Anda.

Dia membiarkan ayah Anda memiliki kemuliaan bagi keberhasilan Anda.

Atas semua hal yang telah dilakukannya, pengorbanan tanpa mengenal kata pamrih, dia masih saja merasa belum menjadi sosok panutan bagi Anda.

Dia tahu Anda hanya dipinjamkan kepadanya dari Yang Maha Kuasa.

Suatu saat nanti, rumah akan kembali hening dan Anda akan meninggalkannya.

Dari Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu, belia berkata,

“Seseorang datang kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam dan berkata, ‘Wahai Rasulullah, kepada siapakah aku harus berbakti pertama kali?’ Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Ibumu!’ Dan orang tersebut kembali bertanya, ‘Kemudian siapa lagi?’ Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Ibumu!’ Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi?’ Beliau menjawab, ‘Ibumu.’ Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi,’ Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Kemudian ayahmu.’” (HR. Bukhari no. 5971 dan Muslim no. 2548)

 

Semoga bermanfaat…

 

Salam

Sulaymane Idris

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *