Islam di Asia: Sultan Omar Ali Saifuddin Mosque, Brunei

By | November 8, 2015

Sultan Omar Ali Saifuddin Mosque adalah masjid yang berlokasi di Bandar Seri Begawa, ibukota negara Brunei Darussalam.

Masjid ini merupakan salah satu masjid paling indah yang ada di Asia Pasifik, dan juga menjadi tujuan wisata dan simbol negara Brunei.

Sultan-Omar-Ali-Saifuddin-Mosque_1

Umar Ali Saifuddin III adalah Sultan ke-30 Brunei Darussalam yang mengusulkan pembangunan masjid ini untuk melambangkan nilai-nilai di negara Brunei dan mendominasi langit kota Bandar Seri Begawan.

Pembangunannya selesai di tahun 1958 dan menjadi contoh bangunan arsitektur Islam modern.

Masjid Sultan Umar Ali Saifuddin menggabungkan gaya Italia dan arsitektur Mughal. Arsitektur Mughal merupakan campuran gaya arsitektur Islam, Persia dan India seerta berkembang pesat pada abad 16, 17, dan 18 karena ekspansi kerajaan India.

Desain masjid dibuat oleh A.O.Coltman of the firm Booty and Edwards Chartered Architects, yang ketika itu berbasis di Kuala Lumpur, Malaysia. Harian The Brunei Times melaporkan pada tanggal 5 Mei 2007:

“According to a senior architect at the Public Works Department (PWD), the architect employed to design the mosque was an Italian named Cavalieri R Nolli, who used an early design prepared by His Majesty himself and drawn with the assistance of Awang Besar Sagap, a PWD draughtsman. The detailed architectural plan was prepared by Booty and Edwards Chartered Architects and the construction work was done by Sino-Malayan engineers. The construction costs were very modest between $7.7 and $9.2 million.”

Menurut arsitek senior dari Public Works Department (PWD), Departemen Pekerjaan Umum Brunei Darussalam, arsitek yang ditugasi untuk mendesain masjid adalah soerang berkebangsaan Italia yang bernama Cavalieri R Nolli.

Cavalieri menggunakan desain awal yang telah disiapkan oleh Seri Baginda dan digambar dengan bantuan Awang Besar Sagap, ahli gambar PWD.

Detail rencana arsitektur masjid disiapkan Booty and Edwards Chartered Architects dan pekerjaan konstruksi oleh insinyur Sino-Malayan. Biaya pembangunan masjid tidak memakan biaya yang besar, antara $7.7 – $9.2 juta.

Masjid Sultan Umar Ali dibangun di atas danau buatan di pinggir sungai Kampong Ayer (desa di atas air).

Masjid tersebut memiliki menara yang terbuat dari mamer dan kubah yangterbuat dari emas. Halaman masjid dikelilingi oleh pepohonan dan tanaman. Sebuah jembatan di tengah sungai menghubungkan masjid dengan Kampong Ayer.

Terdapat satu jembatan lainnya yang menghubungkan masjid dengan perahu replika Mahligai Sultan Bolkiah.

Perahu tersebut selesai dibangun pada tahun 1967 untuk memperingati perayaan 1400 tahun Nuzulul Quran dan tempat kompetisi kejuaraan pembacaan Al Quran.

Fitur paling menonjol dari masjid Sultan Umar Ali Saifuddin adalah kubah utamanya yang terlapis dari emas murni. Dengan ketinggian yang hanya 52 m, masjid tersebut dapat terlihat dari seluruh penjuru kota Bandar Seri Begawan.

Menara utama masjid adalah fitur yang tinggi dan menggabungkan gaya arsitektur Italia dan Renaissance.

Pengunjung dapat menggunakan elevator untuk mencapai menara dan menikmati pemandangan kota Bandar Seri Begawan yang begitu mempesona.

Bagian dalam masjid hanya ditujukan untuk shalat dan dihiasi dengan jendela-jendela kaca dan tiang-tiang marmer yang indah. Hampir semua material yang digunakan diimpor dari luar negeri: marmer dari Italia, granit dari Shanghai, crystal chandelier dari Inggris, dan karpet dari Arab Saudia.

Semoga bermanfaat…

 

Salam

Sulaymane Idris

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *