Islam di Eropa: Masjid London Timur, Inggris

By | November 11, 2015

Masjid East London melayani komunitas umat muslim terbesar di Britania Raya. Hanafi banyak dianut oleh para jamaah masjid. Masjid East London juga merupakan salah satu masjid terbesar di Eropa dengan mengakomodasi lebih dari 7,000 jamaah untuk shalat berjamaah. Pada tahun 1986, dan bahkan hingga sekarang, masjid ini menjadi salah satu diantara masjid di UK yang diperbolehkan mengeraskan adzan melalui loudspeaker.

islam di eropa

Sejarah

Pendanaan Masjid London (1910-1939)
Pada awal abad ke 20, London adalah ibukota dari kekaisaran British yang besar dengan populasi umat muslim yang cukup besar. Sebagian mereka didatangkan dari India dan Pakistan serta beberapa koloni Inggris lainnya. Dengan jumlah mereka yang besar, tak ada satupun masjid tersedia di London baik untuk penduduk setempat maupun untuk pengunjung kota. Pada tanggal 9 November 1910, pada sebuah pertemuan antara orang-orang muslim dan non-muslim di Hotel Ritz, pendanaan untuk membangun Masjid London diusulkan untuk memfasilitasi umat muslim melakukan shalat Jumat dan menyediakan tempat ibadah permanen bagi orang-orang Islam.

Masjid Asli East London (1940-1974)
Dari tahun 1910 sampai tahun 1940, untuk melaksanakan shalat Jumat, umat muslim London hanya menyewa berbagai ruangan yang dijadikan tempat shalat. Akhirnya, pada tahun 1940, tiga buah rumah dibeli pada jalan 446-448 Commercial Road pada bagian London Timur sebagai tempat permanen untuk melaksanakan shalat.
Pada tanggal 2 Agustus 1941, ketiga rumah tersebut digabung dan resmi dibuka dengan nama ‘East London Mosque and Islamic Culture Centre’ dengan sebuah upacara yan dihadiri oleh Duta Besar Mesir, Colonel Sir Gordon Neal. Shalat pertama dipimpin oleh Duta Besar untuk Arab Saudi, Shaikh Hafiz Wahba. Dari tahun 1950, jumlah umat muslim karena arus immigrasi yang datang dari Sylhet, Pakistan Timur yang pada tahun 1971 berubah menjadi negara Bangladesh. Para immigran ini mendiami area di sekitar masjid dan banyak bekerja di dermaga. Selama era dekade 1970an, jumlah immigran meningkat tajam secara signifikan.

Persiapan Pembangunan Masjid (1975-1984)
Pembangunan masji East London membutuhkan biaya total sebesar £2 juta. Raja King Fahd dari Arab Saudi menyumbang £1 juta dan pemerintah Kuwait bersama-sama pemerintah Inggris juga ikut mendonasikan sejumlah dana. Konstruksi selesai dibangun pada tahun 1985 dengan pondasi telah dipersiapkan tiga tahun sebelumnya.

Masjid East London Baru (1985-2000)
Masjid East London adalah salah satu masjid pertama di UK yang diizinkan untuk mengumandangkan adzan lewat loudspeaker dari menara masjid. Beberapa penduduk lokal yang non-muslim memprotes suara adzan ini karena kebisingan yang ditimbulkan. Kejadian ini sempat menjadi liputan beberapa media Inggris seperti Daily Mail dan Daily Star. Sejumlah pendeta dari Church of England memberikan dukungan terhadap umat muslim dengan mempublikasikan sebuah maklumat pada East London Advertiser.

Ketika itu, masjid East London memiliki daya tampung untuk memuat 2,000 jamaah laki-laki dan perempuan, dan ruang kelas untuk pelajaran penunjang. Meskipun demikian, pada tahun 1990 kapasitas masjid dirasa sudah tidak mencukupi lagi untuk menampun shalat berjamaah dan aktivitas masjid lainnya. Tanah di sebelah masjid adalah area kosong yang hancur akibat bom pada Perang Dunia II dan hanya digunakan sebagai tempat parkir mobil. Pihak masjid kemudian meluncurkan kampanye untuk membeli lahan tersebut dan akhirnya berhasil dibeli pada tahun 1999.

London Muslim Centre (2001-2008)
Pada tahun 2001, Pangeran Charles meluncurkan sebuah projek untuk membangun London Muslim Centre (LMC). London Development Agency (LDA) memberikan £500,000 untuk pembangunan LMC. Total biaya konstruksi sebesar £10 juta, dengan lebih dari setengahnya didanai secara sukarela dari umat muslim. Pembangunan dimulai pada tahun 2002, dan pusat baru ini mulai dibuka pada tanggal 11 Juni 2004, dengan lebih dari 15,000 orang menghadiri shalat pertama di tempat teresebut. Dengan seiring meningkatnya kegiatan-kegiatan yang diadakan, kapasitas masjid bertambah 5,000.

Aktivitas
Masjid East London memiliki misi: “to serve, educate, and inspire”. Seeiring dengan perkembangan zaman, basis komunitas masjid juga ikut berubah. Ceramah dan pengumuman masjid sebelumnya diberikan dalam bahasa Bengali saja, tapi sekarang sudah disampaikan dalam tiga bahasa: Arab, Inggris, dan Bengali.
Masjid East London pernah dikunjungi oleh sejumlah tokoh-tokoh penting seperti Pangeran Charles, Abdul Rahman Al-Sudais dan Saud Al-Shuraim (Imam Masjidil Haram), Boris Johnson (Gubernur London), dan Abdullah Ahmad Badawi (mantan Perdana Menteri Malaysia).

Beberapa layanan dan aktivitas yang terdapat di masjid adalah:
• SD-SMP-SMA
• Sekolah untuk orang cacat dan tuli
• Pelayanan pernikahan
• Perpustakaan
• Fitness centre
• Dapur & ruang makan
• Ruang Tamu
• Kantor
• Layanan kesehatan
• Training ICT dan Kursus bahasa Inggris
• New Muslims’ classes – kelas untuk muallaf
• ELM Women’s Link – layanan untuk akhwat/wanita
• ELM Evening Madrasah – pendidikan sore untuk anak-anak setelah pulang sekolah

Masjid East London juga memiliki Muslim Community Radio (MCR) yang bekerjasama dengan Islamic Forum of Europe dan mulai siaran di tahun 1998. Sejak tahun 2001, radio komunitas muslim di London ini mengudara 24 jam selama bulan Ramadhan. Siaran radio ini dijalankan oleh para sukarelawan masjid dan menyiarkan program untuk anak-anak, wanita, pelajaran fiqih, siaran langsung shalat taraweh, kelas Al Quran, dan banyak lainnya dalam bahasa Inggris, Bengali, dan Arab.

One thought on “Islam di Eropa: Masjid London Timur, Inggris

  1. Susanti Wong

    Semoga Islam terus berjaya di atas bumi Allah ini, amien

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *