Istighfar & Keutamaannya

By | November 23, 2015

Segala puji bagi Allah, yang hanya kepada-Nya kita memohon perlindungan, pertolongan, dan ampunan. Kita berlindung kepada Allah dari kejahatan diri kita sendiri dan buruknya amalan kita. Barang siapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka tidak ada yang dapat menyesatkannya dan barangsiapa yang disesatkan oleh Allah, maka tidak ada yang dapat menunjukinya. Aku bersaksi bahwa tiada Ilah yang patut disembah kecuali Allah dan tiada pula sekutu bagi-Nya. Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya.

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱتَّقُواْ ٱللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِۦ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسۡلِمُونَ ١٠٢

“Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan Islam.” (QS. Ali-‘Imran: 102)

يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ ٱتَّقُواْ رَبَّكُمُ ٱلَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفۡسٖ وَٰحِدَةٖ وَخَلَقَ مِنۡهَا زَوۡجَهَا وَبَثَّ مِنۡهُمَا رِجَالٗا كَثِيرٗا وَنِسَآءٗۚ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ ٱلَّذِي تَسَآءَلُونَ بِهِۦ وَٱلۡأَرۡحَامَۚ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ عَلَيۡكُمۡ رَقِيبٗا ١

“Wahai manusia, bertakwalah kepada Rabb-mu yang telah menciptakanmu dari diri yang satu dan daripadanya Allah menciptakan isterinya, dan daripada keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (menggunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasimu.” (QS. An-Nisaa’: 1)

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱتَّقُواْ ٱللَّهَ وَقُولُواْ قَوۡلٗا سَدِيدٗا ٧٠ يُصۡلِحۡ لَكُمۡ أَعۡمَٰلَكُمۡ وَيَغۡفِرۡ لَكُمۡ ذُنُوبَكُمۡۗ وَمَن يُطِعِ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ فَقَدۡ فَازَ فَوۡزًا عَظِيمًا ٧١

“Wahai orang-orang yang beriman bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar, niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu dan barangsiapa mentaati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar.” (Q.S. Al-Ahzab: 70-71)

وَيَرۡزُقۡهُ مِنۡ حَيۡثُ لَا يَحۡتَسِبُۚ وَمَن يَتَوَكَّلۡ عَلَى ٱللَّهِ فَهُوَ حَسۡبُهُۥٓۚ إِنَّ ٱللَّهَ بَٰلِغُ أَمۡرِهِۦۚ قَدۡ جَعَلَ ٱللَّهُ لِكُلِّ شَيۡءٖ قَدۡرٗا ٣

“Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.” (QS. Ath-Thalaq: 3)

Pada suatu hari yang tengah diliputi kemarau panjang, Khalifah Umar bin al-Khattab radhiallahu ‘anhu keluar melaksanakan shalat istisqa untuk meminta hujan bersama kaum muslimin. Ketika itu ia senantiasa beristighfar kepada Allah. Ia berkata, Aku telah meminta hujan dengan “Majaadiihus Samaa” yang dengannya hujan diturunkan.

Kemudian Umar membaca firman Allah Ta’ala,

فَقُلۡتُ ٱسۡتَغۡفِرُواْ رَبَّكُمۡ إِنَّهُۥ كَانَ غَفَّارٗا ١٠ يُرۡسِلِ ٱلسَّمَآءَ عَلَيۡكُم مِّدۡرَارٗا ١١ وَيُمۡدِدۡكُم بِأَمۡوَٰلٖ وَبَنِينَ وَيَجۡعَل لَّكُمۡ جَنَّٰتٖ وَيَجۡعَل لَّكُمۡ أَنۡهَٰرٗا ١٢

“Maka aku katakan kepada mereka: ´Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, -sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun- niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai.” (QS. Nuh: 10-12).

Istighfar mempunyai kedudukan yang agung dalam agama Islam. Istighfar meninggikan seseorang dari derajat yang rendah ke derajat yang lebih mulia di sisi Allah Tabaraka wa Ta’ala. Ia adalah pondasi untuk memperoleh kebaikan, kenikmatan dan keberkahan serta menghilangkan hukuman. Istighfar menyucikan dosa dan menghapus catatan kesalahan.

Nabi ﷺ bersabda, “Sungguh beruntung seseorang yang mendapati pada catatan amalnya istighfar yang banyak.” (HR. Ibnu Majah).

Dalam hadits yang lain, beliau bersabda, “Siapa yang ingin buku catatan amalnya membuatnya senang (tatkala melihatnya), maka perbanyaklah catatan istighfar di dalamnya.” Dan Nabi ﷺ adalah orang yang paling banyak istighfarnya, padahal beliau telah diampuni dosa-dosanya yang telah lalu dan yang akan datang. Nabi ﷺ bersabda, “Sesungguhnya hatiku tidak pernah lalai dari dzikir kepada Allah. Sesungguhnya aku beristighfar seratus kali dalam sehari.”

Dan dalam hadits lainnya, dari Abdullah bin Umar radhiallahu ‘anhuma, ia berkata,“Kami pernah menghitung bacaan dzikir Rasulullah ﷺ dalam satu majelis. Beliau ucapkan, ‘Robbighfirlii wa tub ‘alayya innaka anta tawwaabul ghofuur” (Wahai Rabbku, ampunilah aku dan terimalah taubatku, sesungguhnya Engkau Maha Penerima taubat dan ampunan)’, sebanyak 100 kali.”

Bahkan lebih dari itu, ada sebuah riwayat yang membuat kita lebih merasa tercengang. Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, ia berkata, “Aku tidak pernah melihat seseorang yang mengucapkan ‘Astaghfirullah wa atubu ilaih’ (Aku memohon ampun kepada Allah dan aku bertaubat kepadanya) lebih banyak dari Rasulullah ﷺ.”

Abu Hurairah melihat sahabat-sahabat yang sangat rajin beribadah, sebaik-baik orang yang beriman, dan sahabat-sahabat yang banyak beristighfar, tapi ia tidak menjumpai satu pun dari mereka yang beristighfar dan bertaubat kepada Allah Jalla wa ‘Ala lebih banyak dari Rasulullah ﷺ.

Kehidupan Nabi ﷺ penuh dengan istighfar setiap waktunya, sampai di akhir hayatnya beliau tutup dengan bertaubat dan memohon ampun kepada Allah TA’ALA. Dari Ummul Mukminin Aisyah radhiallahu ‘anha, ia menceritakan detik-detik akhir hayat Nabi ﷺ: “Aku mendengar Nabi ﷺ yang saat (menjelang wafat) bersandar kepadaku, beliau berkata, ‘Ya Allah ampunilah aku, kasihanilah aku, dan kumpulkanlah aku bersama orang-orang shaleh’.”

Sebagaimana kehidupan Nabi Muhammad ﷺ yang senantiasa dipenuhi dengan istighfar dan ketaatan, akhir hayat Nabi ﷺ  pun ditutup dengan istighfar. Hal ini tentunya memberikan pelajaran kepada kita betapa umat muslim sangat membutuhkan istighfar dan sekaligus menunjukkan betapa pentingnya kedudukan istighfar di dalam agama Islam.

Sudah selayaknya kita untuk membasahi lisan kita dengan istighfar di sepanjang waktu,  terlebih lagi di waktu-waktu yang memang ditekankan untuk beristighfar, seperti: selesai shalat fardhu, di sepertiga malam terakhir, dll.

Nabi Muhammad ﷺ juga melakukan hal yang sama sehabis salam ketika selesai dari shalatnya. Dan setelah salam pun beliau mengucapkan dzikir berupa kalimat istighfar. Allah Jalla wa ‘Ala berfirman,

لَّقَدۡ كَانَ لَكُمۡ فِي رَسُولِ ٱللَّهِ أُسۡوَةٌ حَسَنَةٞ لِّمَن كَانَ يَرۡجُواْ ٱللَّهَ وَٱلۡيَوۡمَ ٱلۡأٓخِرَ وَذَكَرَ ٱللَّهَ كَثِيرٗا ٢١

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (QS. Al-Ahzab: 21).

Banyak orang mengeluhkan tentang kekeringan akibat kemarau panjang, kekurangan hujan, dan mendapatkan banyak kemudharatan lainnya. Mengapa keadaan ini terjadi dan apa solusinya. Tidak lain dan tidak bukan karena sedikitnya taubat kita dan kurangnya kita beristighfar kepada Allah TA’ALA. Sudah seharusnya kita memperbanyak istighfar dan senantiasa membasahi lisan kita dengan kemuliaan lafadznya.

وَلَوۡ أَنَّ أَهۡلَ ٱلۡقُرَىٰٓ ءَامَنُواْ وَٱتَّقَوۡاْ لَفَتَحۡنَا عَلَيۡهِم بَرَكَٰتٖ مِّنَ ٱلسَّمَآءِ وَٱلۡأَرۡضِ وَلَٰكِن كَذَّبُواْ فَأَخَذۡنَٰهُم بِمَا كَانُواْ يَكۡسِبُونَ ٩٦

Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berbagai berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatan mereka sendiri”. (QS. Al-A’raf:96)

Definisi Istighfar

Istighfar adalah permintaan hamba kepada Allah agar segala dosanya ditutup, diampuni, dan tidak menghukumnya atas dosa-dosa tersebut.. Hal ini karena pada hari kiamat Allah akan berbicara dangan hamba-Nya yang beriman satu persatu untuk menanyakan dosa mereka, lalu mereka mengakui dosanya, dan Allah Subhanahu wa Ta’ala akan berfirman:”Telah Aku tutupi dosa kalian di dunia dan hari ini Aku ampuni dosa kalian.

Maka dari itu, salah satu dosa besar adalah seseorang memberitahukan dan menceritakan kepada orang lain tentang dosa yang telah dia lakukan, sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,

“Seluruh umatku diampuni kecuali al-mujahirun (orang yang terang-terangan berbuat dosa), dan termasauk bentuk Mujaharoh (terang-terangan dalam berbuat dosa) adalah seseorang berbuat dosa pada malam hari, kemudian pada pagi hari dosanya telah ditutup oleh Allah, dia berkata:”Wahai fulan semalam aku telah melakukan seperti ini dan ini (menceritakan dosanya).”Allah telah menutupi dosanya di malam hari, tetapi dia membuka kembali dosa yang telah ditutup oleh Allah tersebut.(Diriwayatkan oleh Imam Bukhari rahimahullah dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu) (HR Al Bukhari (6069)

Setiap manusia pasti dipenuhi dosa dan kesalahan. Dosa akan membuat sesak dada, menghilangkan keberkahan hidup, mempersempit rizki, membuat berat menjalankan ketaatan, menjadi sebab datangnya berbagai kesulitan, dan di akhirat menjadi sebab kegelapan dan kesengsaraan. Oleh karena itu, kita membutuhkan ampunan Allah setiap saat. Doa istighfar ini menjadi salah satu alternatif dan saranan meraih ampunan-Nya.

Keutamaan Istighfar

“Wahai sekalian manusia. Taubatlah (beristigfar) kepada Allah karena aku selalu bertaubat kepada-Nya dalam sehari sebanyak 100 kali.” (HR. Muslim)

Renungkanlah kebiasaan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa aalihi wasallam diatas, padahal Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah mengampuni dosa-dosa beliau Shallallahu ‘alaihi wa aalihi wasallam yang telah lalu dan yang akan datang, namun Nabi Shallallahu ‘alaihi wa aalihi wasallam tetap beristighfar memohon ampun kepada Allah. Lantas bagaimana dengan kita?

Alangkah baiknya bagi kita untuk mengikuti jejak langkah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa aalihi wasallam dengan banyak beristighfar.

“Demi Dzat yang jiwaku berada di Tangan-Nya, seandainya kalian tidak berbuat dosa, niscaya Allah akan menghilangkan kalian dari muka bumi dan Allah akan mendatangkan suatu kaum lain yang berbuat dosa, lalu beristighfar (memohon ampun) kepada Allah Ta’ala. Dan Allah mengampuni mereka”. (HR. Muslim)

Sangat banyak ayat Al Quran yang membahas tentang memohon ampunan kepada Allah TA’ALA. Allah memerintahkan kepada Nabi  dan Rasul untuk senantiasa memohon ampun kepada-Nya.

“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa. Yaitu orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.(QS. Ali ‘Imran : 133-134)

Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui. Mereka itu balasannya ialah ampunan dari Tuhan mereka dan surga yang di dalamnya mengalir sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan itulah sebaik-baik pahala orang-orang yang beramal.” (QS. Ali ‘Imran : 135 – 136)

“Dan, barangsiapa mengerjakan kejahatan dan menganiaya dirinya, kemudian dia memohon ampun kepada Allah, niscaya ia mendapati Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
(QS. An-Nisaa’: 110)

Barangsiapa memperbanyak istighfar (mohon ampun kepada Allah), niscaya Allah menjadikan untuk setiap kesedihannya jalan keluar dan untuk setiap kesempitannya kelapangan dan Allah akan memberikan rizki (yang halal) dari arah yang tidak disangka-sangka.” (Dishahihkan oleh Imam Al-Hakim (AlMustadrak, 4/262) dan Syaikh Ahmad Muhammad Syaikh (Hamisy Al-Musnad, 4/55)

“Sungguh seandainya kalian bertawakkal kepada Allah sebenar-benar tawakal niscaya kalian akan diberikan rizki sebagai-mana rizki-rizki burung-burung, mereka berangkat pergi dalam keadaan lapar, dan pulang sore hari dalam keadaan kenyang” (HR. Timidzi No. 2344).

“Rabb kalian berkata; Wahai anak Adam! Beribadahlah kepadaKu sepenuhnya, niscaya aku penuhi hatimu dengan kekayaan dan Aku penuhi kedua tanganmu dengan rizki. Wahai anak Adam! Jangan jauhi Aku, sehingga aku penuhi hatimu dengan kefakiran dan Aku penuhi kedua tanganmu dengan kesibukan”. (HR. Al-Hakim: Silsilah Al-Hadits Ash-Shahihah No. 1359).

“Berusahalah untuk mendapatkan apa yang bermanfaat bagi-mu, mohonlah pertolongan kepada Allah dan janganlah kamu bersikap lemah. Bila kamu ditimpa sesuatu, janganlah kamu mengatakan: ‘Seandainya saya bertindak begini, tentu (hasil-nya) akan begini dan begini.’ Tapi katakanlah: ‘Allah sudah mentakdirkan dan Allah berbuat apa yang Dia kehendaki.’ Sebab, sesungguhnya perkataan ‘Seandainya …’ akan mem-buka (pintu) perbuatan syaithan.” (HR. Muslim) “Sungguh luar biasa urusan seorang mu’min itu. Sesungguh-nya setiap urusannya (akan mendatangkan) kebaikan. Bila dia mendapatkan kesenangan, dia bersyukur dan (syukur) itu adalah kebaikan untuknya. Bila dia mendapatkan musibah, dia bersabar dan (sabar) itu adalah kebaikan untuknya. Hal itu tidak (diberikan) untuk siapa pun kecuali untuk seorang mu’min.” (HR. Muslim)

Selain itu, istigfar dan taubat juga merupakan perintah langsung dari Allah Ta’ala.

“Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubat semurni-murninya.” (At-Tahrim: 8)

Meskipun banyak dan besar, Allah TA’ALA akan mengampuni dosa-dosa orang yang bertaubat dengan taubat yang semurni-murninya.

“Katakanlah, ‘Hai hamba-hambaKu yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang’.” (Q.S. Az-Zumar: 53)

Umar bin Khattab memahami benar tentang keistimewaan taubat dan istighfar. Maka tatkala beliau meminta hujan kepada Allah Ta’ala., Umar keluar rumah dengan hanya mengucapkan istighfar dan kemudian pulang. Maka seseorang bertanya kepadanya, “Aku tidak mendengar Engkau memohon hujan”. Maka Umar bin Khattab lantas menjawab, “Aku memohon diturunkannya hujan dengan majadih[1] langit yang dengannya diharapkan akan turun air hujan.

Umar bin Khattab kemudian membaca ayat 10-11 dalam surah Nuh:

“Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat.”

Beberapa pelajaran penting dari ayat-ayat di atas adalah:

Allah Ta’ala. adalah Maha Pengampun dan memerintahkan hambaNya untuk memohon ampun kepadaNya. Hal ini berdasarkan firman-Nya di atas: ‘Mohonlah ampun kepada Tuhanmu’, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun…”.

Istigfar menjadi sebab ditutunkannya hujan yang lebat dengan air yang turun dengan deras.

Istigfar menjadi sebab dibanyakkan harta dan anak-anak, kebun-kebun dan sungai-sungai.

Berkaitan dengan taubat dan istighfar, Allah Ta’ala. juga berfirman dalam surah Hud ayat 3 dan 52:

“Dan hendaklah kamu meminta ampun kepada Tuhanmu dan bertaubat kepadaNya. (jika kamu mengerjakan yang demikian), niscaya Dia akan memberi kenikmatan yang baik (terus menerus) kepadamu sampai kepada waktu yang telah ditentukan, dan Dia akan memberi kepada tiap-tiap orang yang mempunyai keutamaan (balasan) keutamaannya. Jika kamu berpaling, maka sesungguhnya aku takut kamu akan ditimpa siksa hari Kiamat.” (Q.S. Hud:3)

“Dan (Hud berkata), ‘Hai kaumku, mohonlah ampun kepada Tuhanmu lalu bertaubatlah kepada-Nya, niscaya Dia menurunkan hujan yang sangat lebat atasmu dan Dia akan menambahkan kekuatan kepada kekuatanmu dan janganlah kamu berpaling dengan berbuat dosa’.” (Q.S. Hud:52)

Taubat juga merupakan salah satu penyebab keberuntungan,

“Dan bertaubatlah kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.” (Q.S. An-Nur: 31)

Dengan bertaubat, orang-orang yang beriman akan mendapatkan keberuntungan. Maksudnya adalah mendapatkan apa yang dicarinya dan selamat dari apa yang dikhawatirkannya.

Secara harfiah, taubat sendiri memiliki arti menuju pada ketaatan terhadap Allah Ta’ala. setelah bermaksiat. Taubat itu sendiri sangat disukai oleh Allah Ta’ala.,

“Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang taubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri.” (Q.S. Al-Baqarah: 222)

Menurut Imam Ar-Raghib Al-Ashfahani taubat adalah meninggalkan dosa karena keburukan yang ada di dalamnya, menyesali dosa yang telah dilakukan, dan memiliki keinginan yang kuat untuk tidak mengulanginya serta mengganti apa yang bisa diulangi dari keburukan dengan kebaikan. Untuk melakukan sebuah pertaubatan yang sungguh-sungguh (taubatan nasuha), tentu ada syarat atau langkah-langkah yang harus dilakukan. Setidaknya terdapat lima syarat taubat yang harus dipenuhi:

  1. Ikhlas hanya karena Allah Ta’ala. semata, mengharapkan keridaan, pahala, dan keselamatan dari siksa-Nya.
  2. Bersedih, menangisi, dan menyesali perbuataan dosanya.
  3. Meninggalkan perbuatan dosa itu dengan segera dan tidak ditunda-tunda dengan berpikir masih muda atau masih memiliki banyak waktu.
  4. Menanamkan niat dalam hati untuk tidak melakukannya lagi.
  5. Taubat dilakukan sebelum ajal datang. Allah Ta’ala. berfirman:

“Dan tidaklah taubat itu diterima Allah dari orang-orang yang mengerjakan kejahatan hingga apabila datang ajal kepada seseorang di antara mereka, (barulah) ia mengatakan, ‘Sesungguhnya saya bertaubat sekarang’.” (Q.S. An-Nisa’: 18)

Taubat juga tidak akan diterima setelah matahari terbit dari tempat terbenamnya (barat). Rasulullah ﷺ  bersabda:

“Barangsiapa bertaubat sebelum matahari terbit dari tempat terbenamnya, maka Allah menerima taubatnya.” (H.R. Muslim)

Imam An-Nawawi menerangkan bahwa bertaubat dari setiap dosa adalah wajib hukumnya bagi seluruh umat manusia. Jika dosa yang telah dilakukan adalah dosa antara seorang hamba dengan Allah Ta’ala. tanpa melibatkan atau memakan hak manusia lainnya, maka terdapat tiga syarat mutlak yang berlaku. Apabila salah satu syarat tersebut tidak ada, maka taubatnya tidak sah. Pertama, pelaku maksiat harus menjauhi dosa tersebut. Kedua, ia menyesali perbuataan dosanya. Ketiga, ia harus memiliki keiingan yang sangat kuat untuk tidak mengulanginya.

Namun apabila dosa yang telah diperbuat melibatkan hak manusia lainnya, maka syarat yang keempat berlaku, yaitu pelaku dosa tersebut haruslah memenuhi hak orang yang telah dizalimi. Jika hal itu berkaitan dengan uang (harta atau semisalnya) maka ia harus menggantinya dengan yang serupa atau setara jumlahnya.

Berdasarkan penjelasan di atas, maka jelaslah bahwa taubat tidak cukup dilakukan melalui lisan saja. Taubat memerlukan usaha segenap tenaga untuk tidak mengulanginya lagi disertai dengan kerja keras untuk menggantinya dengan perbuatan yang lebih baik.

Pintu taubat terbentang luas dan terbuka, tidak sepantasnya kita berputus asa dari rahmat Allah Ta’ala. Rasulullah ﷺ  bersabda:

“Allah membentangkan tangan-Nya pada malam hari agar pelaku dosa pada siang hari bertaubat dan membentangkan tangan-Nya pada siang hari agar pelaku dosa pada malam hari bertaubat hingga matahari terbit dari tempat tenggelamnya.” (H.R. Muslim).

Menggembirakan Allah 
Rasulullah bersabda, “Sungguh, Allah lebih gembira dengan taubat hamba-Nya daripada kegembiraan salah seorang dari kalian yang menemukan ontanya yang hilang di padang pasir.” (HR.Bukhari dan Muslim).

Dicintai Allah TA’ALA
Allah berfirman, “Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertaubat dan mencintai orang-orang yang mensucikan diri.” (QS.al-Baqarah: 222). Rasulullah bersabda, “Orang yang bertaubat adalah kekasih Allah. Orang yang bertaubat atas dosanya, bagaikan orang yang tidak berdosa.”(HR.Ibnu Majah).

Dosa-dosanya diampuni
Rasulullah bersabda, “Allah telah berkata,’Wahai hamba-hamba-Ku, setiap kalian pasti berdosa kecuali yang Aku jaga. Maka beristighfarlah kalian kepada-Ku, niscaya kalian Aku ampuni. Dan barangsiapa yang meyakini bahwa Aku punya kemampuan untuk mengamouni dosa-dosanya, maka Aku akan mengampuninya dan Aku tidak peduli (beberapa banyak dosanya).” (HR.Ibnu Majah, Tirmidzi).

Imam Qatadah berkata,”Al-Qur’an telah menunjukkan penyakit dan obat kalian. Adapun penyakit kalian adalah dosa, dan obat kalian adalah istighfar.” (Kitab Ihya’Ulumiddin: 1/410).

Selamat dari api neraka
Hudzaifah pernah berkata, “Saya adalah orang yang tajam lidah terhadap keluargaku, Wahai Rasulullah, aku takut kalau lidahku itu menyebabkan ku masuk neraka’. Rasulullah bersabda,’Dimana posisimu terhadap istighfar? Sesungguhnya, aku senantiasa beristighfar kepada Allah sebanyak seratus kali dalam sehari semalam’.” (HR.Nasa’i, Ibnu Majah, al-Hakim dan dishahihkannya).

Membuat Doa Terkabul

Berikut ini adalah kisah nyata yang pernah terjadi di zaman Imam Ahmad bin Hanbal Rahimahullah.  Yaitu kisah seorang tukang roti yang tak pernah lepas dari mengucap lafadzh istighfar meskipun sedang mengadon roti. Sehingga suatu hari atas izin Allah Subhanahu wa Ta’ala, harapan yang diinginkan selama hidupnya terkabul, yaitu bertemu dengan seorang ulama’ yang dikaguminya.

Suatu ketika Imam Ahmad ingin menghabiskan waktu malam di dalam masjid. Namun, oleh penjaga masjid itu, beliau dilarang menginap di dalamnya. Maka sang Imam berusaha membujuknya agar bisa menetap di masjid tersebut. Ternyata tetap usahanya sia-sia. “Aku akan tidur di tempat berpijaknya telapak kakiku sekarang ini!” Akhirnya pinta beliau kepada penjaga tadi, berharap agar tetap bisa tinggal. Benar saja, Imam Ahmad bin Hanbal akhirnya tidur di tempat berpijaknya telapak kaki beliau. Si penjaga tadi kemudian pergi entah kemana meninggalkan masjid.

Seorang tukang roti lewat dan melihat Imam Ahmad dalam posisi beliau sekarang ini. Ia menawari beliau untuk menginap di rumahnya. Sang Imam pun menerima tawaran tersebut. Berselang kemudian ia dan tukang roti tadi pergi meninggalkan masjid untuk menginap di rumahnya. Setelah sampai beliau disambut dengan penuh penghormatan. Si tuan rumah beres-beres mempersiapkan segalanya, dan beliau dipersilahkan untuk beristirahat.

Setelah semuanya dirasa tidak ada yang masalah, si tukang roti baik ini pun memulai aktivitas rutinnya, yaitu membuat adonan roti untuk dijual besok harinya, lantas meninggalkan Imam Ahmad sendirian. Malam itu ada sesuatu yang tidak biasa bagi Imam Ahmad. Ia mendengar si tukang roti melafazkan sesuatu. Setelah diperhatikan, ternyata tukang roti itu beristighfar dan terus beristighfar dalam kesibukannya mengolah adonan.

Waktu pun terus berlalu, namun tukang roti tadi tidak berhenti dari mengucap istighfar. Keadaannya terus seperti sebelumnya, sehingga membuat Imam Ahmad merasa takjub. Pada pagi harinya, beliau bertanya kepada tukang roti itu tentang istighfar yang diucapkan di malam hari. Tukang roti itu menjawab bahwa ia sudah melakukannya sudah sejak lama. Setiap kali membuat adonan, ia selalu beristighfar.

Imam Ahmad melanjutkan pertanyaannya, “Apakah engkau mendapat manfaat dari istighfar yang sering engkau ucapkan?” Pertanyaan ini sengaja ia tanyakan, meskipun beliau sudah tahu manfaat dan keutamaannya. Tukang roti pun menjawab, “Ya, demi Allah, setiap kali aku memanjatkan doa kepada Allah, Ia selalu mengabulkan doaku. Kecuali satu saja.”

“Apa itu?” Tanya Imam Ahmad. Tukang roti menjawab, “Melihat Imam Ahmad bin Hanbal.” Lalu, dengan takjub Imam Ahmad berkata, “Aku adalah Ahmad bin Hanbal. Demi Allah, aku benar-benar didatangkan oleh Allah kepadamu.”

Nabi Shalallahu ‘alayhi wasallam bersabda:

“Barangsiapa memperbanyak istighfar (mohon ampun kepada Allah), niscaya Allah menjadikan baginya pada setiap kesedihannya jalan keluar dan pada setiap kesempitan ada kelapangan dan Allah akan memberinya rizki (yang halal) dari arah yang tiada disangka-sangka.” (Riwayat Ahmad, Abu Dawud, dan Ibnu Majah)

Di dalam hadits yang lain juga beliau bersabda:

“Demi Allah. Sungguh aku selalu beristighfar dan bertaubat kepada Allah dalam sehari lebih dari 70 kali.” (Riwayat Bukhari)

“Wahai sekalian manusia. Taubatlah (beristigfar) kepada Allah karena aku selalu bertaubat kepada-Nya dalam sehari sebanyak 100 kali.” (Riwayat Muslim)

Kisah Nabi Yunus a.s. ;

Di dalam perut ikan Nun, Yunus bertobat meminta ampun dan pertolongan Allah, ia bertasbih selama 40 hari dengan berkata: “Laa ilaaha illa Anta, Subhanaka, inni kuntu minadzh dzhalimiin (Tiada tuhan melainkan Engkau, Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah orang yang telah berbuat dhalim)” Allah mendengar doa Yunus, dan Memerintahkan ikan nun mendamparkan Yunus di sebuah pantai.

Sekiranya bukan karena doa Nabi Yunus kepada Allah, niscaya dia akan diperut ikan Nun sampai hari berbangkit. Istighfar adalah diantara bentuk terkabulkannya doa dan merupakan adab didalam berdoa yakni beristighfar kemudian mengagungkan asma Allah yang diikuti dengan bersholawat kepada Nabi Muhammad ﷺ , baru kemudian berdoa perihal apa yang dikehendaki.

Mendapat balasan surga
“Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui. Mereka itu balasannya ialah ampunan dari Tuhan mereka dan surga yang didalamnya mengalir sungai-sungai, sedang mereka kekal didalamnya; dan itulah sebaik-baik pahala orang-orang yang beramal.”(QS.Ali’Imran: 135-136).

Mengecewakan syetan
Sesungguhnya syetan telah berkata,”Demi kemulian-Mu ya Allah, aku terus-menerus akan menggoda hamba-hamba-Mu selagi roh mereka ada dalam badan mereka (masih hidup). Maka Allah menimpalinya,”Dan demi kemuliaan dan keagungan-Ku, Aku senantiasa mengampuni mereka selama mereka memohon ampunan (beristighfar) kepada-Ku.”(HR.Ahmad dan al-Hakim).

Meredam azab
Allah berfirman,”Dan Allah sekali-kali tidak akan mengazab mereka, sedang kamu berada di antara mereka. Dan tidaklah (pula) Allah akan mengazab mereka, sedang mereka meminta ampun.”(QS.al-Anfal: 33).

Mengusir kesedihan
Rasulullah bersabda,”Barangsiapa yang senantiasa beristighfar, maka Allah akan memberikan kegembiraan dari setiap kesedihannya, dan kelapangan bagi setiap kesempitannya, dan memberinya rizki dari arah yang tiada disangka-sangka.”(HR.Abu Daud, Ibnu Majah dan Ahmad).

Melapangkan kesempitan
Rasulullah bersabda,”Barangsiapa yang senantiasa beristighfar, maka Allah akan memberikan kegembiraan dari setiap kesedihannya, dan kelapangan bagi setiap kesempitannya dan memberinya rizki dari arah yang tiada disangka-sangka,”(HR.Abu Daud, Ibnu Majah dan Ahmad).

Melancarkan rizki
Rasulullah bersabda,”Sesungguhnya seorang hamba bisa tertahan rizkinya karena dosa yang dilakukannya.”(HR.Ahmad, Ibnu Hibban dan Ibnu Majah).

Maksiat menyebabkan tersendatnya rizki seseorang, bertaubatlah kepada Allah. Negeri Saba digambarkan dalam Al Quran sebagai negeri

Baldatun Thayyibatun wa rabbun ghafur

Saking subur dan makmurnya negeri itu, sampai-sampai wanita kaum Saba ketika ingin memetik buah di kebun, mereka hanya menaruh keranjang kemudian buahnya jatuh sendiri ke dalam keranjang. Namun karena perbuatan maksiat yang mereka lakukan, Allah jadikan kemarau yang berkepanjangan.

Hasan Al Bashri rahimahullah yang menunjukkan bagaimana faedah istighfar yang luar biasa.

“Sesungguhnya seseorang pernah mengadukan kepada Al Hasan tentang musim paceklik yang terjadi. Lalu Al Hasan menasehatkan, “Beristigfarlah (mohon ampunlah) kepada Allah”.

Kemudian orang lain mengadu lagi kepada beliau tentang kemiskinannya. Lalu Al Hasan menasehatkan, “Beristigfarlah (mohon ampunlah) kepada Allah”.

Kemudian orang lain mengadu lagi kepada beliau tentang kekeringan pada lahan (kebunnya). Lalu Al Hasan menasehatkan, “Beristigfarlah (mohon ampunlah) kepada Allah”.

Kemudian orang lain mengadu lagi kepada beliau karena sampai waktu itu belum memiliki anak. Lalu Al Hasan menasehatkan, “Beristigfarlah (mohon ampunlah) kepada Allah”.

Kemudian setelah itu Al Hasan Al Bashri membacakan perkataan Nabi Nuh a.s. kepada kaumnya sebagaimana ayat berikut.[2]

“Beristighfarlah kepada Tuhanmu – sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun – niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan(pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai”. (QS. Nuh :10-12)

Perkataan Nabi Hud a.s. kepada kaumnya ;

Dan (dia berkata): “Hai kaumku, mohonlah ampun kepada Tuhanmu lalu bertobatlah kepada-Nya, niscaya Dia menurunkan hujan yang sangat deras atasmu, dan Dia akan menambahkan kekuatan kepada kekuatanmu, dan janganlah kamu berpaling dengan berbuat dosa.” (QS. Hud: 52)

Membersihkan hati
Rasulullah bersabda,”Apabila seorang mukmin melakukan suatu dosa, maka tercoretlah noda hitam di hatinya. Apabila ia bertaubat, meninggalkannya dan beristighfar, maka bersihlah hatinya.”(HR.Nasa’i, Ibnu Majah, Ibnu Hibban, Tirmidzi).

Mengangkat derajatnya disurga
Rasulullah bersabda,”Sesungguhnya Allah akan mengangkat derajat seorang hamba di surga. Hamba itu berkata,’Wahai Allah, dari mana saya dapat kemuliaan ini?’ Allah berkata,’Karena istighfar anakmu untukmu’.”(HR.Ahmad dengan sanad hasan).

Mengikut sunnah Rosulullah shallalhu ‘alaihi wasallam
Abu Hurairah berkata,”Saya telah mendengar Rasulullah bersabda,’Demi Allah, Sesungguhnya aku minta ampun kepada Allah (beristighfar) dan bertaubat kepada-Nya dalam sehari lebih dari tujuh puluh kali’.”(HR.Bukhari).

Menjadi sebaik-baik orang yang bersalah
Rasulullah bersabda,”Setiap anak Adam pernah bersalah, dan sebaik-baik orang yang bersalah adalah yang segera bertaubat.”(HR.Tirmidzi, Ibnu Majah, al-Hakim).
Allah berfirman,”Dan Allah Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya. (Yaitu) orang-orang yang berdo’a:”Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami telah beriman, maka ampunilah segala dosa kami dan peliharalah kami dari siksa neraka,”(yaitu) orang-orang yang sabar, yang benar, yang tetap ta’at, yang menafkahkan hartanya (dijalan Allah), dan yang memohon ampun (beristighfar) di waktu sahur.”(QS.Ali’Imran: 15-17).

Terhindar dari kezhaliman
Allah berfirman,”…Barang siapa yang tidak bertaubat, maka mereka itulah orang-orang yang zhalim.”(QS.al-Hujurat: 11).

Mudah mendapat anak
Allah berfirman,”Maka aku katakan kepada mereka:”Mohonlah ampun (istighfar) kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan memperbanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula didalamnya) untukmu sungai-sungai.” (QS.Nuh: 10-12).

Mudah mendapatkan air hujan (dihdarkan dari petaka kekeringan)
Ibnu Shabih berkata,”Hasan al-Bashri pernah didatangi seseorang dan mengadu bahwa lahannya tandus, ia berkata, ‘Perbanyaklah istighfar’. Lalu ada orang lain yang mengadu bahwa kebunnya kering, ia berkata, ‘Perbanyaklah istighfar’. Lalu ada orang lain lagi yang mengadu bahwa ia belum punya anak, ia berkata,’Perbanyaklah istighfar’. (Kitab Fathul Bari: 11/98).

Bertambah kekuatannya
Allah berfirman,”Dan (dia berkata):”Hai kaumku, mohonlah ampun kepada Tuhanmu lalu bertobatlah kepada-Nya, niscaya Dia menurunkan hujan yang sangat deras atasmu, dan Dia akan menambahkan kekuatan kepada kekuatanmu, dan janganlah kamu berpaling dengan berbuat dosa.”(QS.Hud: 52).

Bertambah kesejahteraanya
Allah berfirman,”Maka aku katakan kepada mereka:”Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai.”(QS.Nuh: 10-12).

Menjadi orang-orang yang beruntung
Allah berfirman,”Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.”(QS.an-Nur: 31). Aisyah berkata,”Beruntunglah, orang-orang yang menemukan istighfar yang banyak pada setiap lembar catatan harian amal mereka.”(HR.Bukhari).

Keburukannya diganti dengan kebaikan
Allah berfirman,”Kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal saleh; maka kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”(QS.al-Furqan: 70).

“Dan dirikanlah sembahyang itu pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada bahagian permulaan daripada malam. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk. Itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat.” (QS.Hud: 114).

Jati diri sebagai orang mukmin
Rasulullah bersabda,”Tidak seorangpun dari umatku, yang apabila ia berbuat baik dan ia menyadari bahwa yang diperbuat adalah kebaikan, maka Allah akan membalasnya dengan kebaikan. Dan tidaklah ia melakukan suatu yang tercela, dan ia sadar sepenuhnya bahwa perbuatannya itu salah, lalu ia mohon ampun (beristighfar) kepada Allah, dan hatinya yakin bahwa tiada Tuhan yang bisa mengampuni kecuali Allah, maka dia adalah seorang Mukmin.”(HR.Ahmad).

 

[1]Majadih adalah salah satu jenis bintang yang dipercayai bangsa Arab sebagai tanda turunnya hujan. Umar bin Khattab tidak menjadikan istighfar sama dengan majadih sebagai alasan turunnya hujan. Ini dilakukan semata-semata sebagai bentuk komunikasi dengan sesuatu yang telah diketahui oleh bangsa Arab.

[2] Riwayat ini disebutkan oleh Al Hafidz Ibnu Hajar di Fathul Bari, 11: 98

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *