Jangan Jadikan Anak Majikan Di Rumahnya Sendiri

By | November 13, 2015

Sekelompok peneliti mengumpulkan lima ekor monyet di suatu ruangan. Di tengah ruangan tersebut ditempatkan sebuah tangga dengan pisang di puncaknya.

Tiap kali seekor monyet memanjat tangga, peneliti menyiram monyet-monyet lainnya dengan air dingin. Setelah beberapa waktu, tiap kali seekor monyet menaiki tangga, monyet yang lain akan memukuli temannya yang naik ke tangga. Lama kelamaan tidak ada monyet yang berani memanjat tangga itu walaupun harus menahan godaan.

Peneliti kemudian memutuskan untuk mengganti salah satu monyet. Monyet baru tersebut segera memanjat tangga di tengah ruangan, namun monyet lain memukulinya. Setelah beberapa kali terulang, anggota baru tersebut belajar bahwa memanjat tangga adalah suatu perbuatan terlarang walaupun ia tidak pernah tahu kenapa.

Monyet kedua diganti dan peristiwa yang sama terjadi. Monyet pertama berpartisipasi dalam pemukulan monyet kedua. Monyet ketiga diganti dan hal yang sama terulang. Demikian pula ketika monyet keempat dan kelima diganti.

Akhirnya di dalam ruangan itu tinggallah sekelompok monyet yang walaupun tidak pernah merasakan siraman air dingin, tetapi melanjutkan tradisi memukuli monyet yang mencoba menaiki tangga. Jika kita dapat bertanya kepada monyet-monyet itu mengenai alasan mereka memukuli anggota kelompoknya yang memanjat tangga, mungkin kita akan mendapat jawaban, ”Kami tidak tahu alasannya, namun begitulah kebiasaan di sini.”

***

Anak menonton tv karena teman-temannya melakukan itu. Anak merengek minta dibelikan playstation karena sahabatnya sering memainkan itu. Anak terus mengajak liburan ke Bali karena temannya melakukan hal yang sama dengan orang tua mereka. Hanya karena orang-orang melakukan sesuatu, bukan berarti hal itu menjadi benar.

Dunia luar memang selalu menarik bagi anak-anak. Tapi rumah adalah tempat sosialisasi pertama mereka. Di rumahlah anak-anak akan mendapatkan pondasi pembentukan karakter mereka. Jadikan rumah selalu menyenangkan. Percayalah, anak-anak begitu menikmati suasana permainan di rumah meskipun hal itu hanya bermain dengan saudara mereka. Tidak salahnya untuk mengundang anak-anak tetangga untuk ikut bergabung.

Disadari atau tidak, kita hidup di dalam komunitas yang berpusat pada anak-anak. Mereka ada di ruang tamu, di halaman rumah, di kamar tidur, sampai di gadget orang tua mereka dalam bentuk profile picture atau wallpaper laptop. Kehidupan bersama anak-anak ada di setiap sudut kehidupan kita.

Seorang pria bekerja banting tulang dari pagi hingga malam untuk menafkahi anak-anaknya, para ibu sibuk mencari tambahan penghasilan dengan berpeluh keringat untuk dapat membelikan sesuatu kepada putera-puterinya. Tanpa disadari, kita hidup dalam dunianya anak-anak.

Pada saatnya nanti, ketika anak telah beranjak dewasa, meninggalkan rumah adalah sebuah keniscayaan. Mereka harus berkelana menemukan arti hidupnya sendiri. Satu hal yang perlu kita ingatkan adalah ketika anak berada di dalam arus mayoritas dimana semua orang melakukan hal yang sama, itu tandanya untuk berhenti, intropseksi, dan evaluasi.

Kebahagiaan anak adalah kebahagiaan kita sebagai orang tuanya. Banyak orang tua yang rela melakukan apapun demi anaknya. Menyekolahkan anak di sekolah super mahal, membelikan mainan jutaan rupiah, sampai mengajaknya liburan ke luar negeri. Hal ini seolah dapat membuat anak-anak bahagia.

Satu hal yang perlu kita ingat adalah bahwa anak-anak senang jika mereka dijadikan pusat perhatian. Mereka ingin diperhatikan dan disayangi. Yang berbahaya adalah mereka dapat menjadi idola palsu, seorang sosok manusia yang dipuja di dalam rumah namun di-bully di luar rumah.

Mengapa hal ini bisa terjadi? Karena banyak orang tua yang menjadikan anaknya sebagai tuan muda dan raja kecil di dalam rumah. Anak memang membutuhkan cinta dan kasih sayang, tetapi bukan untuk diperlakukan dan dilayani seperti seorang majikan. Perlakukan mereka dengan sepatutnya.

Di akhirat nanti, seorang pemimpin akan ditanyai tentang apa yang dipimpinnya, seorang ayah akan ditanyai tentang kepemimpinannya sebagai kepala keluarga. Ayah dan ibu akan ditanyai tentang kepemimpinannya dalam mendidik anak mereka. Bukan nenek atau kakeknya, apalagi pembantu dan baby sitter si anak. Maka dari itu, mendidik anak adalah tanggung jawab setiap orang tua, kedua ibu bapaknya-lah yang nanti akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *