Kesalahan Parenting: Jangan Ajak Anak Melawan Bapaknya

By | November 17, 2015

Father’s Daya atau Hari Ayah tidak dirayakan sebagai hari libur untuk membantu penjualan kartu ucapan selamat hari ayah sehingga menguntungkan para penjual kartu.

Adalah nyonya John B. Dodd, dari Washington, Amerika Serikat yang pertama kali mengajukan gagasan tentang “hari ayah” pada tahun 1909. Dia ingin hari khusus untuk menghormati ayahnya, William Smart. William Smart adalah seorang veteran Perang Sipil di Amerika Serikat yang istrinya (ibu dari John B. Dodd) meninggal dunia ketika melahirkan anak keenam. Mau tidak mau, William harus mengasuh anak-anaknya sendirian di sebuah peternakan di area pedesaan di timur negara bagian Washington. Setelah Nyonya Dodd menjadi dewasa, dia kemudian menyadari kekuatan dan pengorbanan ayahnya yang telah membesarkan adiknya sebagai orang tua tunggal mereka.

Hari pertama Ayah diperingati pada 19 Juni tahun 1910 di Spokane Washington. Pada waktu yang sama di berbagai kota-kota lain di seluruh Amerika orang lain mulai merayakan “hari ayah”. Pada tahun 1924 Presiden Calvin Coolidge secara resmi mendukung gagasan hari ayah nasional. Akhirnya pada tahun 1966 Presiden Lyndon Johnson menandatangani peraturan presiden yang menetapkan bahwa hari minggu ketiga setiap bulan Juni diperingati sebagai Hari Ayah.

Hari Ayah bukan hanya telah menjadi momen khusus untuk menghormati sosok seorang ayah saja, tapi juga untuk semua orang yang bertindak sebagai figur ayah; Paman, kakek, ayah tangkat atau kakak laki-laki tertua.

***

Kita tentunya tidak begitu mendewa-dewakan hari ayah seperti halnya orang barat. Sebagai seorang anak, kita tahu betapa besarnya pengorbanan seorang ayah. Ironisnya, beberapa orang tua ketika bertengkar satu sama lain sering mengajak anak untuk berpihak pada salah satunya. Apabila seorang istri merasa diperlakukan tidak adil oleh suaminya, sang istri seringkali curhat kepada anaknya sendiri dan cenderung meminta anak-anak untuk memihak kepadanya.

Seorang istri sering mengajak anak-anak mereka melawan sang suami. Istri mungkin tidak menyadari bahwa suami mereka adalah ayah kandung dari anak-anak mereka sendiri. Anak-anak tetap harus menghormati dan menaati keduanya, ibu dan bapak.

Terus menerus menyuguhkan anak-anak dengan berbagai keburukan bapak mereka, seorang ibu sama saja telah mendidik anak-anak mereka untuk berbuat durhaka kepada ayahnya sendiri.

Sayangnya, seringkali cara ini juga dilakukan istri untuk mengadu domba seorang anak dengan om, tante, nenek atau kakenya sendiri. Hal ini biasanya bermuara dari konflik pribadi antara seorang ibu dengan keluarga dari pihak suami. Anak-anak pada akhirnya disuguhi dengan berita-berita yang dilebih-lebihkan tentang dzalimnya keluarga besar sang ayah terhadap ibu mereka.

Menjauhi anak-anak dengan keluarga besarnya adalah salah satu kejahatan besar dalam rumah tangga. Kejahatan terselebung yang memutuskan ikatan cinta, silaturahmi dan keakraban keluarga besar. Konflik pribadi yang dimiliki orang tua tidak sepatutnya menjadikan anak sebagai korbannya. Anak-anak tidak boleh dijauhkan dari kasih sayang dan hubungan harmonis dengan sanak kerabatnya.

Hal terbaik yang dapat dilakukan para orang tua adalah menunjukkan keharmonisan hubungan mereka satu sama lain, antara ayah dan ibu, antara orang tua dengan om, tante, atau kakek dan nenek. Suasana harmonis dan kemesraan yang diperlihatkan kepada anak dapat memberikan pengaruh positif terhadap perkembangan emosional anak-anak. Perselisihan memang kadang tidak dapat dihindarkan. Namun  alangkah baiknya jika hal tersebut tidak ditampakkan di depan anak-anak.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *