Kesalahan Parenting: Tidak Mengajarkan Batasan Laki-Laki dan Perempuan

By | November 16, 2015

Anto bertekad keras agar kedua anaknya tidak terjerumus ke dalam pergaulan bebas. Dari kecil, kedua putrinya telah diajarkan tentang batas-batas hubungan antara laki-laki dan perempuan.

Setelah mencapai usia baligh. Anak-anak perempuan tidak boleh lagi satu kamar dengan adiknya yang laki-laki. Anak-anak juga diajarkan untuk meminta izin terlebih dahulu jika ingin masuk ke dalam kamar ayah dan ibunya.

Anto dan istrinya juga berusaha mencarikan sekolah yang terbaik untuk anak-anaknya. Mereka mencari sekolah yang memisahkan antara siswa putera dan puterinya.

Buah pendidikan yang ditanamkan sejak kecil akhirnya berbuah manis. Satu demi satu anaknya menjadi penghapal Al-Quran, baik anak laki-laki maupun anak perempuan. Salah satu puteranya bahkan sedang bersiap untuk kuliah di Madinah. Ia Insya Allah akan melanjutkan pendidikan di salah satu kampus bergengsi di kota itu berkat beasiswa dari pemerintah Arab Saudi.

Di saat remaja-remaja lain sedang keranjingan dengan budaya pacaran, menonton bareng di bioskop, dan hidup bercampur baur antara laki-laki dan perempuan. Anak-anak mereka terjaga dari fitnah yang merajalela.

Meski awalnya sangat berat, karena bagaimanapun juga, di saat gejolak hasrat remaja yang sedang menggebu-gebu, anak-anak mereka harus menahan keinginan untuk bersenang-senang layaknya remaja kebanyakan.

Tapi Anto dan istrinya tidak kehilangan akal. Mereka memberikan alternatif kegiatan yang dapat menyibukkan anak-anak mereka dengan kegiatan yang bermanfaat.

Anak perempuan diajak untuk mengikuti kursus menjahit, sedangkan anak laki-lakinya dikursuskan montir motor. Meskipun tidak terbersit keinginan di hati keduanya agar anak-anak mereka bisa menjadi penjahit atau montir motor. Namun kemampuan tersebut adalah skill kehidupan, keterampilan yang nantinya akan bermanfaat bagi kehidupan mereka.   Sehingga anak-anak mereka tumbuh menjadi pribadi yang cerdas, berakhlak baik, dan terampil.

***

Kesuksekan adalah jika Allah ridha dengan kehidupan seorang hamba, orang tersebut ridha dengan dirinya sendiri, dan orang-orang sekitarnya juga ridha kepada dirinya. Dia memberikan manfaat positif kepada masyarakat di sekitarnya. Inilah seharusnya yang menjadi konsep kesuksesan setiap orang tua terhadap anaknya.

Manusia adalah produk dari kebiasaan-kebiasaannya. Barangsiapa membiasakan dengan berkata-kata yang baik, maka hal itu dapat menjadi sifat yang melekat pada dirinya. Jika anak-anak sudah terbiasa menerapkan batas-batas pergaulan antara laki-laki dan perempuan, maka sifat tersebut akan melekat pada dirinya.  Jika anak-anak sudah terbiasa shalat sejak usia dini, maka kebiasaan tersebut akan tertanam kuat di dalam dirinya.

Jangan biarkan anak melalaikan shalat. Shalat merupakan tiang agama dan salah satu amalan paling penting dalam Islam. Mendidik anak untuk disiplin menjalankan shalat adalah tanggung jawab besar setiap orang tua muslim. Para orang tua harus memastikan bahwa anak-anaknya disiplin dalam mendirikan shalat dan tidak meninggalkannya karena alasan apapun.

Oleh karena itu, ketika anak sudah mencapai usia baligh dan sulit untuk melaksanakan shalat, maka anak perlu diingatkan untuk melakukannya.

Anak-anak perlu diawasi ketika mereka mulai shalat untuk pertama kali. Anak-anak cenderung shalat dengan bermain-main dengan gerakan yang sangat cepat dan ala kadarnya.

Seorang ayah juga harus berusaha mengajak anak-anak lakinya shalat ke masjid. Hal ini dilakukan agar anak-anak terbiasa untuk melakukan shalat di masjid secara berjamaah. Selain itu, dengan shalat di masjid, anak-anak sebagai makmum harus mengikuti instruksi dan gerakan imam sehingga mereka tidak akan shalat terburu-buru dan serampangan.

Jika hal ini dilakukan terus-menerus dan konsisten, rutinitas shalat berjamaah akan menjadi kebiasaan positif yang telah tertanam sejak kecil hingga dewasa kelak Insya Allah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *