Keutamaan Shalat Dhuha

By | January 6, 2016

Siapa yang tidak senang melakukan sekaligus dihitung sebagai sedekah.

Ada shalat di pagi hari yang sama dengan sedekah.

Keutamaan Shalat Dhuha

Rasulullah shallallahu ‘alihi wa sallam bersabda,

“Pada pagi hari diharuskan bagi seluruh persendian di antara kalian untuk bersedekah.

Setiap bacaan tasbih (subhanallah) bisa sebagai sedekah,

…setiap bacaan tahmid (alhamdulillah) bisa sebagai sedekah,

…setiap bacaan tahlil (laa ilaha illallah) bisa sebagai sedekah,

…dan setiap bacaan takbir (Allahu akbar) juga bisa sebagai sedekah.

Begitu pula amar ma’ruf (mengajak kepada ketaatan) dan nahi mungkar (melarang dari kemungkaran) adalah sedekah.

Ini semua bisa dicukupi (diganti) dengan melaksanakan shalat Dhuha sebanyak 2 raka’at.” (HR. Muslim no.  720)

Di dalam tubuh manusia sendiri terdapa 360 persendian.

Hal ini berdasarkan sebuah hadits riwayat Muslim berikut ini yang juga telah dibuktikkan dalam dunia medis.

“Sesungguhnya setiap manusia keturunan Adam diciptakan dalam keadaan memiliki 360 persendian.” (HR. Muslim no. 1007)

Bayangkan sedekah dengan 360 persendian ini bisa digantikan hanya dengan mengerjakan shalat Dhuha.

Di hadits lain disebutkan,

“Dari Buraidah, beliau mengatakan bahwa beliau pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Manusia memiliki 360 persendian. Setiap persendian itu memiliki kewajiban untuk bersedekah.”

Para sahabat pun mengatakan,

“Lalu siapa yang mampu bersedekah dengan seluruh persendiannya, wahai Rasulullah?”

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas mengatakan,

“Menanam bekas ludah di masjid atau menyingkirkan gangguan dari jalanan.

Jika engkau tidak mampu melakukan seperti itu, maka cukup lakukan shalat Dhuha dua raka’at.” (HR. Ahmad, 5/354)

Dari Nu’aim bin Hammar Al Ghothofaniy, beliau mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Allah Ta’ala berfirman: Wahai anak Adam, janganlah engkau tinggalkan empat raka’at shalat di awal siang (di waktu Dhuha). Maka itu akan mencukupimu di akhir siang.”

(HR. Ahmad (5/286), Abu Daud no. 1289, At Tirmidzi no. 475, Ad Darimi no. 1451 . Syaikh Al Albani dan Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa hadits ini shahih)

Hadits ini bisa mengandung pengertian bahwa shalat Dhuha akan menyelematkan pelakunya dari berbagai hal yang membahayakan.

Bisa juga dimaksudkan bahwa shalat Dhuha dapat menjaga dirinya dari terjerumus dalam dosa atau ia pun akan dimaafkan jika terjerumus di dalamnya.

Atau maknanya bisa lebih luas dari itu.” (‘Aunul Ma’bud, Muhammad Syamsul Haq Al Azhim Abadi, 4/118, Darul Kutub Al ‘Ilmiyyah, cetakan kedua, tahun 1415 H)

Hukum Shalat Dhuha

Shalat Dhuha adalah sunnah yang boleh dirutinkan setiap hari.

“Kekasihku –yaitu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam- mewasiatkan tiga nasehat padaku: [1] Berpuasa tiga hari setiap bulannya,

[2] Melaksanakan shalat Dhuha dua raka’at, dan

[3] Berwitir sebelum tidur.”

(HR. Bukhari no. 1981 dan Muslim no. 721)

Dua rakaat shalat Dhuha tidak mengapa.

”Amalan yang paling dicintai oleh Allah Ta’ala adalah amalan yang kontinu walaupun itu sedikit.”

’Aisyah pun ketika melakukan suatu amalan selalu berkeinginan keras untuk merutinkannya. (HR. Muslim no. 783)

Jumlah Raka’at Shalat Dhuha

Minimal jumlah rakaat shalat dhuha adalah dua raka’at sedangkan maksimalnya adalah tanpa batas.

Hal ini berdasarkan hadits berikut.

Mu’adzah pernah menanyakan pada ‘Aisyah –radhiyallahu ‘anha- berapa jumlah raka’at shalat Dhuha yang dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam?

‘Aisyah menjawab, “Empat raka’at dan beliau tambahkan sesuka beliau.” ( HR. Muslim no. 719)

Pendapat ini dipilih juga oleh Syaikh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin dalam Syarh Al Arba’in An Nawawiyah,hal. 289

Boleh dua, empat raka’at, dan seterusnya asalkan jumlah raka’atnya genap.

Pelaksanaannya dilakukan secara dua raka’at –dua raka’at.

Waktu Shalat Dhuha

Sebaik-baik waktu untuk mengerjakan shalat Dhuha adalah di akhir waktu (menjelang masuk waktu siang)

Zaid bin Arqom melihat sekelompok orang melaksanakan shalat Dhuha, lantas ia mengatakan,

“Mereka mungkin tidak mengetahui bahwa selain waktu yang mereka kerjakan saat ini, ada yang lebih utama.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“(Waktu terbaik) shalat awwabin (nama lain untuk shalat Dhuha) adalah ketika anak unta merasakan terik matahari.” (HR. Muslim no. 748)

Meskipun demikian, shalat Dhuha boleh dikerjakan mulai dari waktu matahari meninggi.

Kira-kira sekitar 15 – 20 menit setelah matahari terbit.

Semoga bermanfaat dan selamat merutinkan shalat dhuha.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *