Mandi Yang Disunahkan

By | December 5, 2015

Pertama, mandi di hari Jumat

Di hari Jumat, kaum muslimim berkumpul bersama dalam rangka menunaikan shalat Jumat bersama.

Allah ta’ala mensyariatkan agar mandi, sehingga kaum muslimin shalat Jumat dalam keadaan yang bersih dan suci.

Sebagaimana hadits yang telah diriwayatkan oleh Abu Sa’Indonesia al-Khudri bahwa Nabi SAW bersabda,

“Mandi di hari Jumat itu wajib bagi setiap orang yang dewasa.” (HR. Bukhari Muslim)

Makna wajib di sini, adalah penekanan atas kesunahannya.

Hal ini berdasarkan hadits Nabi SAW yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, bahwa suatu ketika Umar berdiri khutbah di hari Jumat.

Tiba-tiba masuk seorang sahabat dari generasi awal muhajirin, dia adalah Utsman bin Affan.

Lalu Umar mengatakan kepadanya, “Jam berapakah ini?”

Utsman menyahut, Aku sibuk, belum kembali ke rumah sampai aku mendengar panggilan adzan…

…Aku hanya bisa berwudhu”

Umar berkata, “Juga wudhu, padahal Rasulullah SAW telah memerintahkan untuk berwudhu.”

Menurut Imam Syafi’i, kenapa Utsman tidak mandi dan Umar juga tidak memerintahkannya agar keluar untuk mandi.

Hal ini menunjukkan, keduanya sebenarnya mengetahui bahwa perintah mandi diartikan dengan SUNAH.

Waktu untuk mandi berkenaan shalat Jumat adalah mulai dari terbitnya fajar sampai sebelum adzan shalat Jumat.

Yang lebih dianjurkan adalah mandi ketika baru akan mau melaksanakan shalat Jumat.

Dan bila dilakukan setelah shalat Jumat, maka mandinya tidak masuk dalam kategori mandi Jumat.

Lalu bila berhadats setelah mandi, cukup baginya untuk berwudhu.

Kedua, mandi di dua hari raya

Para ulama banyak yang menghukumi sunah mandi di dua hari raya, Idul Fitri dan Idul Adha.

Ulama Malikiyah berpendapat bahwa mandi di dua hari raya adalah sunah…

…yaitu dilaksanakan di seperenam akhir malam atau setelah terbit fajar hari Ied.

Demikian menurut Ibnu Aqil yang diterimanya dari Ahmad, bahwa waktunya sebelum atau setelah terbit fajar.

Karena waktu shalat Ied lebih sempit dari waktu shalat Jumat.

Shalat hari raya ada kemiripan dengan shalat Jumat, yaitu disyaratkan dengan berjamaah bukan sendiri-sendiri.

Ketiga, mandi ketika hendak melakukan ihram

Menurut kebanyakan para ulama, disunahkan mandi bagi yang akan melakukan ihram baik dalam haji atau umrah.

Sebagaimana hadits yang diriwayatkan Zaid bin Tsabit,

“Bahwa ia telah melihat Rasulullah SAW melepas pakaian ihamnya, lalu beliau mandi.” (HR. Daruqutni, Baihaqi, dan Tirmidzi lalu beliau menghasankannya)

Keempat, mandi ketika hendak masuk kota Mekkah

Sebagaimana diceritakan oleh Ibnu Mundzir, bahwa semua ulam mensunahkan mandi ketika hendak memasuki kota Mekkah.

Dan tidak ada fidya bagi mereka yang meninggalkannya.

Hal ini sebagaimana telah diriwayatkan oleh Ibnu Umar,

“Bahwa dia tidak masuk kota Mekkah kecuali dia bermalam di Dzitoa hingga waktu shubuh, dan mandi lalu masuk kota Mekkah. Dia sebutkan, bahwa hal itu sebagaimana telah dilakukan oleh Rasulullah SAW.” (HR. Bukahri Muslim)

Kelima, mandi ketika wukuf di Arofah

Disunahkan mandi bagi mereka yang akan wukuf di Arofah untuk haji, sebagaimana telah diriwayatkan oleh Malik dari Nafi’,

“Bahwa Abdullah bin Umar mandi sebelum berihram, sebelum masuk Mekkah dan ketika hendak wukuf pada sore hari di padang Arafah.”

Keenam, mandi bagi wanita mustahadhah

Para ulama berselisih pendapat tentang seorang wanita yang mustahadhah.

Ali, Ibnu Umar, Ibnu Abbas dan Ibnu Jubair berpendapat, wajib baginya mandi di setiap akan shalat.

Sebagaimana diriwayatkan Aisyah dan hadits Bukhari, bahwa Ummu Habibah ketika mengalami istihadhah, bertanya kepada Rasulullah SAW.

Maka beliau memerintahkan agar mandi di setiap shalat.

Aisyah, Ibnu Umar, Ana, Said dan Ibnu Musayyib berpendapat, wanita mustahadhah hendaknya mandi di setiap harinya satu kali, yaitu dari dhuhur sampai dhuhur kembali.

Dan kebanyakan ulama berpendapat, hendaknya ia mandi ketika usai haidnya dan berwudhu di setiap shalatnya, juga menurut Urwah, Imam Syafi’i, dan Ashaburra’yi.

Pendapat inilah yang disepakati oleh Ibnu Qudamah, sebagaimana sabda Nabi SAW kepada Fatimah,

“Ia hanya kotoran dan bukan haid. Dan bila telah dating waktu haidmu, maka tinggalkanlah shalat dan bila selesai, hendaknya engkau sucikan darahnya dan shalatlah, serta berwudhulah di setiap shalatnya.” (HR. Tirmidzi, menurutnya ia hadits hasan shahih)

Ia adalah darah yang di luar kemaluan, maka diwajibkan wudhu sebagaimana darah haidh.

Dan mandi di setiap shalat adalah lebih baik, karena menjadikan keluar dari perselisihan ulama selain juga untuk lebih berhati-hati.

Ketujuh, mandi bagi yang memandikan mayat

Para ulama banyak yang mensunahkan bagi yang telah memandikan mayat agar melakukan mandi besar.

Hal ini sebagaimana hadits   Abu Hurairah, bahwa Nabi SAW bersabda,

“Barangsiapa memandikan mayat, maka hendaknya ia mandi. Dan barangsiapa menyentuhnya, maka hendaknya ia berwudhu.” (HR. Ahmad, Abu Daud dan Tirmidzi)

Walau sebagian ulama ada yang mendhaifkan hadits ini, tapi menurut al-Hafidz Ibnu Hajar, hadits tersebut telah dihasankan oleh Tirmidzi dan Ibnu Hibban karena jalannya yang banyak.

Demikian juga menurut adz-Dzahabi, jalan hadits ini lebih kuat dibanding hadits lain yang dijadikan sandaran oleh beberapa fuqaha’.

Dan perintah di dalamnya bermakna sunah.

(Sumber: Majalah Ar Risalah No. 49 Jumadil Akhir 1426 H)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *