Mencetak Anak Shalih

By | December 10, 2015

Anak shalih bisa menjadi investasi passive income kedua orang tuanya ketika sudah meninggal dunia.

Hal ini sebagaimana sabda Rasulullah Saw yang diriwayatkan oleh Imam Muslim.

Bahwa amal seseorang akan terputus jika ruh telah memisahkan diri dari jasadnya, kecuali untuk tiga urusan; sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan doa anak shalih.

Setiap orang tua yang ingin mendapatkan anak shalih tidak boleh luput untuk memperbaiki dirinya sendiri.

Jangan kita berharap anak menjadi shalih tapi kita sendiri sebagai orang tua masih bermaksiat.

Kita ingin anak shalat tepat waktu tapi kita sendiri melalaikan shalat hingga ke ujung waktu.

Kita ingin anak mendoakan kita tapi kita sendiri sering lupa mendoakan kedua orang tua yang sudah meninggal.

Kita ingin anak bisa menjadi hafidz Quran, tapi kita sendiri masih malas untuk sekedar membacanya setiap hari.

Dalam Jami; Al ‘Ulum wa Al Hikam, 1: 467, Sa’Indonesia bin Al Musayyib pernah berkata kepada anaknya jika ia akan terus menambah shalatnya.

Agar anaknya kelak bisa menjadi anak yang shalih.

Setiap orang beriman yang wafat dimana semasa hidupnya selalu melaksanakan kewajibannya kepada Allah.

Maka Allah akan menjaga anak dan keuturannya setelah kematiannya.

Di dalam Al Quran surah Al Kahfi.

Alah menjaga dua orang anak yatim karena ayahnya adalah orang yang shalih.

Selain perbaikan diri sendiri.

Kita sebagai orang tua juga tentunya tidak boleh melupakan pendidikan agam sejak dini.

Allah telah memperingatkan orang-orang yang beriman untuk memelihara diri dan juga keluarga dari api neraka.

Menurut Ibnu Katsir, maksud menjaga diri dan keluarga dari api neraka adalah dengan mengajari adab dan agama.

Bukankah Rasulullah Saw memerintahkan anak-anak untuk mengerjakan shalat ketika mereka telah mencapai usia 7 tahun.

Pukul mereka apabila tidak melakukan shalat ketika sudah 10 tahun.

Dan pisahkan tempat tidur mereka.

Dalam etika makan juga sama. Rasulullah Saw memerintahkan untuk mulai makan dengan ucapan bismillah.

Makan dengan tangan kanan dan mulai dari apa yang dekat.

Terlebih untuk perbuatan maksiat seperti berzina, meminum khamr, dan perbuatan keji lainnya.

Kurangnya ilmu orang tua bukanlah menjadi alasan.

Ada banyak madrasah, pesantren, dan sekolah islam yang memiliki fasilitas memadai.

Mulai dari yang tradisional sampai yang modern.

Mulai dari yang fokus mempersiapkan para penghapal Al Quran sampai yang mempersiapkan bibit-bibit ulama masa depan.

Tapi bukan berarti tugas dan tanggung jawab orang tua untuk mendidik anak bisa dilepaskan begitu saja.

Bukankah kita ingin mendapatkan investasi passive income dari amal dan doa anak kita.

Al Hasan Al Bashri berkata,

“Tidak ada sesuatu yang lebih menyejukkan mata seorang mukmin selain melihat istri dan keturunannya taat pada Allah ‘azza wa jalla.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *