Mengapa Ada Takdir Buruk & Bagaimana Menyikapinya?

By | December 3, 2015

“Dan sekali-kali tidaklah Rabb-mu menganiaya hamba-hamba-Nya.” (QS. Fushshilat: 46)

Banyak orang sering bertanya jika Allah Maha Berkuasa, mengapa Allah mentakdirkan adanya keburukan?

Perlu diingat bahwa Allah tidak menghendaki dan menciptakan sesuatu yang bersifat buruk secara mutlak. Meskipun demikian, di dalam setiap sesuatu yang dianggap buruk oleh manusia, pasti terkandung hikmah yang baik.

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 216)

Segala sesuatu yang ditakdirkan Allah SWT pasti mengandung hikmah, baik yang diketahui maupun yang tidak diketahui oleh manusia.

Takdir terkadang terlihat tidak berpihak kepada seseorang, akan tetapi mengandung kebaikan di sisi yang lain. Keburukan yang terjadi dalam takdir bukanlah keburukan yang hakiki, karena terkadang akan menimbulkan hasil akhir berupa kebaikan.

Allah SWT berfirman,

“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supay Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS. Ar Ruum: 41)

Cara Menyikapi Takdir

Imam Ibnul Qoyyim dalam kitabnya Allah Swt Fawaid memberikan enam solusi jika seseorang mengalami peristiwa kurang menggembirakan.

[1] Memandang dari sisi tauhid

Allahlah yang menakdirkan, menghendaki dan menciptakan kejadian tersebut.

Segala sesuatu yang Allah kehendaki pasti terjadi, dan  segala sesuatu yang tidak Allah kehendaki tidak akan terjadi. Kita harus rida atas segala ketetapan Allah SWT

“Aku rela Allah sebagai Rabb-ku, Islam sebagai agamaku dan Nabi Muhammad shalllallahu ‘alaihi wa sallam sebagai Nabiku” (HR. Ahmad dan yang lainnya, dishahihkan oleh Al-Hakim dan disetujui oleh Adz-Dzahabi).

[2] Memandang dari sisi keadilan

Bahwa dalam kejadian tersebut berlaku hukum-Nya dan adil ketentuan takdir-Nya. Allah SWT berfirman,

“Dan sekali-kali tidaklah Rabb-mu menganiaya hamba-hamba-Nya.” (QS. Fushshilat: 46)

“Dan apa saja musibah yang menimpa kalian maka adalah disebabkan oleh perbuatan tangan kalian sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahan kalian).” (Asy-Syuuraa: 30)

[3] Memandang dari sisi kasih sayang

Bahwa rahmat-Nya dalam peristiwa pahit tersebut mengalahkan kemurkaan dan siksaan-Nya yang keras.

Tidaklah Allah menakdirkan atas diri seorang mukmin sebuah peristiwa yang pahit, kecuali didasari kasih sayang-Nya kepada hamba tersebut. Dan kasih sayang-Nya mengalahkan murka-Nya. Allah SWT berfirman,

“Dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu.” (QS. Al-A’raaf:156)

“Sesungguhnya rahmat-Ku mengalahkan kemurkaan-Ku.” (HR. Bukhari dan Muslim)

[4] Memandang dari sisi hikmah

Allah Swt. tidak menakdirkan sebuah kejadian begitu saja tanpa tujuan dan tidak pula Dia memutuskan suatu ketentuan takdir dengan tanpa hikmah. Allah SWT berfirman,

“Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami?” (QS. Al Mukminuun: 115)

“Apakah manusia mengira, bahwa ia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggung jawaban)?” (Al-Qiyaamah: 36)

[5] Memandang dari sisi pujian

Bahwa Allah SWT terpuji dengan pujian sempurna atas penakdiran kejadian tersebut, dari segala sisi.

“Do’a mereka di dalamnya ialah subhanakallahumma dan salam penghormatan mereka ialah salam. Dan penutup doa mereka ialah segala puji hanya bagi Allah Rabb semesta alam.” (Yunus: 10)

[6] Memandang dari sisi penghambaan

Bahwa orang yang menjalani takdir yang buruk itu adalah sekedar hamba semata dari segala sisi, maka berlaku atasnya hukum-hukum Sang Pemiliknya, dan berlaku pula takdir-Nya atasnya sebagai milik dan hamba-Nya, maka Dia mengaturnya di bawah hukum takdir-Nya sebagaimana mengaturnya pula di bawah hukum Syar’i-Nya.

Jadi, orang tersebut merupakan hamba yang berlaku atasnya hukum-hukum ini semuanya.

“Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi, kecuali akan datang kepada Tuhan Yang Maha Pemurah selaku seorang hamba.” (Maryam: 93)

“Dan hamba-hamba Tuhan yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan.” (Al-Furqaan: 63)

Semoga bermanfaat…

 

Salam

Sulaymane Idris

One thought on “Mengapa Ada Takdir Buruk & Bagaimana Menyikapinya?

  1. Rojikin

    Ingin jalan keluar dari kesulitan hutang yg belum juga lunas

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *