Mengapa Hartaku Sedikit?

By | December 20, 2015

Rezeki dan kekayaan adalah hak prerogatif Allah.

Manusia boleh berusaha keras siang malam.

Manusia boleh saja menggunakan berbagai strategi untuk mengumpulkan uang.

Manusia boleh saja jungkir balik mengais uang dengan berbagai cara.

Tapi semuanya itu ada di dalam pengurusan Allah semata.

Mengapa ada yang diberi sedikit harta?

Sebaliknya, ada banyak orang yang diberi harta melimpah ruah?

Allah berfirman,

“Dan jikalau Allah melapangkan rezki kepada hamba-hamba-Nya tentulah mereka akan melampaui batas di muka bumi,

…tetapi Allah menurunkan apa yang dikehendaki-Nya dengan ukuran.

Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui (keadaan) hamba-hamba-Nya lagi Maha Melihat.” (QS. Asy Syuraa: 27)

Dengan harta yang berlebih, manusia bisa berbuat sesuka hatinya dan melampaui batas.

Mereka bisa bersikap angkuh dan sombong, serta saling meremehkan satu sama lain.

Akan tetapi Allah memberikan rezeki-Nya sesuai kadar.

Ada sebuah hadits dho’if namun memiliki makna yang shahih karena berdasarkan dari surat Asy Syuraa di atas.

“Sesungguhnya di antara hamba-Ku, keimanan barulah menjadi baik jika Allah memberikan kekayaan padanya.

Seandainya Allah membuat ia miskin, tentu ia akan kufur.

Dan di antara hamba-Ku, keimanan barulah baik jika Allah memberikan kemiskinan padanya.

Seandainya Allah membuat ia kaya, tentu ia akan kufur”. (As Silsilah Adh Dho’ifah no. 1774. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini dho’if)

Hati-hati! Istidroj

Ada orang yang Allah berikan kekayaan berlimpah.

Rumah mewah, dua tiga empat.

Apartemen dengan harga di atas 1M di kawasan segi tiga emas seakan mudah untuk dibeli.

Mobil-mobil berkelas bertengger di garasi.

Hati-hati…

Ini bisa jadi adalah istidroj.

Yaitu bentuk pemberian dari Allah untuk membuat seseorang menjadi semakin terlena dengan maksiat dan terjerumus semakin jauh ke dalam kekufuran.

Hal ini akibat ia tidak meyakini adanya Allah dan terus menerus berbuat maksiat.

Allah beri dia kekayaan yang terus bertambah dan bertambah.

Semua kekayaannya tidak membuat ia menjadi semakin baik agamanya.

Justru segala kenikmatan yang ia nikmati menjadi sesuatu yang melenakan.

“Maka tatkala mereka berpaling (dari kebenaran), maka Allah terus akan memalingkan hati mereka.” (QS. Ash Shof: 5)

“Sesungguhnya Kami telah mencobai mereka (musyrikin Mekah) sebagaimana Kami telah mencobai pemilik-pemilik kebun,

…ketika mereka bersumpah bahwa mereka sungguh-sungguh akan memetik (hasil) nya di pagi hari,

,,,dan mereka tidak menyisihkan (hak fakir miskin), lalu kebun itu diliputi malapetaka (yang datang) dari Tuhanmu ketika mereka sedang tidur.” (QS. Al Qolam: 17-19)

Semua kenikmatan yang melenakan ini bukan hanya dalam bentuk harta saja.

Bisa saja dengan umur panjang, kesehatan, keturunan dan anak-anak yang sukses dalam hal duniawi.

Kita harus introspeksi diri.

Apakah berbagai nikmat yang kita dapatkan dari Allah, semua itu semakin mendekatkan kita kepada Allah atau malah sebaliknya?

Semakin menjauh dari jalan yang lurus dan terbuai dalam segala kenikmatan yang melalaikan.

Apakah pekerjaan, bisnis, dan harta kita membuat kita lalai melaksanakan shalat, sering menunda-nunda bahkan sampai tidak mengerjakannya sama sekali?

Semoga Allah senantiasa memberikan kita nikmat yang memiliki keberkahan di dalamnya.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *