Monogami atau Poligami?

By | December 3, 2015

“Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga, atau empat.” (QS. an-Nisaa’: 3)

Baru di generasi kita, poligami dianggap aneh. Sejak zaman nabi Adam sampai kakek nenek kita, praktik poligami masih lazim dilakukan.

Poligami diperbolehkan dalam Islam dan tidak ada pertentangan akan hal ini. Aturannya jelas, setiap suami harus mencintai semua istrinya dengan adil tanpa berpihak kepada salah satunya.

Hadiah terbesar yang bisa diberikan seorang suami kepada istri-istrinya bukanlah perkara materi, tapi lebih kepada hak cinta dan perhatian yang adil kepada semua istri.

Setiap istri juga tidak boleh menjadi seorang ratu sejagat dan merasa paling berhak mendapatkan perhatian lebih dari istri-istri yang lainnya karena satu atau dua alasan tertentu.

Kompetisi di antara istri-istri tidak boleh terjadi.

Sayangnya, poligami sering dipandang oleh beberapa pihak sebagai pernikahan bermasalah. Mereka sepertinya lupa, berapa banyak orang-orang yang menjalani pernikahan poligami berhasil bahagia dan sukses?

Kesuksesan mereka yang berpoligami seakan jauh dari hingar-bingar liputan media. Poligami bisa berjalan dengan baik jika suami dan para istri menjalankannya dengan cara yang benar.

Kenyataan di lapangan memang terdapat beberapa cerita horor dan mengerikan perihal poligami. Jika sampai terjadi, minimal satu orang dalam kasus poligami yang bermasalah tidak mengikuti Al Quran dan Sunnah; bisa dari pihak suami maupun istri.

Seorang yang berpoligami harus benar-benar mematuhi aturan Allah Swt dan mengikuti contoh-contoh yang dipraktikkan oleh Nabi Muhammad Saw dan istri-istrinya dalam menjalankan sebuah pernikahan.

Jangan dalil poligaminya diambil, kemudian tuntunannya ditinggalkan.

Ini adalah prinsip dasar dari setiap pernikahan baik poligami atau bukan. Jika Anda ingin serius menjalankan poligami, maka pondasi Al Quran dan Sunnah adalah kunci untuk berhasil.

Bagi sebagian orang, memiliki satu istri yang mungkin sudah membuatnya merasa cukup dan bersyukur. Tapi buat sebagian lainnya, ide untuk berpoligami selalu terngiang di kepala dan terus menerus menghantui mereka.

Poligami dapat menjadi tempat untuk membangun dan memperbaiki sebuah hubungan antara dua insan. Tapi resiko yang terkandung di dalamnya juga tidak kecil.

Poligami bukanlah pelarian dari sebuah rumah tangga yang bermasalah.

Monogami atau poligami adalah hak Anda. Meskipun demikian, jangan pernah berpikir bahwa poligami adalah solusi dari setiap permasalahan rumah tangga.

Para suami yang didera cobaan dalam kehidupan berkeluarganya sering berandai-andai kalau poligami akan menyelesaikan urusan rumah tangga dari istri pertamanya.

Membawa orang baru ke dalam sebuah rumah tangga justru seringkali akan menambah besar sebuah masalah yang sebelumnya sudah ada. Jika niat para suami untuk berpoligami karena hal di atas, maka kasihan sekali wanita baru yang masuk ke dalam rumah tangga laki-laki tersebut.

Ia yang tidak tahu apa-apa langsung menjadi bagian dari masalah suami barunya tersebut.

Poligami menambah kompleksitas permasalahan dalam rumah tangga yang sudah ada. Membangun sebuah rumah tangga dengan multiple relationship tidaklah mudah.

Dibandingkan dengan yang biasanya terjadi pada penikahan monogami, poligami memiliki tantangannya tersendiri. Pikirkan baik-baik keputusan Anda sebelum berpoligami.

Semoga bermanfaat…

 

Salam

Sulaymane Idris

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *