Para Pria Wajib Baca Ini: 3 Karakter Istri Idaman (Wanita Juga Perlu Baca Untuk Introspeksi Diri)

By | December 19, 2015

“Perempuan itu dinikahi karena empat faktor yaitu agama, martabat, harta dan kecantikannya. Pilihlah perempuan yang baik agamanya. Jika tidak, niscaya engkau akan menjadi orang yang merugi” (HR. Muslim  no. 2230)

Sebelum proses pernikahan benar-benar terwujud.

Langkah pertama setiap pria yang ingin menggenapkan setengah agamanya adalah dengan mencari wanita yang ingin dinikahinya.

Berikut ini adalah 3 kriteria istri idaman yang harus Anda ketahui.

[1] Baik Aqidahnya

Wanita idaman adalah wanita yang aqidahnya baik.

Tidak percaya ramalan, zodiak, dan perbuatan-perbuatan syirik lainnya.

Jika mendatangi atau membaca ramalan, Rasulullah Saw bersabda,

“Barangsiapa yang mendatangi tukang ramal, lalu ia bertanya mengenai sesuatu, maka shalatnya tidak diterima selama 40 malam.” (HR. Muslim  no. 2230, dari Shofiyah, dari sebagian istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.)

Namun, jika sampai mempercayainya, Rasulullah Saw bersabda,

“Barangsiapa mendatangi dukun atau tukang ramal, lalu ia membenarkan apa yang mereka katakan, maka ia telah kufur pada Al Qur’an yang diturunkan pada Muhammad.” HR. Ahmad (2/492)

[2] Menjaga Aurat Dengan Pakaian Syar’i

Pakaian syar’i adalah pakaian yang menutupi seluruh bagian tubuh termasuk kaki kecuali muka/ wajah dan telapak tangan.

Selain itu, pakaian tersebut juga tidak ditujukan untuk tabarruj.

Tabarruj adalah memperlihatkan kecantikan, perhiasaan, dan segala sesuatu yang dapat menimbulkan syahwat kaum Adam.

“Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu ber-tabarruj seperti orang-orang jahiliyyah pertama.” (QS. Al Ahzab : 33)

Perlu diingat bahwa pakaian syar’i untuk perempuan haruslah longgar dan tidak tembus pandang.

Di samping itu, parfum dan minyak wangi juga terlarang.

Hal ini sebagaimana hadits Rasulullah Saw berikut,

“Seorang perempuan yang mengenakan wewangian lalu melalui sekumpulan laki-laki agar mereka mencium bau harum yang dia pakai maka perempuan tersebut adalah seorang pelacur.” (HR. An Nasa’i, Abu Daud, Tirmidzi dan Ahmad)

Suatu kali, (dari Ibrahim) Umar (bin Khatab tengah memeriksa shaf shalat jamaah perempuan.

Kemudian beliau mencium bau harum dari kepala salah seorang perempuan.

Beliau lantas berkata,

“Seandainya aku tahu siapa di antara kalian yang memakai wewangian niscaya aku akan melakukan tindakan demikian dan demikian.

…Hendaklah kalian memakai wewangian untuk suaminya. Jika keluar rumah hendaknya memakai kain jelek yang biasa dipakai oleh budak perempuan”. I

Ibrahim mengatakan, “Aku mendapatkan kabar bahwa perempuan yang memakai wewangian itu sampai ngompol karena takut (dengan Umar)” (Riwayat Abdur Razaq no 8118)

Syarat berikutnya agar termasuk ke dalam pakaian syar’i adalah pakaian tersebut tidak meniru orang-orang kafir atau menyerupai pakaian laki-laki.

“Rasulullah melaknat kaum pria yang menyerupai kaum wanita dan kaum wanita yang menyerupai kaum pria.” (HR. Bukhari no. 6834)

Perihal larangan untuk menyerupai kaum kafir, di satu hadits, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

”Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka”. (HR. Ahmad dan Abu Dawud)

[3] Bersifat Malu dan Betah Tinggal di Rumah

“Rasa malu tidaklah mendatangkan kecuali kebaikan.” (HR. Bukhari no. 6117 dan Muslim no. 37, dari ‘Imron bin Hushain)

Perhatikan contoh bagaimana wanita pemalu yang akhirnya dinikahi oleh Nabi Musa.

“Dan tatkala ia sampai di sumber air negeri Madyan ia menjumpai di sana sekumpulan orang yang sedang meminumkan (ternaknya),

…dan ia menjumpai di belakang orang banyak itu, dua orang wanita yang sedang menghambat (ternaknya).

Musa berkata: “Apakah maksudmu (dengan berbuat begitu)?”

Kedua wanita itu menjawab: “Kami tidak dapat meminumkan (ternak kami), sebelum pengembala-pengembala itu memulangkan (ternaknya), sedang bapak kami adalah orang tua yang telah lanjut umurnya”.

Maka Musa memberi minum ternak itu untuk (menolong) keduanya.” (QS. Qashash: 23-24).

Luar biasa, kedua wanita itu begitu malu untuk berdesak-desakan dengan laki-laki lain untuk meminumkan ternaknya.

Kemudian Allah melanjutkan cerita ini yang diabadikan di dalam Al Quran,

“Kemudian datanglah kepada Musa salah seorang dari kedua wanita itu berjalan penuh rasa malu, ia berkata, ‘Sesungguhnya bapakku memanggil kamu agar ia memberikan balasan terhadap (kebaikan)mu memberi minum (ternak) kami.‘” (QS. Al Qashash : 25)

Beginilah seharusnya seorang wanita bersikap.

Malu-malu dan tidak bebas bercambur baur dengan laki-laki apalagi sampai tertawa terbahak-bahak, jalan bareng, dan tidur satu kamar.

Terkait keutamaan betah tinggal di rumah.

Ibnu Katsir menjelaskan firman Allah berikut,

Dan tinggallah kalian di dalam rumah-rumah kalian dan janganlah kalian berdandan sebagaimana dandan ala jahiliah terdahulu” (QS Al Ahzab: 33)

Beliau mengatakan,

“Hendaklah kalian tinggal di dalam rumah-rumah kalian dan janganlah kalian keluar rumah kecuali karena ada kebutuhan”.

Dan di dalam tafsir Al Qurthubi, Ibnul ‘Arabi bercerita,

“Aku sudah pernah memasuki lebih dari seribu perkampungan…

namun aku tidak menjumpai perempuan yang lebih terhormat dan terjaga melebihi perempuan di daerah Napolis, Palestina,

yaitu tempat Nabi Ibrahim dilempar ke dalam api.

Selama aku tinggal di sana aku tidak pernah melihat perempuan di jalan saat siang hari kecuali pada hari Jumat.

Pada hari itu para perempuan pergi ke masjid untuk ikut shalat Jumat sampai masjid penuh dengan para perempuan.

Begitu shalat Jumat berakhir mereka segera pulang ke rumah mereka masing-masing dan aku tidak melihat satupun perempuan hingga hari Jumat berikutnya”.

Di dalam sebuah hadits disebutkan bahwa,

“Sesungguhnya perempuan itu aurat. Jika dia keluar rumah maka setan menyambutnya.

Keadaan perempuan yang paling dekat dengan wajah Allah adalah ketika dia berada di dalam rumahnya”. (HR Ibnu Khuzaimah no. 1685)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *