Pelajaran Berharga Dari Rivalitas Saudara Kandung Nabi Yusuf

By | October 22, 2015

“(Ingatlah), ketika Yusuf berkata kepada ayahnya, “Wahai ayahku! Sungguh, aku (bermimpi) melihat sebelas bintang, matahari dan bulan; kulihat semuanya sujud kepadaku.” (QS. Yusuf: 4)

Kebijaksanaan Seorang Ayah

Ayah harus berbuat adil agar tidak menimbulkan kecemburuan dan kebencian di antara saudara-saudara yang lain.

Ketika Nabi Yusuf menceritakna mimpinya yang melihat sebelas bintang, matahari, dan bulan bersujud kepadanya, Nabi Ya’qub pun langsung memahami takwil mimpi anaknya in.

“Dia (ayahnya) berkata, “Wahai anakku! Janganlah engkau ceritakan mimpimu kepada saudara-saudaramu, mereka akan membuat tipu daya (untuk membinasakan) mu. Sungguh, setan itu musuh yang jelas bagi manusia.” (QS. Yusuf: 4)

Sesuatu yang besar akan terjadi pada anaknya. Yusuf diminta untuk tidak bercerita kepada sebelas saudaranya yang lain.

Kelak ketika menjadi menteri di kerajaan Mesir, dan keluarga besarnya di Palestina mengalami kesulitan besar akibat kekurangan makanan, Yusuf mengajak kedua orang tua dan kesebelas saudaranya untuk tinggal di Mesir.

Inilah takwil mimpinya dahulu ketika ia masih kecil. Matahari dan bulan adalah ibu dan bapaknya, sedangkan sebelas bintang adalah saudara-saudaranya.

Yusuf berkata,

Wahai ayahku Inilah ta’bir mimpiku yang dahulu itu; sesungguhnya Tuhanku telah menjadikannya suatu kenyataan. dan sesungguhnya Tuhanku telah berbuat baik kepadaku, ketika Dia membebaskan aku dari rumah penjara dan ketika membawa kamu dari dusun padang pasir, setelah setan merusakkan (hubungan) antaraku dan saudara-saudaraku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Lembut terhadap apa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dialah yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. (QS. Yusuf: 100)

 

Waspada Sifat Iri

Rasa iri mendorong seseorang untuk mencelakai orang lain, meskipun orang itu adalah saudara kandungnya sendiri.

Di dalam hidup bersaudara, setan mengobarkan kebencian antara kakak dengan adik dan begitupun sebaliknya –bahkan hingga melakukan pembunuhan.

“Bunuhlah Yusuf atau buanglah dia ke suatu daerah (yang tak dikenal) supaya perhatian ayahmu tertumpah kepadamu saja, dan sesudah itu hendaklah kalian menjadi orang-orang yang shalih.” (QS. Yusuf: 9)

 

Taubat Datang Dari Hati Yang Tulus

Tidak diperbolehkan sengaja melakukan perbuatan dosa dan menggampangkannya dengan bertaubat sesudahnya.

“Bunuhlah Yusuf atau buanglah dia ke suatu daerah (yang tak dikenal) supaya perhatian ayahmu tertumpah kepadamu saja, dan sesudah itu hendaklah kalian menjadi orang-orang yang shalih.” (QS. Yusuf:

 

Menangis Bukan Berarti Menyesali Takdir

“Dan dia (Ya’qub) berpaling dari mereka (anak-anaknya) seraya berkata, “Aduhai duka citaku terhadap Yusuf”, dan kedua matanya menjadi putih karena kesedihan.” (QS. Yusuf: 84)

Mereka (anak-anak Ya’qub –saudara-saudara Yusuf) berkata,

“Demi Allah, engkau tidak henti-hentinya mengingat Yusuf, sehingga engkau (mengidap penyakit) berat atau engkau termasuk orang-orang yang akan binasa.” (QS. Yusuf: 85)

Dia Ya’qub) menjawab,

“Hanya kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku. Dan aku mengetahui dari Allah apa yang tidak kamu ketahui. (QS. Yusuf: 86)

Air mata kesedihan ketika mendapatkan musibah bukan berarti bentuk ketidaksabaran. Selama hal itu tidak dilakukan dengan ratapan ketidakrelaan terhadap takdir.

 

Tidak Boleh Berputus Asa Dari Rahmat Allah Swt

Nabi Ya’qub berkata kepada anak-anaknya,

“Hai anak-anakku, pergilah kamu, maka carilah berita tentang Yusuf dan saudaranya dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir.” (QS. Yusuf: 87)

 

Tidak Dendam

“Apakah kamu mengetahui (kejelekan) apa yang telah kamu lakukan terhadap Yusuf dan saudaranya ketika kamu tidak mengetahui (akibat) perbuatanmu itu.” (QS. Yusuf: 89)

Ketika diangkat menjadi menteri dan melihat saudara-saudaranya mengemis kepadanya tanpa mengenali bahwa ia adalah orang yang pernah mereka buang, Nabi Yusuf tidak dendam.

“Pada hari ini tak ada cercaan terhadap kalian.” (QS. Yusuf: 92)

Yusuf memahami kesusahan yang menimpa mereka, ia bersimpati dan menerangkan jati dirinya yang sebenarnya dan mengundang keluarga besarnya untuk pindah ke Mesir dari Palestina. Inilah cikal bakal bangsa Yahudi di tanah Mesir.

Semoga bermanfaat…

 

Salam

Sulaymane Idris

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *