Penggembala Kambing: Pekerjaan Para Rasul

By | December 1, 2015

Mengapa banyak para nabi dan rasul yang menjadi penggembala kambing sebelum mengemban tugas dakwah dari Allah? Terdapat banyak alasan, mari kita bahasa satu per satu.

(Baca artikel terkait: kisah Nabi Muhammad SAW berdakwah lewat gulat)

Magang Sebagai Penggembala Kambing

Ibnu Hajar berkata, para ulama berkata,

“Hikmah di balik penggembalaan kambing sebelum masa kenabian tiba adalah agar mereka terbiasa mengatur kambing yang nanti dengan sendirinya akan terbiasa menangani problematika manusia.” (Fathu Al Bari 1/144)

penggembala kambing

sumber gambar: lifebridge

Kambing dan domba adalah hewan yang lemah. Keduanya rawan untuk diburu oleh predator dan butuh seseorang untuk mengarahkan mereka ke suatu tempat.

Seketika mereka keluar dari kawanan secara sendirian, nyawanya akan segera terancam oleh serangan serigala. Kalaupun selamat, mereka akan lupa jalan pulang.

Bagi kita, sebagai umat muslim, jangan pernah berpikir untuk menjadi solo artist, tetaplah bergabung bersama jamaah. Setan akan mudah menyerang domba-domba single yang tersesat.

Adapun dari sudut pandang seorang dai, berikut ini adalah beberapa hikmah dari pekerjaan menggembala kambing yang dilakukan para nabi dan rasul sebelum menjalankan tugas menjadi utusan Allah Swt bagi umat manusia.

 

[1] Tanggung Jawab

Pekerjaan menggembala kambing adalah tugas yang diberikan karena faktor kepercayaan.

Seorang saudagar kambing tidak akan memberikan amanah kepada orang yang tidak dapat dipercaya untuk mengurusi puluhan atau bahkan ratusan kambing-kambingnya.

Selain itu, para nabi & rasul juga mengembala kambing sebagai bentuk usaha mencari nafkah. Hal ini tentunya memberikan pesan bahwa seorang pendakwah tidak boleh menggantungkan hidupnya pada pemberian orang lain, apalagi mengharapkan honor ceramah semata.

 

[2] Kesabaran

Menjadi seorang penggembala juga mengajarkan para nabi dan rasul untuk menjadi lebih sabar.

Kawanan kambing mudah sekali teralihkan perhatiaannya. Kambing-kambing tidak pernah mengantisipasi apa yang akan terjadi. Mereka selalu bertindak spontan.

Dalam satu kawanan kambing, ada yang berkelahi, ada yang sibuk mencari makan, ada yang memisahkan diri dari kelompok. Ini adalah gambaran kehidupan bermasyarakat manusia yang akan menjadi objek dakwah para nabi dan rasul.

Seorang penggembala tidak bisa serta merta memaksa sekumpulan kambing untuk bergerak, ia harus menunggu para kambing-kambing untuk menyelesaikan aktivitas mereka masing-masing. Mereka harus ditunggu sampai benar-benar siap.

Hal ini tentunya akan melatih kesabaran para nabi dan rasul.

(Baca artikel terkait kesabaran: Cerita Nabi Yusuf: Happy Ending)

 

[3] Perlindungan

Kambing-kambing, tidak seperti serigala, macan, atau singa, mereka perlu mendapatkan perlindungan dari serangan hewan buas dan bahaya.

Seorang penggembala juga harus berhati-hati menjaga mereka agar tidak memakan makanan yang beracun. Ia juga harus melindungi kawanan kambing dari kejahatan yang tidak terlihat.

Nabi dan rasul juga harus melindungi para pengikutnya dari bahaya baik yang datangnya dari manusia ataupun yang tak terlihat dari jin.

Para nabi dan rasul banyak menceritakan bahaya-bahaya yang akan terjadi di masa depan, baik bencana di dunia ataupun pedihnya siksa neraka.

 

[4] Visioner

Secara ukuran, manusia memiliki postur yang lebih tinggi daripada kambing.

Seorang penggembala akan mampu melihat jauh kedepan apa yang tidak bisa dilihat oleh kambing-kambing. Nabi Muhammad Saw bahkan pernah diperlihatkan isi surga dan neraka ketika peristiwa Isra Mi’raj.

Dengan bekal pengalaman menjadi penggembala kambing, Rasulullah Saw mampu memahami apa yang dibutuhkan para pengikutnya.

Perbuatan apa saja yang akan membawa ke surga dan perbuatan apa saja yang akan membawa ke neraka.

(Baca artikel terkait: Perjalan Hidup Manusia)

 

[5] Adaptasi

Ketika menggembalakan kambing, kehidupan berlangsung sangat sederhana.

Yang dibawa hanya perlengkapan seperlunya saja sebagai bekal untuk makan. Lingkungan yang akan ditemui juga mungkin akan beragam; cuaca yang tidak menentu, kekurangan air, rintangan geografis, jalan menanjak, menurun, dan berbukit.

Ini semua adalah bentuk-bentuk tantangan yang harus dilalui.

Seorang penggembala juga harus mengetahui ketebatasan hewan yang mereka giring. Ada yang pincang sehingga tidak mampu berjalan cepat dan melewati lembah.

Ada yang sakit sehingga perlu penagangan khusus. Bermacam-macam karakter gerombolan kambing akan mudah kita temui dalam satu kerumunan yang sama.

Begitupun dengan tugas dakwah. Rintangan dan tantangan sangat banyak. Adakalanya yang harus didakwahi adalah orang-orang miskin, adakalanya juga adalah pembesar-pembesar dan orang kaya, adakalanya yang didakwahi adalah mereka yang di kota, tapi adakalanya juga mereka yang tinggal di pelosok desa.

Semuanya harus dijalankan demi menegakkan kalimat tauhid.

(Baca artikel terkait: Rumah Di Surga: Hanya Perlu 12 Menit)

 

[6] Tafakkur Alam

Hidup di tengah-tengah alam; matahari, bulan, bintang, sungai, laut, gunung, hewan, tumbuhan, hujan, dan panas akan semakin mendekatkan seseorang kepada kebesaran Rabb Tuhan Semesta Alam Yang Maha Kuasa.

“Sesungguhnya pada penciptaan langit dan bumi, pergantian malam dan siang, kapal yang berlayar di laut dengan (muatan) yang bermanfaat bagi manusia, apa yang diturunkan Allah dari langit berupa air, lalu dengan air itu dihidupkan-Nya bumi setelah mati (kering), dan Dia tebarkan di dalamnya bermacam-macam binatang, dan perkisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi, (semua itu) sungguh merupakanlanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang mengerti”. (QS. Al-Baqarah: 164)

(Baca artikel lain: Hijrah Bisa Mendatangkan Rezeki)

 

Tertarik menjadi penggembala kambing?

Semoga bermanfaat…

 

Salam

Sulaymane Idris

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *