Perhatikan Kesudahan Setiap Perkara!

By | January 18, 2016

Barangsiapa yang sejak awal memperhatikan kesudahan dari berbagai perkara dengan mata hatinya, niscaya dia akan mendapatkan kebaikannya dan selamat dari keburukannya. Sedangkan orang yang tidak memperhatikan kesudahan berbagai perkara, maka perasaan akan mendominasi dirinya. Maka keselamatan yang sebenarnya dia cari, justru akan berbalik menjadi kepedihan; dan kenyamanan yang sebenarnya dia dambakan, akan berbalik menjadi kepayahan.

Rasulullahi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda dalam Hadits Shahih Bukhari, yang berbunyi:“Dan sesungguhnya amalan-amalan itu tergantung pada akhirnya”.

Penjelasan tentang hal ini pada masa yang akan datang bisa menjadi jelas dengan mengingat hal yang telah lalu: yaitu engkau tak lepas dari (dua keadaan; yakni) sepanjang umurmu engkau taat kepada Allah, atau durhaka kepadaNya; lalu manakah kenikmatan maksiatmu? Dan manakah rasa letih yang disebabkan ketaatanmu?! Sungguh jauh bedanya; masing-masing pergi dengan membawa apa yang ada padanya.

Andai saja dosa-dosa itu bila ditinggalkan akan membuatmu terbebas (dari duka nestapa).

Aku perjelas lagi tentang hal ini: Gambarkanlah saat-saat kematian menjelang, dan lihatlah betapa pahitnya penyesalan atas kelalaian. Aku tidak mengatakan ia (kematian) mengalahkan (baca: melupakan) manisnya kenikmatan; karena manisnya kenikmatan telah beralih rupa menjadi buah yang pahit, sehingga yang tersisa hanyalah pahitnya kesedihan tanpa ada sesuatu yang melawannya.

Apakah engkau belum tahu juga bahwa segala hal tergantung pada kesudahannya?!

Maka perhatikanlah kesudahan segala perkara, niscaya engkau akan selamat. Dan janganlah engkau hanyut bersama hawa nafsu, karena engkau akan menyesal.

Ada kisah seorang laki-laki yang mendapati seekor anjing yang sedang kelaparan dan kehausan. Tanpa berpikir panjang ia membuka mujah/sepatunya, lalu turun ke sebuah sumber mata air dan mengisinya dengan air, kemudian memberikannya pada anjing tersebut.

Kemudian, anjing tersebut meminum air itu dengan perasaan gembira dan penuh suka cita. Alloh Ta’alaa tersenyum melihat perbuatan baiknya. Konon, dalam cerita ini orang laki-laki tadi dimasukkan ke dalam surga padahal semasa hidupnya ia tidak terkenal sebagai orang yang ahli beribadah.

Perhatikan dengan kisah lain tentang seorang perempuan yang semasa hidupnya tekun beribadah. Namun ketika ada seekor kucing yang kelaparan masuk ke rumahnya, sama sekali ia tidak tergerak untuk memberinya makan.

Jangankan memberinya makan, malahan kucing tersebut ia masukkan ke dalam sebuah kurungan tanpa ada rasa iba atau peduli terhadap rasa lapar dan dahaga yang sedang dirasakan oleh kucing tadi, sehingga kucing tersebut begitu menderita dalam kurungan.

Akhirnya, si kucing menjadi sekarat dan mati mengenaskan. Ternyata, dalam cerita ini, amal ibadahnya tidak bermanfa’at baginya. Karena, belumlah ia sempat bertaubat keburu mati lebih dahulu merenggut nyawanya.

Dan Allah Ta’alaa memasukkan orang perempuan tersebut ke dalam neraka. Jelek-jelek, kucing dan anjing itu merupakan karya cipta Allah Ta’alaa, maka barangsiapa yang menghargainya pasti Alloh memberinya pahala. Dan bagi orang yang menganiayanya pasti Alloh Ta’alaa memberinya dosa.

Hal ini, mengingatkan kita pada firman Allah Ta’alaa dalam Al-Qur’an, Surat Al-An’am, No. Surat: 6, Ayat: 38, yang berbunyi: “Dan Tiadalah binatang-binatang yang ada di bumi dan burung-burung yang terbang dengan kedua sayapnya, melainkan umat (juga) seperti kamu. Tiadalah Kami alpakan sesuatupun dalam Al-Kitab [di Lauhul Mahfudhz], kemudian kepada Tuhanlah mereka dikumpulkan”.(Jami’ al-Ulum wal Hikam, hlm. 576-577)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *