Perjanjian Manusia Dengan Allah

By | December 2, 2015

Perjanjian Manusia Dengan Allah. Ada percakapan sangat penting yang pernah terjadi antara kita-manusia dengan sang pencipta alam semesta. Sesuatu yang pernah terjadi jauh sebelum bumi ada dan diciptakan.

Kejadian ini tidak terjadi di alam dunia. Yaitu ketika Allah ﷻ mengambil kesaksian dari seluruh anak cucu Adam. Allah ﷻ mengeluarkan semua keturunan nabi Adam n dari tulang rusuknya, dari keturunan yang pertama sampai anak cucu yang hidup mendekati hari kiamat. Termasuk kita semua.

Allah ﷻ kemudian  menebarkan semua keturunan Adam seperti benih. “Ya Adam, ini semua adalah keturunanmu, semua akan saling menggantikan satu sama lain di muka bumi.” Kemudian Allah ﷻ mengajukan sebuah pertanyaan retorika. Pertanyaan ini Allah ﷻ ungkap di dalam Al Quran.

Allah ﷻ bertanya:

“Bukankan Aku ini Tuhanmu?” mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi”. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan) (QS. Al-A’raf: 172)

(Baca artikel populer sebelumnya: Setan Dalam Islam)

perjanjian manusia dengan allah

sumber gambar dari republika

Perjanjian Manusia Dengan Allah

Perjanjian ini dibuat agar manusia kelak tidak datang di hari kiamat dan mengatakan bahwa kami semua lupa akan perjanjian atas keesaan Allah ﷻ ini. Berapa banyak dari kita yang masih mengingat perjanjian ini? Berapa banyak manusia yang sadar akan persaksian ini? Bukankah tidak ada satupun di antara kita yang mengingat akan hal ini!

Tidak masalah. Allah ﷻ akan terus mengirim pesan dan mengingatkan isi perjanjian ini. Bahwa Allah ﷻ adalah Tuhan semua manusia, dan kita adalah makhluk yang diciptakan-Nya. Hanya kepada-Nya lah kita menyembah.

Melalui apa Allah ﷻ mengirimkan pesan ini? Kitab suci; Taurat, Injil, Al Quran dan semua nabi dan rasul yang diutus-Nya ke muka bumi. Melalui apa lagi? Dengan melihat kebesaran-Nya yang terlihat di seantero jagat. Melalui apa lagi? Dengan mengingat-ingat semua doa-doa yang telah dikabulkan-Nya. Karena kita bukan menyembah kepada sesuatu yang mati.

No excuse, tidak ada alasan untuk terus mengungkit-ungkit bahwa kita semua lupa akan perjanjian tersebut. Siapa yang ingat akan hal ini? Sekarang permasalahannya adalah bukan lagi INGAT atau TIDAK INGAT, LUPA atau TIDAK LUPA, SADAR atau TIDAK SADAR. Realitanya sekarang adalah kita SUDAH dan TELAH TERINGATKAN KEMBALI.

Tidak ada reinkarnasi dalam Islam, begitu pula dengan karma. Kita bertanggung jawab terhadap pilihan hidup kita saat ini. Bacalah, lihat dan perhatikan tanda-tanda kebesaran-Nya di sekitar kita. Jangan lupa, kita hidup bukan tanpa batas. Semua orang akan mati dan tidak akan hidup kembali sampai hari kebangkitan. Kematian seseorang adalah awal dari kebangkitannya.

Jangan pula mengkambinghitamkan orang tua.

Atau agar kamu tidak mengatakan:“Sesungguhnya orang-orang tua kami telah mempersekutukan Allah sejak dahulu, sedang kami ini adalah anak-anak keturunan yang (datang) sesudah mereka. Maka apakah Engkau akan membinasakan kami karena perbuatan orang-orang yang sesat dahulu? (QS. Al-A’raf: 173)

Allah ﷻ lebih jauh menggambarkan dalam Al-Qur’an:

 “Dan apabila dikatakan kepada mereka: “Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah,” mereka menjawab: “(Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami”. “(Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apapun, dan tidak mendapat petunjuk?” (QS. Al-Baqarah: 170)

Nabi Muhammad Rasulullah ﷺ mengatakan bahwa Allah ﷻ berfirman:

“Aku menciptakan hamba-hambaku dalam agama yang benar, namun para setan kemudian menyesatkan mereka.”[1]

Rasulullah ﷺ juga bersabda:

“Tidaklah setiap anak yang lahir kecuali dilahirkan dalam keadaan fitrah. Maka kedua orangtuanyalah yang akan menjadikannya sebagai Yahudi, Nasrani, atau Majusi. Seperti hewan melahirkan anaknya yang sempurna, apakah kalian melihat darinya buntung (pada telinga)?[2]

Allah ﷻ melarang kita untuk mengikuti perintah orang tua kita apabila perintah tersebut berlawanan dengan apa yang diperintahkan oleh Allah ﷻ dan Rasul-Nya ﷺ sebagaimana Allah ﷻ telah berfirman:

“Dan Kami wajibkan manusia (berbuat) kebaikan kepada dua orang ibu-bapaknya. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya. Hanya kepada-Ku tempat kembalimu, dan akan Aku beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan (QS. Al-Ankabut: 8).

Demikianlah artikel tentang perjanjian manusia dengan Allah. Semoga bermanfaat.

 

Salam

Sulaymane Idris

 

 

[1] HR. Muslim 4/6853

[2] HR. Muslim 4/6423 dan Bukhori 8/597

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *