Pesan Pernikahan Untuk Para Muslimah: Sabar Menjalani Rumah Tangga

By | December 9, 2015

Inilah secuil kisahku yang sempat tertipu.

Bahwa lelaki pilihan tak selalu seperti yang kita dambakan.

Kehebatan seorang ikhwan atau kebaikan mereka yang bisa kita saksikan, adakalanya palsu belaka.

Kepada para muslimah, hati-hatilah!

Teliti dengan seksama sebelum menerimanya sepenuh hati sebagai belahan jiwa

 

Saat itu, aku adalah gadis 22 tahun yang sedikit banyak telah mengenal pengajian.

Kala itu, ada beberapa pemuda yang meminangku, tapi saya menolaknya karena memang agamanya tidak masuk kriteriaku.

Lalu, seorang ustadz yang telah membina pengajianku selama tidak kurang dari lima tahun menawarkan data seorang ikhwan untukku.

Sekilas profilnya tak jauh dari yang kudamba, bahkan lebih baik dalam beberapa hal.

Sejurus kemudian, akupun menerima dengan bulat hati.

Jiwaku seolah bersorak, gembira tiada tara, apa yang kuharapkan telah diberikan-Nya.

 

Namun, beberapa saat saja setelah pernikahan, bungkus kepalsuan itu terkuak.

Kenyataan yang ada sungguh jauh dari gambaran yang kuketahui sejak semula.

Keluarga sakinah itu tinggal mimpi, belum sempat hadir dalam dunia nyataku.

Hari-hariku terasa berat, asa pun nyaris putus dan terhempas.

Lelaki pilihanku hanya tampak hebat di luaran sana.

Mungkin siapapun tidak akan pernah menyangka, mungkin juga tak akan pernah percaya.

Tapi aku yang menjadi saksi sekaligus korbannya.

Dengannya, keluargaku jauh dari Islami.

 

Aku pun mulai ragu, apakah ikatan ini layak untuk dipertahankan.

Tapi, aku tersandera dalam dilema.

Untuk berpisah pun rasanya juga tidak mudah.

Banyak pertimbangan yang harus aku pikirkan.

Kini sudah belasan tahun aku jalani semuanya, meski harus hidup dengan setengah jiwa.

 

Lambat laun aku pun sadar, mungkin inilah takdir hidupku.

Kisah pernikahanku adalah ujianku.

Ya, benar!

Allah hanya mengujiku, apakah aku ridha dengan pemberian-Nya?

Apakah aku sabar dengan cobaan-Nya, dan apakah aku bisa bertahan?

Meski menerima apa adanya ibarat menggenggam bara.

Delam relung hatiku yang paling dalam, tersirat sebuah harap.

Siapa tahu justru dengan ini aku bisa menjadi mulia di sisi Nya.

 

Aku hanya harus memohon kepada Nya.

Supaya Dia menuntunku dan memberi kekuatan untukku selalu.

“Hasbunallah wa ni’mal wakil, wa ni’mal maula wa ni’man nashir.”

Biarlah itu yang selalu terdendang menjadi lagu hatiku.

 

Kini kesedihanku sudah berlalu.

Akan kucoba untuk senantiasa mengerti dan menyelami makna hidup ini.

Tiada lagi air mata kecewa.

Air mataku adalah air mata takut jika Dia tidak ridha dengan amalanku.

Air mataku adalah air mata takut jika Dia tidak mengampuniku.

 

Ya Allah, bimbinglah hamba menuju surga Mu.

Bimbinglah hamba merengkuh rahmat Mu.

Semoga pula, Kau bukakan hati lelaki yang sekarang masih menjadi pemimpinku. (Ummu Shabar)

 

(Dikutip dari Majalah Ar Risalah Edisi 66 1427 H)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *