#PrayforJonggol

By | November 16, 2015
#prayforjonggol

startribune

Mohon tidak membaca tulisan ini setengah-setengah dan mengambil kesimpulan yang prematur.

Alkisah di kota kecil bernama Jonggol…

Seorang pemuda bernama Haris sering mem-bully anak tetangganya yang bernama Juriah.

Setiap hari, Juriah dipukuli, dicambuk, dan disiksa sehinga sebagian tubuhnya mengalami luka parah dan serius.

Suatu hari, karena sudah tak sabar atas tindakan Haris,

Juriah balas memukul sehingga melukai pelipis mata kanan Haris.

Seluruh Jonggol bak kebakaran jenggot.

Sontak, hashtag bertuliskan #PrayforHaris bergema ke seluruh negeri, semua supermarket dan lapak-lapak pedagang kaki lima di hiasi dengan foto Haris, orang-orang banyak yang bersimpati..

Haris benar-benar terlihat seperti orang yang telah didzalimi lahir batin.

Lupakan kasus Haris di Jonggol.

Mari kita lihat statistik dua kejadian penting akhir-akhir ini…

Paris Attack, 13 November, 2015

  • 3 jam teror
  • 129 tewas (beberapa korban adalah orang Arab Maroko dan Tunisia)
  • 300 luka-luka

Konflik Suriah (data Oktober 2015 menurut Syrian Observatory for Human Right)

  • >35,000 jam (meletus sejak Maret 2011, sudah lebih dari empat tahun, 4 thn x 365 hari x 24 jam )
  • 250,000 orang tewas
  • Ratusan ribu lainnya luka-luka dan harus menjadi pengungsi di negara lain

Korban tewas perang Suriah kebanyakan adalah warga sipil; anak-anak dan perempuan.

Jumlah yang tewas pada serangan Paris hanya 0,05% (tidak sampai 0,1%) dari jumlah orang-orang yang tewas di Suriah. Negara mana sebenarnya yang paling bertanggung jawab terhadap konflik Suriah….?

Anda bisa mencari sendiri jawabannya di internet.

Tulisan ini bukan untuk menjustifikasi penyerangan Paris.

Paris attack adalah perbuatan terkutuk, kejam, dan biadab.

Tapi jika Anda bermain api, harusnya Anda siap terbakar.

Berani memukul orang lain harus siap dipukul.

Gagah menyerang negara orang, harus siap diserang.

 

Tapi… derita Paris adalah derita kemanusian

Seluruh dunia berempati…

Bendera setengah tiang berkibar di berbagai kota-kota besar dunia…

Orang-orang sibuk mengganti profile picture mereka di sosial media dengan warna background berlatar belakang bendera Perancis; biru putih merah.

Good. Solidaritas untuk kemanusian.

Dunia berkabung dan semua orang menunjukkan simpati mereka untuk Paris, #PrayforParis.

Tapi… Di Myanmar, ribuan umat muslim tewas dan seluruh dunia seolah menutup mata.

Jika dunia barat ingin bersimpati terhadap Paris, ya silakan saja.

Sama-sama orang barat, solidaritas ras putih.

Paris terluka, London, New York, Berlin ikut berduka.

Tapi kita…

Untuk alasan kemanusian, ya ok lah bersimpati terhadap Paris.

Tapi apa perasaan saudara-saudara kita yang dibantai di belahan bumi lain jika mengetahui ternyata kita -umat muslim di Indonesia – ternyata lebih peduli terhadap Paris daripada Rohingya, Palestina dan Suriah.

Sudahkah kita melakukan hal yang sama kepada saudara kita di Myanmar, #PrayforRohingya.

Sudahkan kita menunjukkan simpati yang sama kepada saudara kita di Suriah, #PrayforSyria.

Sudahkah kita membela harkat dan martabat saudara kita di Gaza, #PrayforPalestine.

 

Kembali ke Paris, Perancis…

Apakah media barat dan netizen telah melakukan double standard dalam mem-blow up tragedi Paris?

Tidak…

Seperti yang telah saya singgung di atas.

Ini adalah solidaritas barat.

Their blood, our blood.

Satu hal yang pasti

Hal ini harusnya menjadi pelajaran berharga untuk umat Islam di seluruh dunia.

 

Introspeksi Untuk Umat Islam

Dahulu, ketika seluruh muslim harus diusir keluar dari Spanyol –setelah mencapai masa keemasannya di sana,

banyak orang Islam yang membenci orang-orang Kristen karena telah membantai muslim Spanyol.

Inikah mentalitas kita, sering menyalahkan orang lain.

Menyalahkan media barat.

Mengkambinghitamkan Yahudi.

Dan satu-satunya yang tidak salah adalah diri kita sendiri!

Di saat muslim Spanyol saling bersaing antar sesama demi kepentingan pribadi,

Kristen Spanyol justru bersatu padu dalam barisan yang kokoh.

Raja Ferdinand dari Aragon menikahi Isabella dari Castile.

Pernikahan keduanya menyatukan dua kerajaan besar di Spanyol.

Kristen bertambah kuat, Islam semakin terpecah belah.

Pantaskah kita menyalahkan orang Kristen yang telah mengusir orang-orang Islam Spanyol?

Tidak…

Salahkan umat Islam Spanyol yang terlalu haus kekuasaan pribadi.

Lalu, kemana kaum muslim lainnya yang berada di luar Spanyol kala itu?

Mengapa mereka tidak membantu?

Padahal ada kerajaan Maroko yang sangat dekat.

Mereka tidak mau membantu saudara-saudara tetangganya di Spanyol yang hanya dipisahkan oleh lautan.

Bahkan kekaisaran Turki Usmani saja ketika itu hanya mengirimkan sedikit bala bantun tentara.

Apa bedanya dengan sekarang?

Dimana solidaritas sesama muslim saat ini?

Sudah saatnya kita berhenti mencari-cari kesalahan pihak luar dan pembenaran sepihak.

Rapatkan barisan, introspeksi ke dalam, dan bantu saudara-saudara kita yang kesulitan.

 

“Perumpamaan orang-orang mukmin dalam berkasih sayang bagaikan satu tubuh, apabila satu anggota badan merintih kesakitan maka sekujur badan akan merasakan panas dan demam”. (HR. Muslim).

 

Salam

Sulaymane Idris

 

Jika Anda merasakan manfaat dari tulisan ini, mohon bantu sebarkan agar menjadi kebaikan untuk kita bersama.

Kommentar Anda selalu saya tunggu di bawah.

 

 

 

 

 

One thought on “#PrayforJonggol

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *