Kisah Nabi Yusuf: Rivalitas Satu Darah

By | October 21, 2015

“Sehingga apabila para rasul tidak mempunyai harapan lagi (tentang keimanan kaumnya) dan telah meyakini bahwa telah di dustakan, datanglah kepada mereka (para rasul) itu pertolongan Kami, lalu diselamatkan orang yang Kami kehendaki. Dan siksa Kami tidak dapat ditolak dari orang yang berdosa.” (QS. Yusuf: 110)

Pada kisah Nabi Yusuf terdapat banyak pelajaran berharga yang dapat kita petik. Nabi Yusuf telah teruji dengan berbagai kesabaran, dan buahnya adalah kesuksesan di dunia dan di akhirat.

Nabi Yusuf adalah anak dari Nabi Ya’qub. Pada suatu malam, Yusuf kecil bermimpi melihat sebelas bintang, matahari, dan bulan bersujud kepadanya.

Nabi Ya’qub pun langsung memahami takwilnya, dan bahwa akan terjadi pada anaknya suatu urusan yang besar. Yusuf diminta untuk tidak bercerita kepada sebelas saudaranya yang lain.

Karena sayangnya Nabi Ya’qub kepada Yusuf, saudara-saudara lainnya menjadi iri. Ketika kecil, Nabi Yusuf menghadapi makar jahat dari para saudara kandungnya sendiri. Mereka ingin membunuh Nabi Yusuf.

Di antara mereka ada yang mengusulkan agar Yusuf dimasukkan ke dalam sumur yang jauh. Usulan ini akhirnya diterima, Nabi Yusuf kemudian dibuang ke sumur dan diambil oleh kafilah dagang yang melewatinya untuk dijual sebagai budak di pasar.

Saudara-saudara Yusuf kemudian pulang ke rumah pada malam harinya dengan berpura-pura menangis. Mereka berbohong dengan mengatakan jika Yusuf telah dimakan serigala.

Untuk menguatkan alibi, mereka menggunakan darah kambing yang dilumuri ke baju Yusuf. Sayangnya, mereka lupa merobek gamis tersebut.

Mengetahui Yusuf tidak ada lagi dan melihat sandiwara saudara-saudaranya yang lain, Nabi Ya’qub berkata kepada mereka, “Sungguh aneh serigala ini, mengapa ia bersikap sayang kepada Yusuf, ia memakannya tanpa merobek pakaiannya.” Maka Ya’qub berkata kepada mereka menerangkan kedustaan mereka,

“Sebenarnya dirimu sendirilah yang memandang baik perbuatan (yang buruk) itu; maka kesabaran yang baik Itulah (kesabaranku). Dan Allah sajalah yang dimohon pertolongan-Nya terhadap apa yang kamu ceritakan.” (QS. Yusuf: 18).

Keluarga besar Yusuf tinggal di Palestina, dan Yusuf, setelah diambil oleh kafilah dagang akhirnya di jual di Mesir.

Di negeri Mesir ini Yusuf dibeli oleh seorang pemuka dan dijadikan sebagai budak, ia tinggal di kerajaan, mendapatkan godaan dari istri pemuka tersebut, dipenjara, dikeluarkan sehingga akhirnya kemudian menjadi seorang menteri terkemuka.

Allah telah mewahyukan kepada Yusuf,

“Sesungguhnya kamu akan menceritakan kepada mereka perbuatan mereka ini, sedang mereka tidak ingat lagi.” (QS. Yusuf: 15)

Para saudara dan ayahnya di Palestina kelak pada satu masa mengalami paceklik yang berkepanjangan sehingga memaksa mereka untuk meminta bantuan kepada kerajaan tempat Nabi Yusuf mengabdi.

Nabi Yusuf mengenali saudara-saudaranya sendiri dan memberikan perbekalan makanan kemudian berkata, “Apakah kamu mengetahui (kejelekan) apa yang telah kamu lakukan terhadap Yusuf dan saudaranya ketika kamu tidak mengetahui (akibat) perbuatanmu itu?”

Saudara-saudara Yusuf terkaget-kaget dan bertanya,

“Apakah kamu ini benar-benar Yusuf?”.

Yusuf menjawab, “Akulah Yusuf dan ini saudaraku. Sesungguhnya Allah telah melimpahkan karunia-Nya kepada kami. Sesungguhnya barang siapa yang bertakwa dan bersabar, maka sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik.”

Seketika itu pula saudara-saudara Yusuf akhirnya meminta maaf kepadanya dan mengakui kesalahannya, lalu Yusuf pun memaafkannya dan memintakan ampunan kepada Allah.

Semoga bermanfaat…

 

Salam

Sulaymane Idris

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *