Sabar Dalam Cobaan

By | November 26, 2015

Anas bin Malik meriwayatkan bahwa Rasulullah Saw. bersabda:

“Sesungguhnya Nabi Ayyub ditimpa musibah selama delapan belas tahun. Orang dekat dan orang jauh menolaknya, kecuali dua orang laki-laki saudaranya yang selalu menjenguknya setiap pagi dan sore.

Suatu hari salah satu di antara keduanya berkata kepada temannya, “Ketahuilah demi Allah, Ayyub telah melakukan sebuah dosa yang tidak dilakukan oleh seorang manusia di dunia ini.” Temannya menanggapi, “Apa itu?”, dia menjawab, “Sudah delapan belas tahun Allah tidak merahmatinya dan tidak mengangkat ujian yang menimpanya.”

Manakala keduanya pergi kepada Ayyub, salah seorang dari keduanya tidak tahan dan dia mengatakan hal itu kepada Ayyub. Maka Ayyub berkata, “Aku tidak mengerti apa yang kalian berdua katakan. Hanya saja, Allah mengetahui bahwa aku pernah melewati dua orang laki-laki yang berselisih dan keduanya menyebut nama Allah, lalu aku pulang ke rumah dan bersedekah untuk keduanya karena aku khawatir nama Allah disebut kecuali dalam kebenaran.”

Rasulullah Saw. bersabda, “Ayyub pergi untuk buang hajat. Jika beliau buang hajat, istrinya menuntunnya sampai di tempat buang hajat. Suatu hari, Nabi Ayyub terlambat dan Allah Swt. mewahyukan kepada Ayyub, ‘Hantamkanlah kakimu, inilah air yang sejuk untuk mandi dan untuk minum.’” (Q.S. Shad: 42)

Istrinya menunggunya cukup lama. Dia menjumpai Ayyub sambil memerhatikannya sedang berjalan ke arahnya, sementara Allah telah menghilangkan penyakitnya, dan Nabi Ayyub dalam keadaan lebih tampan daripada sebelumnya. Saat istrinya melihat, istrinya langsung berkata, “Semoga Allah memberkahimu, apakah engkau melihat Nabi Allah yang sedang diuji ini? Demi Allah, aku tidak melihat seorang pun yang lebih mirip ketika sehat daripada kamu?” Ayyub menjawab, “Akulah orangnya.”

Nabi Ayyub diuji oleh Allah dengan lenyapnya harta, penyakit, ditinggalkan keluarga, anak, serta dijauhi oleh orang-orang terdekatnya. Ujian ini berjalan bukan satu atau dua hari, satu atau dua bulan, dan bukan pula satu atau dua tahun, melainkan selama delapan belas tahun.

Setelah delapan belas tahun berlalu, Nabi Ayyub memohon kepada Allah Swt. agar menghilangkan derita yang menimpanya, beliau pun berkata,

“(Ya Tuhanku), Sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan yang Maha Penyayang di antara semua Penyayang.” (Q.S. Al Anbiyaa’: 83)

Maka Allah mewahyukan kepada Ayyub agar menghentakkan kakinya ke tanah, lalu Ayyub melakukannya. Tiba-tiba memancarlah air yang sejuk dari dalamnya kemudian Ayyub mandi daripadanya dan ia juga meminum air itu.  Dengan izin Allah Swt. seluruh luka dan penyakit yang dirasakannya sembuh. Seluruh penyakit yang ada di dalam tubuhnya pun keluar dan dirinya kembali sehat seperti sedia kala dan tampaklah ia sebagai orang yang rupawan.

Ingatlah, kesulitan dan ujian hidup membuktikan kualitas iman seseorang. Buah dari kesabaran Nabi Ayyub adalah kebaikan di dunia dan akhirat. Allah Swt. menyembuhkan penyakit beliau dengan mengembalikan kesehatannya dan memberinya harta yang melimpah serta keturunan yang saleh.

Yakinlah saudaraku, sebesar apapun ujian yang Anda hadapi saat ini, sepahit apapun cobaan yang ada di depan mata, dan segetir apapun kondisinya, yakinlah bahwa Allah mampu melenyapkannya dalam sekejap. Sebagaimana Allah Swt. mengembalikan kebaikan kepada Nabi Ayyub atas kesabarannya selama delapan belas tahun dalam penderitaan.

Pada hadis yang lain, dari Abu Hurairah, Rasulullah Saw. Bersabda:

“Ketika Nabi Ayyub mandi, di hadapannya berjatuhan sekelompok belalang dari emas. Nabi Ayyub segera mengumpulkannya dengan bajunya. Allah menegurnya, ‘Wahai Ayyub, bukankah Aku telah mencukupkan dirimu dengan apa yang engkau lihat?’ Ayyub menjawab, ‘Betul ya Allah, tetapi aku tidak bisa berpaling dari barakah-Mu’” (HR. Ahmad, Ibnu Hibban, dan At-Tirmidzi).

Dari kisah Nabi Ayyub di atas, terdapat pelajaran berharga tentang kekuasan Allah Swt. mendatangkan rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka. Nabi Ayyub mendapatkan emas yang dibawa oleh belalang emas yang jatuh kepadanya.

Berkaitan dengan rezeki yang tidak disangka-sangka, Allah Swt. berfirman:

Dan Dia memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya. Dan barang siapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan-Nya. Sungguh, Allah telah mengadakan ketentuan bagi setiap sesuatu. (At-Thalaq: 3)

Imam Qurthubi dalam tafsirnya menjelaskan bahwa Jabir bin ‘Abdullah meriwayatkan bahwasanya anak laki-laki ‘Auf bin Malik al-Asyja’iy yang bernama Salim, telah ditawan oleh orang-orang musyrik. Kemudian, ia mendatangi Rasulullah Saw. dan mengadukan kesedihannya kepada Rasulullah, sambil berkata, “Sesungguhnya, musuh telah menawan anaknya sehingga ibunya menjadi sangat sedih. Lantas, apa yang engkau perintahkan kepadaku?”  Rasulullah Saw. menjawab, “Bertakwalah kepada Allah, bersabarlah, dan aku anjurkan agar kamu dan istrimu memperbanyak bacaan ‘La Haulah wa Laa Quwwata Illa Billah.’ Lalu, ia kembali ke rumahnya dan berkata kepada istrinya, “Rasulullah Saw. telah memerintahkan aku dan kamu untuk memperbanyak bacaan “La Haulah wa Laa Quwwata Illa Billah”. Isterinya menjawab, “Baiklah.” Keduanya segera melaksanakan apa yang diperintahkan Rasulullah Saw. Akhirnya, anaknya berhasil meloloskan diri dari musuh dan menggiring ternak-ternak mereka. Kemudian, ia membawa ternak-ternak itu ke hadapan ayahnya. Jumlah ternak itu adalah empat ribu ekor kambing dan Rasulullah Saw. memberikan ternak itu kepadanya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *