Setelah Kesulitan Pasti Ada Kemudahan

By | January 8, 2016

Seorang mukmin hidup dengan berbagai cobaan.

“Apakah manusia mengira bahawa mereka akan dibiarkan mengatakan: Kami telah beriman, sedang mereka belum diuji?” (QS Al-Ankabut:2-3)

Ada yang diuji dengan harta.

Ada yang diuji dengan kesehatan.

Ada yang diuji dengan hal asmara.

Setiap muslim pasti akan diuji.

Ketika semua ujian itu datang, sabar adalah kunci untuk menghadapinya.

“Ujian yang tiada henti-hentinya menimpa kaum mukmin baik lelaki atau wanita yang mengenai diri, harta dan anak-anaknya, tetapi dia bersabar, dia akan menemui Allah dalam keadaan tidak berdosa.” (HR At-Tirmidzi)

Ujian itu ibarat busur panah yang pasti tepat mengenai sasarannya.

Berandai-andai dan terus menyesali sambil mengatakan seandainya begini, seandainya begitu tidak akan menyelesaikan masalah.

Bahkan kita dilarang untuk mengatakannya.

Rosululloh Saw bersabda,

“Bersemangatlah untuk meraih segala hal yang bermanfaat bagimu. Mintalah pertolongan Alloh dan jangan lemah. Apabila engkau tertimpa sesuatu (yang tidak menyenangkan) janganlah berkata, ‘Seandainya aku dulu berbuat begini niscaya akan menjadi begini dan begitu’ Akan tetapi katakanlah, ‘QaddarAllohu wa maa syaa’a fa’ala, Alloh telah mentakdirkan, terserah apa yang diputuskan-Nya’. Karena perkataan seandainya dapat membuka celah perbuatan syaitan.” (HR. Muslim)

Karena yang namanya ujian, pasti akan tepat mengenai sasaran.

Sabar adalah solusi paling ampuh dalam menghadapi berbagai ujian dan masalah.

Bukan malah justru dengan mengeluh, menyesali dan berkeluh kesah.

Sabar itu seperti namanya, pahit rasanya, namun akhirnya lebih manis daripada madu.

Tidak ada badai yang tidak akan berhenti.

Tidak ada hujan yang terus menerus berlangsung.

Tidak ada kemarau yang tidak akan pernah berakhir.

Semuanya akan usai…

Badai akan berakhir.

Hujan akan reda.

Dan musim kemaraupun akan segera berganti.

Pasti kita sudah sering berulang kali mendengar ayat berikut yang satu ini.

“Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” (QS. Alam Nasyroh: 5)

Ayat ini diulang dua kali.

“Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” (QS. Alam Nasyroh: 6).

Al Hasan Al Bashri menjelaskan ayat di atas bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Kabarkanlah bahwa akan datang pada kalian kemudahan.

Karena satu kesulitan tidak mungkin mengalahkan dua kemudahan.”

Bahkan ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu pernah berucap,

“Seandainya kesulitan masuk ke dalam suatu lubang, maka kemudahan pun akan mengikutinya

…karena Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” (Ath Thobari, 24/496)

‘Umar bin Al Khottob pernah menyemangati Abu ‘Ubaidah yang tengah dihadang oleh musuh ketika tiba di Syam.

Umar berkata,

“Tidaklah Allah menurunkan kesulitan pada seorang mukmin melainkan setelah itu Allah akan datangkan kegembiraan padanya. Karena ingatlah, satu kesulitan mustahil mengalahkan dua kemudahan.”

Bahkan di dalam Al Quran, Allah berfirman,

“Allah kelak akan memberikan kelapangan sesudah kesempitan.” (QS. Ath Tholaq: 7)

Ibnu Katsir mengatakan, “Janji Allah itu pasti, tidak mungkin Allah menyelisihinya.”

Di balik setiap kesulitan pasti akan ada kemudahan yang akan mengikutinya.

Kesulitan juga merupakan bukti bahwa kemudahan akan segera datang.

Mujahid mengatakan, “Kemudahan akan senantiasa mengikuti kesulitan.”

Tapi kemudahan tersebut tidak akan datang dengan sendirinya.

Kemudahan akan datang ketika hati sudah begitu pasrah kepada Allah.

Ketika tidak ada lagi teman yang bisa membantu.

Ketika tidak ada lagi keluarga yang bisa menolong.

Ketika hati sudah begitu pasrah kepada Ilahi.

Di saat itulah kemudahan dan pertolongan Allah akan datang.

Ibnu Rajab Al Hambali rahimahullah berkata,

“Jika kesempitan itu semakin terasa sulit dan semakin berat, maka seorang hamba jadi putus asa.

Demikianlah keadaan hamba ketika tidak bisa keluar dari kesulitan.

Ketika itu, ia pun menggantungkan hatinya pada Allah semata.

Akhirnya, ia pun bertawakkal pada-Nya.

Tawakkal inilah yang menjadi sebab keluar dari kesempitan yang ada.

Karena Allah sendiri telah berjanji akan mencukupi orang yang bertawakkal pada-Nya.

“Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.” (QS. Ath Tholaq: 3)”

Semoga bermanfaat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *