Siapkah Anda Menghadapi Kematian?

By | November 22, 2015

Bukhari meriwayatkan dari Hudzaifah berkata, ‘Aku telah mendengar Rasulullah ﷺ bersabda, ‘Ada seorang laki-laki dari umat sebelum kalian yang didatangi oleh Malaikat maut untuk dicabut nyawanya.

Dia ditanya, ‘Adakah kebaikan yang kamu lakukan?’ Dia menjawab, ‘Aku tidak tahu.’ Dikatakan kepadanya, ‘Lihatlah.’ Dia menjawab, ‘Aku tidak mengetahui apa pun. Hanya saja, di dunia aku berjual-beli dengan orang-orang dan membalas mereka.

Lalu aku memberi kesempatan kepada orang yang mampu dan memaafkan orang yang kesulitan.’ Maka Allah memasukkannya ke Surga.” Dalam riwayat Hudzaifah juga, “Para Malaikat menerima ruh seorang laki-laki dari kalangan umat sebelum kalian. Mereka bertanya, ‘Apakah kamu melakukan suatu kebaikan?’

Dia menjawab, ‘Aku memerintahkan para pegawaiku agar memberi kesempatan kepada orang yang mampu dan memaafkan orang yang tidak mampu.’ Maka mereka memaafkannya.”

Dalam riwayat Abu Hurairah dengan lafazh, “Ada seorang saudagar yang memberi hutang kepada orang-orang. Jika dia melihat seseorang dalam kesulitan, dia berkata kepada para pegawainya, ‘Maafkanlah dia, mudah-mudahan Allah memaafkan kita.’ Maka Allah TA’ALA memaafkannya.”[1]

Kisah dalam hadits di atas bercerita tentang seorang laki-laki dari umat sebelum kita yang memaafkan orang-orang yang memiliki hutang kepadanya. Hal ini dilakukannya semata-semata untuk mengharapkan agar Allah TA’ALA juga memaafkannya kelak. Muamalah seperti ini didasarkan kepada kemudahan dalam jual-beli dan kelapangan.

Bersabar atas orang-orang yang mampu dan memaafkan orang-orang yang tidak mampu. Rasulullah ﷺ  telah berdoa untuk orang yang memiliki sifat seperti itu, “Semoga Allah merahmati seorang hamba yang berlapang dada jika menjual, berlapang dada jika membeli, berlapang dada jika membayar, dan berlapang dada jika menuntut.”

Setiap kesempurnaan tanpa kekurangan yang ditetapkan untuk makhluk, maka Allah lebih berhak. Di antara hal itu adalah memaafkan orang-orang dalam bermuamalah. Allah berfirman, “Kami lebih berhak dengan itu daripada dia, maafkanlah dia.”Riwayat ini dalam Shahih Muslim.

Kisah di atas juga menyiratkan bahwa seorang hamba mukmin tidak boleh dikafirkan hanya karena dia melakukan dosa besar. Laki-laki ini tidak melakukan kebaikan kecuali amal ini. Dia meninggalkan kewajiban-kewajiban, namun Allah mengampuni dan memaafkannya.

Begitu luasnya rahmat Allah. Hanya dengan amal yang sedikit, seorang hamba bisa mendapatkan pahala besar. Laki-laki ini diampuni dan dimaafkan oleh Allah TA’ALA hanya dengan amalan yang menurut kebanyakan orang adalah ringan.

Ketika kematian mendatangi seorang hamba, maka Malaikat akan datang untuk mencabut nyawanya. Jika dia adalah orang yang beriman, maka Malaikat akan memberinya dengan berita gembira. Jika dia adalah orang kafir, maka Malaikat akan bertanya kepadanya, mencelanya, menyiksanya dan menyampaikan berita buruk perihal neraka. Allah berfirman tentang kematian orang mukmin,

إِنَّ ٱلَّذِينَ قَالُواْ رَبُّنَا ٱللَّهُ ثُمَّ ٱسۡتَقَٰمُواْ تَتَنَزَّلُ عَلَيۡهِمُ ٱلۡمَلَٰٓئِكَةُ أَلَّا تَخَافُواْ وَلَا تَحۡزَنُواْ وَأَبۡشِرُواْ بِٱلۡجَنَّةِ ٱلَّتِي كُنتُمۡ تُوعَدُونَ ٣٠

“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan, ‘Tuhan kami ialah Allah’, kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka Malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan), ‘Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih, dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) Surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu.” (QS. Fushshilat: 30)

Adapun terhadap orang-orang kafir, Allah TA’ALA berfirman tentang mereka ketika ajal menjemput,

إِنَّ ٱلَّذِينَ تَوَفَّىٰهُمُ ٱلۡمَلَٰٓئِكَةُ ظَالِمِيٓ أَنفُسِهِمۡ قَالُواْ فِيمَ كُنتُمۡۖ قَالُواْ كُنَّا مُسۡتَضۡعَفِينَ فِي ٱلۡأَرۡضِۚ قَالُوٓاْ أَلَمۡ تَكُنۡ أَرۡضُ ٱللَّهِ وَٰسِعَةٗ فَتُهَاجِرُواْ فِيهَاۚ فَأُوْلَٰٓئِكَ مَأۡوَىٰهُمۡ جَهَنَّمُۖ وَسَآءَتۡ مَصِيرًا ٩٧

“Sesungguhnya orang-orang yang diwafatkan Malaikat dalam keadaan menganiaya diri sendiri, (kepada mereka) Malaikat bertanya, ‘Dalam keadaan bagaimana kamu ini?’ Mereka menjawab, ‘Adalah kami orang-orang yang tertindas di negeri (Makkah).’ Para Malaikat berkata, ‘Bukankah bumi Allah itu luas, sehingga kamu dapat berhijrah di bumi itu?’ Orang-orang itu tempatnya Neraka Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.” (QS. An-Nisa: 97)

 

[1] Riwayat pertama diriwayatkan oleh Bukhari dalam Kitab Ahadisil Anbiya’, bab keterangan tentang Bani Israil, 6/494, no. 3451. Riwayat kedua dalam Shahih Bukhari dalam Kitabul Buyu’, bab orang yang menangguhkan orang yang mampu, 4/307, no. 2077. Bukhari meriwayatkan pula dari Abu Hurairah dalam Kitabul Buyu’, bab orang yang menangguhkan orang yang tidak mampu. Riwayat ketiga dalam Shahih dalam Kitabul Buyu’, bab orang yang menangguhkan orang yang tidak mampu, 4/308, no. 2078. Diriwayatkan oleh Muslim dalam Shahih-nya dari Hudzaefah, Abu Hurairah dan Abu Mas’ud dalam Kitabul Musaqah, bab keutamaan menangguhkan orang yang tidak mampu, 3/1194, no. 1560-1561.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *