Taubat dan Istighfar: Kunci Rezeki

By | November 27, 2015

Abdullah bin Abbas mengatakan bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda:

“Barangsiapa memperbanyak istighfar (mohon ampun kepada Allah), niscaya Allah menjadikan untuk setiap kesedihannya jalan keluar dan untuk setiap kesempitannya kelapangan serta Allah akan memberinya rezeki (yang halal) dari arah yang tiada disangka-sangka”.

Pada hadits di atas, Rasulullah Saw. memberikan informasi tentang tiga hal yang dapat diraih melalui istighfar. Pertama adalah jalan keluar untuk setiap kesedihan, kedua adalah kelapangan untuk setiap kesempitan, dan ketiga adalah pemberian rezeki yang halal oleh Allah Swt. dari arah yang tidak diduga-duga.

Jelaslah bahwa istighfar adalah satu faktor yang dapat mempermudah rezeki seorang hamba. Istighfar sendiri mengandung pengertian meminta ampunan kepada Allah Swt. dengan ucapan dan perbuatan. Jadi, istighfar dilakukan bukan hanya melalui lisan semata, tetapi juga harus diaplikasikan melalui perbuatan nyata.

Berkaitan dengan keutamaan istighfar, Imam Al-Hasan Al-Bashri menyarankan kepada orang-orang yang mengalami kefakiran, sedikitnya anak dan keturunan, paceklik kemarau, dan kekeringan kebun-kebununtuk memperbanyak melakukan istigfar.

Hal yang sama juga dijelaskan oleh Imam Qurthubi ketika menceritakan tentang seorang laki-laki yang mengadu kepada Imam Al-Hasan Al-Bashri tentang kegersangan yang dialaminya, maka Imam Al-Hasan Al-Bashri mengatakan kepada laki-laki tersebut, “Beristigfarlah kepada Allah!”. Orang yang lain mengadu kepadanya tentang kemiskinan maka beliau berkata kepadanya, Beristighfarlah kepada Allah!”. Yang lain meminta kepadanya, “Doakanlah aku kepada Allah agar Allah Swt. memberiku anak!” Maka beliau mengatkan kepadanya, “Beristigfarlah kepada Allah!” Dan yang lain mengadu kepadanya tentang kekeringan kebunnya maka beliau mengatakan kepadanya dengan jawaban yang sama pula, “Beristigfarlah kepada Allah!”.

Banyak orang yang datang mengadukan permasalahan hidup seperti kegersangan, kekeringan, kemiskinan, sedikitnya anak dan keturunan kepada Imam Al-Hasan Al-Bashri. Namun beliau hanya memberikan solusi berupa istigfar. Beliau tidak mengatakan menurut kehendaknya sendiri, melainkan berdasarkan firman Allah Swt. dalam Al-Quran.

Di dalam surat Nuh ayat 10-12 Allah Swt. berfirman:

“Maka aku katakan kepada mereka, ‘Mohonlah ampun kepada Tuhanmu’, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, memperbanyak harta dan anak-anakmu dan mengadakan untukmu kebun kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai’.” (Q.S. Nuh: 10-12)

Imam Qurthubi menjelaskan bahwa tiga ayat di atas menunjukkan bahwa istighfar adalah satu sebab diturunkannya rezeki dan hujan. Hal ini menjadi pelajaran berharga untuk kita semua tentang nilai yang terkandung dari istighfar.

Sedangkan Ibnu Katsir menerangkan bahwa jika seseorang bertaubat dan meminta ampunan kepada Allah Swt. serta menaati-Nya, maka Allah Swt. akan memperbanyak rezeki orang tersebut, menurunkan hujan yang lebat disertai keberkahan dari langit, mengeluarkan keberkahan dari bumi.

Allah Swt. juga akan menumbuhkan tumbuh-tumbuhan, melimpahkan air susu perahan, memperbanyak harta dan anak-anak, menjadikan kebun-kebun dengan berbagai macam buah-buahan serta mengalirkan sungai-sungai di antara kebun-kebun tersebut.

Selain itu, istigfar dan taubat juga merupakan perintah langsung dari Allah Swt.

“Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubat semurni-murninya.” (At-Tahrim: 8)

Meskipun banyak dan besar, Allah SWT akan mengampuni dosa-dosa orang yang bertaubat dengan taubat yang semurni-murninya.

“Katakanlah, ‘Hai hamba-hambaKu yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang’.” (Q.S. Az-Zumar: 53)

Umar bin Khattab memahami benar tentang keistimewaan taubat dan istighfar. Maka tatkala beliau meminta hujan kepada Allah Swt., Umar keluar rumah dengan hanya mengucapkan istighfar dan kemudian pulang. Maka seseorang bertanya kepadanya, “Aku tidak mendengar Engkau memohon hujan”. Maka Umar bin Khattab lantas menjawab, “Aku memohon diturunkannya hujan dengan majadih[1] langit yang dengannya diharapkan akan turun air hujan.

Umar bin Khattab kemudian membaca ayat 10-11 dalam surah Nuh:

“Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat.”

Beberapa pelajaran penting dari ayat-ayat di atas adalah:

Allah Swt. adalah Maha Pengampun dan memerintahkan hambaNya untuk memohon ampun kepadaNya. Hal ini berdasarkan firman-Nya di atas: ‘Mohonlah ampun kepada Tuhanmu’, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun…”.

Istigfar menjadi sebab ditutunkannya hujan yang lebat dengan air yang turun dengan deras.

Istigfar menjadi sebab dibanyakkan harta dan anak-anak, kebun-kebun dan sungai-sungai.

Berkaitan dengan taubat dan istighfar, Allah Swt. juga berfirman dalam surah Hud ayat 3 dan 52:

“Dan hendaklah kamu meminta ampun kepada Tuhanmu dan bertaubat kepadaNya. (jika kamu mengerjakan yang demikian), niscaya Dia akan memberi kenikmatan yang baik (terus menerus) kepadamu sampai kepada waktu yang telah ditentukan, dan Dia akan memberi kepada tiap-tiap orang yang mempunyai keutamaan (balasan) keutamaannya. Jika kamu berpaling, maka sesungguhnya aku takut kamu akan ditimpa siksa hari Kiamat.” (Q.S. Hud:3)

“Dan (Hud berkata), ‘Hai kaumku, mohonlah ampun kepada Tuhanmu lalu bertaubatlah kepada-Nya, niscaya Dia menurunkan hujan yang sangat lebat atasmu dan Dia akan menambahkan kekuatan kepada kekuatanmu dan janganlah kamu berpaling dengan berbuat dosa’.” (Q.S. Hud:52)

Taubat juga merupakan salah satu penyebab keberuntungan,

“Dan bertaubatlah kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.” (Q.S. An-Nur: 31)

Dengan bertaubat, orang-orang yang beriman akan mendapatkan keberuntungan. Maksudnya adalah mendapatkan apa yang dicarinya dan selamat dari apa yang dikhawatirkannya.

Secara harfiah, taubat sendiri memiliki arti menuju pada ketaatan terhadap Allah Swt. setelah bermaksiat. Taubat itu sendiri sangat disukai oleh Allah Swt.,

“Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang taubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri.” (Q.S. Al-Baqarah: 222)

Menurut Imam Ar-Raghib Al-Ashfahani taubat adalah meninggalkan dosa karena keburukan yang ada di dalamnya, menyesali dosa yang telah dilakukan, dan memiliki keinginan yang kuat untuk tidak mengulanginya serta mengganti apa yang bisa diulangi dari keburukan dengan kebaikan. Untuk melakukan sebuah pertaubatan yang sungguh-sungguh (taubatan nasuha), tentu ada syarat atau langkah-langkah yang harus dilakukan. Setidaknya terdapat lima syarat taubat yang harus dipenuhi:

  1. Ikhlas hanya karena Allah Swt. semata, mengharapkan keridaan, pahala, dan keselamatan dari siksa-Nya.
  2. Bersedih, menangisi, dan menyesali perbuataan dosanya.
  3. Meninggalkan perbuatan dosa itu dengan segera dan tidak ditunda-tunda dengan berpikir masih muda atau masih memiliki banyak waktu.
  4. Menanamkan niat dalam hati untuk tidak melakukannya lagi.
  5. Taubat dilakukan sebelum ajal datang. Allah Swt. berfirman:

“Dan tidaklah taubat itu diterima Allah dari orang-orang yang mengerjakan kejahatan hingga apabila datang ajal kepada seseorang di antara mereka, (barulah) ia mengatakan, ‘Sesungguhnya saya bertaubat sekarang’.” (Q.S. An-Nisa’: 18)

Taubat juga tidak akan diterima setelah matahari terbit dari tempat terbenamnya (barat). Rasulullah Saw. bersabda:

“Barangsiapa bertaubat sebelum matahari terbit dari tempat terbenamnya, maka Allah menerima taubatnya.” (H.R. Muslim)

Imam An-Nawawi menerangkan bahwa bertaubat dari setiap dosa adalah wajib hukumnya bagi seluruh umat manusia. Jika dosa yang telah dilakukan adalah dosa antara seorang hamba dengan Allah Swt. tanpa melibatkan atau memakan hak manusia lainnya, maka terdapat tiga syarat mutlak yang berlaku. Apabila salah satu syarat tersebut tidak ada, maka taubatnya tidak sah. Pertama, pelaku maksiat harus menjauhi dosa tersebut. Kedua, ia menyesali perbuataan dosanya. Ketiga, ia harus memiliki keiingan yang sangat kuat untuk tidak mengulanginya.

Namun apabila dosa yang telah diperbuat melibatkan hak manusia lainnya, maka syarat yang keempat berlaku, yaitu pelaku dosa tersebut haruslah memenuhi hak orang yang telah dizalimi. Jika hal itu berkaitan dengan uang (harta atau semisalnya) maka ia harus menggantinya dengan yang serupa atau setara jumlahnya.

Berdasarkan penjelasan di atas, maka jelaslah bahwa taubat tidak cukup dilakukan melalui lisan saja. Taubat memerlukan usaha segenap tenaga untuk tidak mengulanginya lagi disertai dengan kerja keras untuk menggantinya dengan perbuatan yang lebih baik.

Pintu taubat terbentang luas dan terbuka, tidak sepantasnya kita berputus asa dari rahmat Allah Swt. Rasulullah Saw. bersabda:

“Allah membentangkan tangan-Nya pada malam hari agar pelaku dosa pada siang hari bertaubat dan membentangkan tangan-Nya pada siang hari agar pelaku dosa pada malam hari bertaubat hingga matahari terbit dari tempat tenggelamnya.” (H.R. Muslim).

Dalam setiap usaha atau bisnis yang tengah kita jalani, mungkin di dalamnya masih terdapat hak-hak orang lain yang tidak tersampaikan atau adanya pihak-pihak yang terzalimi. Oleh karena itu, tidak perlu menunggu usaha atau bisnis yang kita jalani terpuruk untuk melakukan taubat KEpada Allah. Memohon ampunlah pada Allah, karena sebagai manusia mungkin saja masih banyak kesalahan yang telah kita torehkan dalam ikhtiar kita mencari nafkah untuk keluarga. Insya Allah, semakin sering kita bertaubat kepada Allah Swt., semakin Allah lancarkan pula usaha kita.

[1] Majadih adalah salah satu jenis bintang yang dipercayai bangsa Arab sebagai tanda turunnya hujan. Umar bin Khattab tidak menjadikan istighfar sama dengan majadih sebagai alasan turunnya hujan. Ini dilakukan semata-semata sebagai bentuk komunikasi dengan sesuatu yang telah diketahui oleh bangsa Arab.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *