Tawakal: Kunci Rezeki

By | November 25, 2015

Tawakal kepada Allah Swt. merupakan wujud kelemahan seorang hamba. Bukti bahwa seorang hamba membutuhkan Tuhannya dalam segala dimensi dalam hidupnya, dengan jalan bersandar dan menyerahkan segala urusan hanya kepada-Nya. Tidak ada yang bisa memberi dan menarik kembali, tidak ada yang dapat mendatangkan manfaat dan mudarat, selain Allah Swt.

Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Umar bin Khattab, Rasulullah Saw. bersabda:

“Sungguh, seandainya kalian bertawakal kepada Allah Swt. dengan sebenar-benar tawakkal, niscaya kalian akan diberi rezeki sebagaimana rezeki burung-burung. Mereka berangkat pagi-pagi dalam keadaan lapar dan pulang sore hari dalam keadaan kenyang.”

Dalam surat Ath-Thalaq ayat 3 Allah Swt. juga berfirman:

“Dan barangsiapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan (yang dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.” (Q.S. Ath-Thalaq:3)

Dua dalil di atas bukan berarti mengesampingkan arti sebuah usaha dalam mencari rezeki dan hanya menggantungkan diri dengan bertawakal kepada Allah Swt. Tawakal tidak berarti berlepas diri dari usaha. Hal ini seperti yang dijelaskan oleh sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ibnu Hibban dan Imam Al-Hakim dari Ja’far bin Amr bin Umayah dari ayahnya.

 “Seseorang berkata kepada Nabi, ‘aku lepaskan untaku dan (lalu) aku bertawakkal?’ Nabi bersabda: ‘Ikatlah kemudian bertawakallah’”

Seseorang pernah bertanya kepada Imam Ahmad tentang orang yang mengatakan bahwa ia tidak mau bekerja sedikitpun sampai rezekinya datang sendiri. Maka Imam Ahmad berkata bahwa laki-laki tersebut tidaklah mengenal ilmu. Bukankah burung-burung yang lapar di pagi hari dan pulang di sore harinya dalam keadaan kenyang keluar dari sarang untuk menjemput rezekinya? Bukankah para sahabat juga berusaha dengan berdagang dalam mencari rezeki?

Rasulullah Saw. pernah bersabda:

“Sesungguhnya Allah telah menjadikan rezekiku melalui panahku. Sekiranya kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benar tawakal, niscaya Allah memberimu rezeki sebagaimana yang diberikan-Nya kepada burung-burung yang berangkat pagi-pagi dalam keadaan lapar dan pulang sore hari dalam keadaan kenyang.” (H.R. Imam Ahmad).

Maka sesungguhnya, rezeki tidaklah datang sendiri melainkan kita yang menjemputnya. Melakukan perdagangan atau bisnis yang kini semakin beraneka ragamnya merupakan salah satu upaya atau ikhtiar kita dalam menjemput rezeki dari Allah Swt. Setelah segala upaya telah kita laksanakan, barulah kita menyerahkan segala ketentuannya kepada Allah semata. Sukses atau tidaknya, maju atau mundurnya usaha kita, Allah yang akan menentukan, berdasarkan seberapa besar ikhtiar yang kita usahakan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *