Tawakkal: Jalan Keluar Ketika Jalan Lain Sudah Buntu

By | December 7, 2015

Fungsi Tawakkkal

“Maka sembahlah Dia, dan bertawakkallah kepada-Nya.” (QS. Huud: 123)

Secara bahasa, tawakkal memiliki arti menyandarkan diri.

Bertawakkal kepada Allah SWT artinya adalah menyandarkan segala urusan kepada Allah SWT semata.

Hanya Allah SWT sajalah yang berhak dijadikan sandaran, karena Allah SWT yang menciptakan dan mengadakan hukum sebab-akibat.

Penghambaan seseorang tidak akan sempurna kecuali dengan kesempurnaan tawakkal kepada Allah SWT.

Oleh karena itu, tawakkal harus dimurnikan untuk Allah SWT.

“Dan hanya kepada Allah hendaknya kamu bertawakkal, jika kamu benar-benar orang yang beriman.” (QS. al-Maaidah: 23)

Dengan tawakkal kepada Allah SWT, segala kesempitan akan terselesaikan dengan izin Allah SWT. Sesungguhnya di balik kesulitan akan ada kemudahan. Ibnu Rajab mengatakan:

“Jika kesempitan itu semakin terasa sulit dan semakin berat…

…maka seorang hamba akan menjadi putus asa dan demikianlah keadaan makhluk yang tidak bisa keluar dari kesulitan.

Akhirnya, ia pun menggantungkan hatinya pada Allah semata.

Inilah hakekat tawakkal pada-Nya.

Tawakkal inilah yang menjadi sebab terbesar keluar dari kesempitan yang ada.

Karena Allah sendiri telah berjanji akan mencukupi orang yang bertawakkal pada-Nya.

Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman:

“Dan barang siapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan) nya.” (QS. Ath Tholaq: 3) [1]

Inilah senjata rahasia yang sebagian besar kaum muslim mungkin belum mengetahuinya.

Ingat dan catat, tawakkal lah yang menjadi sebab terbesar seseorang keluar dari kesulitan dan menggapai kesuksesan.

Buah & Keutamaan Tawakkal kepada Allah SWT

[1] Dengan Tawakkal, Allah SWT Akan Mencukupkan Segala Kebutuhan Seorang Hamba

Barang siapa menyerahkan segala urusannya hanya kepada Allah SWT, dia akan memperoleh keinginan-keinginannya.

Bahkan tawakkal kepada Allah SWT juga merupakan kunci untuk mendapatkan rezeki dari arah yang tidak pernah kita duga sebagaimana firman Allah SWT berikut:

Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan memberikan baginya jalan ke luar (bagi semua urusannya). Dan memberinya rezki dari arah yang tidada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (segala keperluan)nya” (QS Ath-Thalaaq:2-3)

Syaikh as-Sa’di rahimahullaah menafsirkan ayat ini dengan mengatakan:

“Barangsiapa bertawakkal kepada Allah SWT dalam urusan agama dan dunia, dengan bersandar kepada-Nya dalam mencari kemanfaatan dan menolak kemudharatan, disertai keyakinan bahwa Allah SWT mampu untuk mempermudah hal itu, niscaya Allah SWT akan mencukupi perkara yang disandarkan oleh hamba itu kepada-Nya.” [2]

Tawakkal merupakan salah satu sebab untuk mendapatkan kecintaan Allah SWT serta memiliki kedudukan yang tinggi dalam Islam.

Allah SWT berfirman yang artinya:

“Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.” (QS. Al-‘Imran: 159). Sebaliknya, jika seseorang hanya menggantunkan kepada selain Allah SWT, maka siap-siaplah untuk dikecewakan.“Tidak ada seorangpun yang berharap dan bersandar kepada makhluk kecuali dia pasti akan kecewa.” [3]

[2] Tawakkal Membuat Seseorang Masuk Surga

Tawakkal juga merupakan sebab seseorang akan mendapatkan kebaikan di dunia dan di akhirat dengan masuk surga sebagaimana firman Allah SWT:

“Dan orang-orang yang berhijrah karena Allah sesudah mereka dianiaya, pasti Kami akan memberikan tempat yang bagus kepada mereka di dunia. Dan sesungguhnya pahala di akhirat adalah lebih besar, kalau mereka mengetahui, (yaitu) orang-orang yang sabar dan hanya kepada Tuhan saja mereka bertawakkal.” (QS.An-Nahl: 41-42)

“Dan orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal yang saleh, sesungguhnya akan Kami tempatkan mereka pada tempat-tempat yang tinggi di dalam surga, yang mengalir sungai-sungai di bawahnya, mereka kekal di dalamnya. Itulah sebaik-baik pembalasan bagi orang-orang yang beramal (yaitu) yang bersabar dan bertawakkal kepada Tuhannya.” (QS. Al-‘Ankabuut: 58-59)

Selain itu, barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah SWT dengan sebenar-benarnya…

…maka ia akan masuk ke dalam Surga tanpa dihisab, yaitu tanpa dihitung dan ditimbang amal perbuatannya serta tanpa disiksa di hari kiamat.

Hal ini berdasarkan hadits shohih berikut ini. Dari Abdullah bin Abbas, Rasulullah SAW bersabda:

“Telah diperlihatkan kepadaku keadaan umat-umat terdahulu, hingga aku melihat ada seorang nabi dengan rombongan yang kecil, dan ada nabi yang mempunyai pengikut satu dan dua orang, bahkan ada nabi yang tidak mempunyai seorang pengikut pun. Tiba-tiba diperlihatkan padaku rombongan yang besar (yang banyak sekali), saya kira itu adalah umatku, namun diberitahukan kepadaku bahwa itu adalah nabi Musa alaihissalam beserta kaumnya (pengikutnya).

Kemudian dikatakan kepadaku, lihatlah ke ufuk kanan dan kirimu, tiba-tiba di sana aku melihat rombongan yang besar sekali. Lalu dikatakan kepadaku, Itulah umatmu, dan bersama mereka ada 70.000 (tujuh puluh ribu) orang yang masuk surga tanpa dihisab dan diazab. Setelah itu nabi SAW berdiri dan masuk ke dalam rumahnya, sehingga orang-orang banyak yang membicarakan mengenai orang-orang yang masuk surga tanpa dihisab dan diazab itu. Ada yang berpendapat; mungkin mereka adalah sahabat-sahabat Rasulullah SAW. Ada pula yang berpendapat, mungkin mereka yang lahir dalam Islam dan tidak pernah mempersekutukan Allah, dan ada juga pendapat-pendapat lain yang mereka sebut.

Kemudian Rasulullah SAW keluar menemui mereka dan bertanya, ‘apakah yang sedang kalian bicarakan?’. Mereka memberitahukan segala pembicaraan mereka. Beliau bersabda: “Mereka adalah orang-orang yang tidak meminta diruqyah/dijampi-jampi (untuk dirinya maupun orang lain), dan tidak suka meramal nasib sial/untung dengan tanda-tanda burung (atau selainnya seperti tempat, waktu dan angka, pent), dan hanya kepada Allah (Rabb mereka) saja mereka bertawakkal.” Lalu berdirilah Ukkasyah bin Muhshon dan berkata, “Wahai Rasulullah SAW, doakanlah aku supaya masuk dalam golongan mereka.” Rasulullah SAW menjawab; “Engkau termasuk golongan mereka.”

Kemudian berdiri pula orang lain, dan berkata; “doakan saya juga supaya Allah menjadikan saya salah satu dari mereka.” Maka Rasulullah SAW menjawab; “Engkau telah didahului oleh Ukasyah.” [4]

Di dalam riwayat lain disebutkan sifat-sifat 70.000 orang dari umat Islam yang masuk Surga secara langsung tanpa dihisab dan disiksa oleh Allah SWT, yaitu:

“Mereka adalah yang tidak bertathoyyur[5], tidak meminta diruqyah, tidak pula meminta diobati dengan Kay[6], dan mereka hanya bertawakkal kepada Rabb mereka.”[7]

[3] Dengan Tawakkal, Allah SWT Akan Memberikan Pertolongan dan Kemenangan

Ibnul Qayyim al-Jauziyyah rahimahullah berkata:

“Tawakal adalah sebab yang paling utama yang bisa mempertahankan seorang hamba ketika ia tak memiliki kekuatan dari serangan makhluk Allah lainnya yang menindas serta memusuhinya, tawakal adalah sarana yang paling ampuh untuk menghadapi keadaan seperti itu, karena ia telah menjadikan Allah pelindungnya atau yang memberinya kecukupan, maka barang siapa yang menjadikan Allah pelindungnya serta yang memberinya kecukupan maka musuhnya itu tak akan bisa mendatangkan bahaya padanya.” [8]

Hal ini berdasarkan hadits shohih dari Ibnu Abbas k, ia berkata:

“Hasbunallah wani’mal Wakil” suatu kalimat yang dibaca oleh Nabi Ibrahim alaihissalam ketika dilempar ke dalam api yg membara, dan juga telah dibaca oleh Nabi Muhammad SAW ketika dikatakan (diprovokasi) oleh orang-orang kafir, supaya takut kepada mereka ; “sesungguhnya manusia telah mengumpulkan segala kekuatannya untuk menghancurkan kalian, maka takutlah kamu dan janganlah melawan, tapi orang-orang beriman bertambah imannya dan membaca, Hasbunallah wa ni’mal Wakiil (cukuplah Allah menjadi penolong kami, dan cukuplah Allah sebagai tempat kami bertawakal.” [9]

Ibnu Abbas k berkata:

“Kata-kata terakhir yang diucapkan oleh Nabi Ibrahim ketika ia dilemparkan ke tengah bara api adalah: “Cukuplah Allah menjadi penolong kami dan Allah sebaik-baik pelindung.” [10]

Imam al-Bukhari dan selainnya meriwayatkan dari Jabir h, bahwa Nabi Muhammad SAW terpisah dari para sahabatnya lalu bernaung di bawah pohon [11],

beliau menggantungkan pedangnya di atas pohon itu, kemudian datang seorang Arab Badui [12] kepada Rasulullah SAW dan mengambil pedang milik beliau, lalu orang itu berdiri di hadapan Nabi SAW, sambil bertanya:

Siapakah yang dapat melindungimu dari aku?. Beliau menjawab: Allah!, orang Arab Badui itu bertanya dua atau tiga kali: Siapa yang dapat melindungimu dari aku? dan Nabi SAW menjawab: “(Yang akan melindungiku) Allah.” Jabir berkata: Kemudian orang Arab itu menyarungi pedangnya, lalu Nabi SAW memanggil para sahabatnya, dan mengabarkan kepada mereka tentang kejadian Arab Badui itu, sementara Arab Badui itu duduk di sisi Rasulullah SAW dengan tidak memberi hukuman kepada orang itu.” [13]

Dan telah dikisahkan di dalam sebuah hadits yg lain,

bahwa pada saat perang Dzatur Riqo’, ketika Rasulullah SAW sedang beristirahat di bawah sebuah pohon,

sedangkan pedang beliau tergantung di pohon.

Ketika itu, tiba-tiba datang seorang musyrikin yang mengambil pedang beliau sambil berkata:

“Siapa yang dapat melindungimu dariku?. Namun dengan sangat tenang (sebagai bentuk tawakkal yang sempurna kepada Allah), Rasulullah SAW menjawab: “(yang akan melindungiku) Allah.” Setelah tiga kali orang itu bertanya, tiba-tiba pedang yang dipegangnya jatuh. Lalu Rasulullah SAW mengambil pedang tersebut seraya bertanya; “Sekarang siapakah yang dapat melindungimu dariku?”

Dikisahkan bahwa orang-orang dari Kaum Yahudi bersepakat untuk membunuh Nabi SAW…

…dengan cara mengundang Nabi SAW dalam suatu urusan, ketika Nabi SAW datang kepada mereka,

mereka membuat siasat untuk melempar beliau dengan sebuah batu besar pada saat Rasulullah SAW…

…bernegosiasi dengan orang-orang Yahudi, lalu Allah SWT memberitahukan rencana mereka ini kepada Rasulullah SAW,

kemudian Rasulullah SAW kembali ke Madinah dengan para sahabatnya (yakni tidak jadi menghadiri undangan mereka, pent). [14]

Allah SWT berfirman di dalam Al Quran:

“Hai orang-orang yang beriman, ingatlah kamu akan nikmat Allah (yang diberikan-Nya) kepadamu, di waktu suatu kaum bermaksud hendak menggerakkan tangannya kepadamu (untuk berbuat jahat), maka Allah menahan tangan mereka dari kamu. Dan bertakwalah kepada Allah, dan hanya kepada Allah sajalah orang-orang mukmin itu harus bertawakkal.” (QS. Al-Ma’idah: 11)

Ibnu Jarir Ath-Thobari dan selainnya meriwayatkan dari Ibnu Abbas i -tentang ayat ini (ia menyebut ayat 11 dari surat Al-Ma’idah)- , dan ia berkata:

“Sesungguhnya orang-orang dari kaum Yahudi membuat makanan (yg telah diracuni) untuk membunuh Rasulullah SAW dan para sahabatnya, kemudian Allah mewahyukan kepada utusan-Nya itu tentang rencana mereka, maka Rasulullah SAW dan para sahabatnya tidak makan makanan itu.” [15]

 

[1] Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam, Ibnu Rajab Al Hambali, hal. 238

[2] Tafsir as-Sa’di hal 183

[3] Al-Fatawa 10/257

[4] HR. Imam al-Bukhari & Muslim

[5] Tathoyyur adalah beranggapan sial pada semua yang dilihat, didengar, serta beranggapan sial pada tempat dan waktu tertentu.

[6] Kay adalah metode pengobatan dengan menggunakan besi yang digarang di atas api.

[7] Diriwayatkan Al-Bukhari dalam ar-Riqaaq XI/305 dari hadits Ibnu ‘Abbas, dan Muslim dalam al-Iman III/89 dari hadits ‘Imran bin Hushain

[8] Bada-i’u Al-Fawa’id II/268

[9] Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dalam Shohihnya, bab Tafsir no.4563 (Fathul Bari VIII/77)

[10] Hadits Riwayat Al-Bukhari di dlm Shohihnya, bab Tafsir no.4564 (Fathul Bari VIII/77)

[11] Disebutkan bahwa pohon itu adalah pohon yang berduri, An-Nihayah III/255.

[12] Diriwayatkan bahwa nama orang itu adalah Ghurata bin Al-Harits, lihat Shahihul Bukhari dalam kitab Al-Maghazy V/491 no.4136, dan lihat pula Tafsir Ibnu Katsir III/59.

[13] Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnadnya III/311, imam al-Bukhari dalam Shohihnya bab jihad VI/113 no.2910 , dan Ath-Thabari dalam Tafsirnya VI/146

[14] Diriwayatkan oleh Ath-Thabari dalam Tafsirnya VI/144

[15] Diriwayatkan oleh Ath-Thabari dalam Tafsirnya VI/46 dan Ibnu Abu Hatim sebagaimana disebutkan dalam Tafsir Ibnu Katsir III/59

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *