Terima Anak Anda Apa Adanya

By | November 14, 2015

Seorang prajurit yang akhirnya pulang ke negaranya setelah berperang selama bertahun-tahun. Dia menghubungi kedua orang tuanya melalui telefon dan berkata, “Ibu dan Ayah, aku akan pulang, tapi aku mempunyai satu permintaan. Aku memiliki teman yang ingin menumpang hidup bersama kita. Bolehkan ia tinggal di rumah kita.” Boleh, tentu saja mengapa tidak,” jawab orang tua mereka. “Kami akan senang untuk bertemu dengannya.”

“Tapi ada sesuatu yang harus ibu dan ayah ketahui,” anak itu melanjutkan, “Ia terluka cukup parah dalam pertempuran. Dia menginjak ranjau dan kehilangan lengan dan kakinya. Diapun tidak memiliki keluarga, orang tuanya sudah meninggal ketika ia berumur 5 tahun. Aku ingin dia tinggal bersama kami.”

“Ayah dan ibu ikut sedih dan menyesal mendengar itu, Nak. Mungkin kita dapat membantunya menemukan tempat tinggal.” Si anak langsung menjawab, “Tidak, tidak. Aku ingin dia tinggal bersama kita.” Dengan sabar sang ayah berkata, “Nak.

Kamu tidak tahu apa yang kamu minta. Seseorang dengan cacat parah seperti itu akan menjadi beban yang sangat berat bagi keluarga kita. Kita memiliki kehidupan kita sendiri, dan jangan biarkan hal-hal seperti ini mengganggu kehidupan keluarga kita. Segeralah kamu pulang dan lupakan orang ini. Dia akan menemukan cara untuk hidupnya sendiri.”

Si anak akhirnya menutup telefon. Orang tuanya tidak lagi mendengar apa-apa darinya, baik lewat surat maupun telefon. Beberapa hari kemudian, mereka menerima telepon dari polisi. Anak mereka telah meninggal setelah ditemukan di kamar temannya karena kondisi kelaparan. Polisi menduga ia meniggal akibat belum makan selama beberapa hari.

Orang tua langsung mendatangi lokasi kejadian namun baru bisa menemui jasadnya di kamar mayat untuk mengidentifikasi tubuh anak mereka. Mereka mengenalinya dan menemukan sesuatu yang sangat mengejutkan, putra mereka hanya memiliki satu lengan dan satu kaki.

***

Terima anak Anda apa adanya. Setiap anak terlahir dengan sifat dan karakter khasnya masing-masing, lengkap dengan kelebihan dan kekurangannya sendiri-sendiri. Beberapa dari sikapnya mungkin sifat turunan dari Anda, pasangan Anda, atau campuran dari Anda berdua. Beberapa sifat lainnya mungkin Anda tidak kenali, hal ini bisa saja terjadi karena pengaruh kuat dari lingkungan di luar rumah.

Apabila sesekali datang perasaan lelah, bosan, kecewa, dan putus asa dalam mendidik anak, pahamilah bahwa seluruh orang tua di dunia ini mengalami hal yang sama. Jika Anda menggantungkan harapan yang besar terhadap anak Anda, hal ini juga wajar. Setiap orang tua di seluruh dunia juga memiliki harapan yang sama. Pintar di sekolah, sukses berkarier, hidup berkecukupan, kesehatan yang baik, selamat dunia dan akhirat.

Setiap orang tua tentunya memiliki cita-cita sendiri terhadap anaknya masing-masing. Menjadi insinyur, dokter, atau meneruskan bisnis keluarga. Meskipun demikian, tidak semua anak dapat memenuhi ekspektasi tersebut. Bagaimana jika anak-anak Anda tidak menampakkan sedikitpun sesuatu yang dapat membuat hati Anda bahagia dan bangga?

Ketahuilah, anak Anda tidak dapat merubah dirinya menjadi anak yang setiap saat dapat memenuhi harapan dan keinginan Anda. Sudah saatnya Anda mengurangi pengharapan yang terlalu berlebihan terhadap anak-anak. Mulailah mencintai anak Anda dengan  keinginan yang realistis, apapun dan bagaimanapun keadaannya.

Jika Anda mendapati kenyataan bahwa anak Anda tidak sesuai dengan harapan yang Anda impikan, maka terimalah ia sebagaimana adanya. Apabila para orang tua mampu untuk menerima dan mencintai anak-anak mereka apa adanya dan bukan seperti apa yang mereka kehendaki, tentu kehidupan rumah tangga mereka akan menjadi lebih harmonis.

Kebanyakan orang tua tidak ingin mendengar hal-hal negatif tentang anaknya. Orang tua malas mendengarkan keluh kesah sang anak, akhirnya si anak mencari orang yang mau mendengarkan ceritanya dari pihak luar rumah. Dan ketika si anak akhirnya mencari teman curhat selain dari orang tuanya sendiri, para orang tua justru malah berbalik menyerang si anak karena menganggapnya mengacuhkan peran orang tua sendiri.

Kenyataan terkadang memang menyakitkan, tetapi jika kita mau mendengarkan dengan tangan terbuka dan hati legowo, anak pastinya ingin menceritakan permasalahan mereka dengan orang tuanya sendiri, bukan dengan orang lain. Mendidik seorang anak jauh lebih mudah daripada mendidiknya ketika sudah dewasa kelak. Ini karena kebiasaan yang ada pada orang dewasa telah menjadi habit yang berlangsung lama dan mendarah daging.

Campur tangan orang tua dalam perkembangan usia dini seorang anak adalah kunci untuk kematangannya ketika dewasa kelak. Toleransilah terhadap kegagalan. Meskipun dari orang tua yang sama. Setiap anak membawa karakter uniknya sendiri-sendiri. Setiap anak juga memiliki bakatnya masing-masing. Apa yang menjadi kelebihan seorang anak, belum tentu dimiliki oleh anak lainnya. Begitu pula dengan kelemahan yang dimilikinya.

Setiap anak harus memiliki kebebasan untuk belajar, bermain dan mengeksplorasi kemam­puannya. Kebebasan ini tentunya adalah ke­­be­­basan yang positif, bertanggung jawab, dan tidak melanggar aturan-aturan agama.

Sebagai manusia, apalagi dengan kondisi kejiwaan yang masih belum matang, anak-anak seringkali berbuat kesalahan yang menurut kita pantas untuk dihukum. Di saat, misalnya, anak tidak mengerjakan PR, sulit makan atau malas mengaji, maka pahamilah dan berilah mereka toleransi terhadap kesalahan. Mereka masih kanak-kanak dan masih dapat berubah. Dan kita harus selalu ingat, berubah itu tidak instan.

Perubahan tidak terjadi dalam satu malam. Ada saat-saat dimana anak tidak dapat memenuhi aturan orang tua. Sabarlah dan terus berupaya untuk membantu anak berubah menjadi lebih baik lagi.

Jika kita terlalu memaksakan perubahan drastis pada anak-anak, mereka akan merasakan kesulitan besar untuk melakukan perubahan tersebut. Seolah-olah ada gunung raksasa yang harus dilalui di hadapan mereka. Pada beberapa kasus, anak akan menjadi sangat ketakutan. Dan perubahan itu sendiri menjadi hal yang traumatis bagi pribadi sang anak. Alhasil, anak cenderung untuk berontak dan melakukan perlawaanan.

Berikan anak waktu yang logis untuk memperbaiki kebiasaan buruknya. Sambil Anda bimbing, ajak anak untuk melakukan perubahan dari hal yang paling mudah terlebih dahulu. Jika berhasil, anak akan ketagihan sehingga dengan sendirinya termotivasi untuk merubah kebiasaan buruknya yang lain. Jangan lupa, beri anak pujian yang pantas sebagai bentuk apresiasi terhadap usahanya untuk berubah menjadi individu yang lebih baik.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *