Tips Parenting: Bantu Anak-Anak Untuk Menjadi Pemimpin

By | December 4, 2015

Alkisah, di sebuah desa kecil dekat pegunungan Himalaya, tinggallah sebuah keluarga dengan tiga belas anak-anak. Delapan belas! Sang ayah bekerja hampir tiga belas jam sehari sebagai penggembala kambing untuk menafkahi anggota keluarga yang lain.

Meskipun dengan kondisi yang sangat terbatas, anak pertama dan kedua memiliki mimpi untuk bersekolah di kota. Mereka ingin merubah nasib keluarga dengan menjadi seorang dokter, tapi mereka tahu benar bahwa ayah mereka tidak akan pernah mampu merngirim mereka berdua sekaligus. Setelah banyak berdiskusi panjang pada malam hari di tempat tidur mereka, dua anak laki-laki ini akhirnya berhasil mencapai sebuah kesepakatan.

Anak pertama akan ke kota lebih dulu sedangkan anak kedua akan tetap tinggal di desa untuk bekerja dan mengirim uang bulanan kebutuhan kakaknya belajar di kota. Ketika sang kakak sudah selesai, anak kedua baru akan ke kota, dan kakak pertamanya yang akan membiayai biaya kuliah adiknya di kota. Ketika nanti mereka sudah berhasil dan mempunyai penghasilan, mereka berdua akan men-support kesebelas adik-adik mereka.

Waktu empat tahun berjalan dengan sangat cepat, beberapa tahun lagi sang kakak akan segera menyelesaikan studinya dan menjadi dokter. Sementara itu, di kampung, sang adik bekerja membanting tulang, dari pagi siang dan malam bersusah payah untuk dapat mengirim uang ke kakaknya di kota. Karena uang yang didapatkan di desa tidak mencukupi, sang adik diam-diam bekerja di sebuah pertambangan di kota lain yang jaraknya harus ditempuh dengan perjalanan dua hari dua malam menggunakan bus.

Sang adik turun ke daerah pertambangan berbahaya. Beberapa tahun lagi kakaknya akan diwisuda, sang adik tak pernah berfikir untuk mengambil libur di akhir pekan, ia terus bekerja di pertambangan sampai warna kulitnya menghitam dan pernafasannya mulai terganggu. Sang kakak di kota mengirim kabar bahwa ia akan dicalonkan untuk menjadi mahasiswa teladan di kampusnya. Mendengar kabar itu, sang adik tak kuasa membendung air bening yang keluar dari kelopak matanya, turun membentuk bekas garis di pipinya yang hitam.

Singkat cerita, sang kakakpun pulang dan menjadi salah satu dokter terpandang di desa, keluarga mereka menjadi terkenal di kampung yang hanya berpenduduk 30 kepala keluarga. Untuk mewujudkan rasa syukur ini, mengadakan acara makan malam keluarga besar di halaman rumah mereka. Acara berlangsung meriah, diselingi dengan senda gurau dan tawa, Sang kakak bangkit dari tempat duduknya menyampaikan rasa terima kasih kepada adik tercinta untuk tahun pengorbanan yang telah dihabiskan untuk memenuhi ambisinya. Sang kakak kemudian menyampaikan sesuatu, “Dan sekarang, kamu, giliran kamu dik. Kamu bisa pergi ke kota untuk mengejar impianmu dan aku yang akan mengurus segala keperluanmu.”

Semua mata tertuju mengalihkan pandangan orang-orang ke arah tempat duduk si adik, air mata mengalir di wajahnya yang pucat, menggelengkan kepalanya dan berkata, “Tidak … tidak … tidak … tidak. ”

Akhirnya, sang kakak bangkit dan menyeka air mata dari pipi adiknya. Sang adikpun berkata dengan lembut, “Tidak, saudaraku. Aku tidak bisa pergi ke kota. Sudah terlambat untukku. Lihatlah … Lihatlah tanganku! Tulang-tulang di jari-jemariku telah hancur akibat bekerja di pertambangan. Untuk memegang gelas saja, aku sudah tidak bisa, apalagi harus mengayunkan pena di bangku kuliah nanti. Tidak, kakak … bagi saya itu sudah terlambat.”

Lebih dari 50 tahun telah berlalu. Sekarang, ratusan orang-orang dari desa itu telah berhasil menimba ilmu di kota dan pulang membangun kampung halaman mereka. Saat ini, orang-orang mengenal desa itu sebagai bukan lagi sebagai kampung miskin tak berpendidikan. Tempat itu kini telah berubah menjadi daerah permukinan yang maju dan berkembang pesat. Warganya banyak yang telah menjadi dokter, insinyur dan dosen di beberapa perguruan tinggi ternama.

***

Ajak anak-anak untuk peduli terhadap sesamanya. Hampir semua anak berempati dan peduli dengan lingkup kecil keluarga dan teman-temannya. Tantangan kita adalah membantu anak-anak untuk belajar memiliki empati dan peduli pada seseorang di luar lingkup tersebut, seperti anak baru di kelasnya, penjaga sekolah, atau seseorang yang tinggal di kampung miskin dekat rumah.

Sebagai orang tua, kita harus memotivasi anak-anak untuk peduli kepada mereka lemah dan kurang beruntung. Contohnya adalah seorang anak baru di sekolah yang orang tuanya baru bercerai atau mengalami permasalahan keluarga lainnya. Berikan anak-anak beberapa ide sederhana untuk melangkah ke dalam “zona kepedulian dan keberanian,” seperti dengan menenangkan seorang teman sekelas yang telah diganggu atau dijahili.

Manfaatkan cerita-cerita dari koran dan televisi untuk memulai percakapan dengan anak-anak tentang kesulitan-kesulitan dan tantangan-tantangan yang dihadapi oleh orang lain.

Anak-anak secara naluriah tertarik pada pertanyaan-pertanyaan etis dan mereka seringkali ingin menjadi pemimpin untuk memajukan masyarakatnya. Mereka ingin menjadi pasukan kebaikan. Sebagai orang tua, kita dapat mendorong anak-anak dan para remaja untuk mengambil peran kepemimpinan dalam menciptakan masyarakat yang lebih peduli dan bertanggung jawab.

Bagaimana? Kita dapat membantu anak-anak menjadi pemikir dan pemimpin dengan mendengarkan dan membantu mereka melalui dilema. Di saat yang sama, kita berikan kesempatan bagi anak-anak untuk melawan ketidakadilan dalam masyarakat dan memperkuat masyarakat berdasarkan hal tersebut.

Cobalah hal berikut

  1. Bukalah percakapan tentang dilema moral/ etika yang muncul di televisi atau beri anak-anak permasalahan/ dilema etika untuk dipecahkan pada saat makan bersama ataupun pada momen-momen lain.
  2. Berikan berbagai kesempatan pada anak-anak untuk ikut pergerakan, seperti mencegah ‘bullying’ (intimidasi) di sekolah, atau mendukung upaya peningkatan pendidikan bagi anak-anak kurang mampu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *