Tips Parenting: Jadilah Role Model

By | December 4, 2015

Ayah Imam Syafi’i wafat ketika beliau masih dalam usia muda. Ibunyalah yang membesarkan dan mendidiknya hingga kemudian menjadi seorang imam besar. Ibunya membawa Imam Syafi’i kecil hijrah dari Gaza menuju Mekkah.

Di tanah haram, Imam Syafi’i mempeljari Alquran dan berhasil menghafalkannya saat berusia 7 tahun. Kemudian sang ibu mengirim anaknya ke pedesaan yang bahasa Arabnya masih murni untuk memperbaiki kemampuan berbahasa Imam Syafi’i.

Sang ibu pula yang memotivasi sang anak agar bisa berkuda dan memanah. Jadilah ia seorang pemanah ulung. Seratus anak panah pernah ia muntahkan dari busurnya, tak satu pun meleset dari sasaran.

Ketika baru berusia 15 tahun, Imam asy-Syafi’i sudah diizinkan Imam Malik untuk berfatwa. Semua ini tentu tidak terlepas dari peranan ibunya yang merupakan seorang muslimah yang cerdas dan pelajar ilmu agama.

Imam asy-Sayfi’i bercerita tentang masa kecilnya, “Aku adalah seorang anak yatim. Ibukulah yang mengasuhku. Namun ia tidak memiliki biaya untuk pendidikanku… …aku sudah menghafal Alquran saat berusia 7 tahun. Dan menghafal (kitab) al-Muwaththa saat berusia 10 tahun. Setelah menyempurnakan hafalan Alquranku, aku masuk ke masjid, duduk di majelisnya para ulama. Kuhafalkan hadits atau suatu permasalahan. Keadaan kami di masyarakat berbeda, aku tidak memiliki uang untuk membeli kertas. Aku pun menjadikan tulang sebagai tempat menulis”.

Walaupun memiliki keterbatasan materi, ibu Imam asy-Syafi’i tetap memberi perhatian luar biasa terhadap pendidikan anaknya.

***

Anak-anak tidak langsung terlahir baik atau buruk. Setiap orang dapat menjadi orang tua yang baik. Anak-anak membutuhkan orang dewasa untuk membantu mereka pada setiap tahap perkembangan kehidupannya. Orang tua harus berupaya untuk mengasah dan mengembangkan kepedulian anak-anak terhadap sesamanya. Ketika anak-anak dapat berempati terhadap sesama, mereka cenderung menjadi lebih bahagia dan lebih sukses. Mereka akan memiliki jalinan-jalinan hubungan yang lebih baik sepanjang hidupnya, dan jalinan-jalinan hubungan yang kuat adalah bumbu dasar utama dari kebahagiaan.

Dalam dunia kerja saat ini, kesuksesan sering tergantung pada kerjasama yang efektif dengan orang lain, dan anak-anak yang memiliki empati dan memiliki kepekaan sosial terhadap orang lain adalah rekan kerja yang disenangi oleh setiap orang.

Jadilah role model dan panutan bagi anak. Mengapa? Anak-anak mengenal nilai-nilai dan perilaku beretika dengan mengamati tingkah laku kita sebagai orang tua dan tingkah laku orang dewasa lain yang mereka hormati.

Apakah kita sendiri mempraktikkan kejujuran, integritas, kepedulian dan mampu menyelesaikan konflik-konflik secara damai dan mengontrol amarah secara efektif. Menjadi role model atau mentor moral artinya mencurahkan perhatian secara mendalam. Tidak selalu berarti kita harus bertingkah sempurna sepanjang waktu.

Penting bagi kita untuk mencontohkan pada anak-anak bagaimana mengakui dan menebus kesalahan dan kelemahan kita. Anak-anak hanya akan mau meniru atau menjadi seperti kita apabila mereka mempercayai dan menghormati kita. Oleh karena itu penting untuk menanyakan diri sendiri apakah anak-anak menghormati kita. Jika kita merasa mereka tidak menghormati kita, pikirkan mengapa demikian dan bagaimana kita bisa memperbaiki hubungan dengan mereka. Berikan hukuman hanya jika dirasa perlu.

Ketika hukuman yang kita terapkan tidak mendapatkan respon yang baik dari anak-anak, terkadang hal tersebut dapat menimbulkan rasa frustasi. Seringkali para orang tua memberikan hukuman yang sama berulang-ulang terhadap kenakalan yang sama. Hal ini karena mereka tidak tahu harus berbuat apa lagi di saat strategi-strategi yang lainpun juga tidak efektif.

Variasikan bentuk-bentuk kedisiplinan dan ubahlah cara Anda memberikan hukuman terhadap anak. Naikkan sedikit ketegasan Anda dan jangan terlalu lunak. Semuanya perlu waktu dan konsistensi. Bersiaplah untuk mendapatkan perlawanan dari anak-anak di awal-awal penerapan. Mereka menganggap perubahan tersebut sebagai ancaman, dan cukup wajar jika mereka menguji kesabaran kita untuk mengetahui seberapa serius kita dengan pendekatan baru tersebut. Tetap konsisten dengan pendekatan-pendekatan tersebut, dan seiring berjalannya waktu, perilaku mereka pasti akan membaik.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *