Tips Parenting: Konsisten Terhadap Aturan

By | December 4, 2015

Ketika aturan sudah dibuat dan disepakati antara orang tua dan anak-anak, maka semua pihak harus mematuhinya secara konsisten. Baik ayah, ibu, atau anak harus pa­tuh dan disiplin menjalankannya. Con­toh­nya ji­ka orang tua dan anak telah sepakat agar se­mu­a anggota keluarga harus tidur sebelum jam sepuluh malam, maka semua harus menaa­ti­nya, tak terkecuali para orang tua sendiri.

Sikap disiplin akan ditiru anak dari orang-orang terdekatnya, maka mulailah didik anak Anda tentang arti sebuah kedisiplinan dari dalam rumah. Jangan biarkan anak-anak melanggar aturan dengan sebuah excuse atau alasan yang dibuat-buat. Sering kita lihat bahwa anak-anak minta izin untuk tidur larut malam karena alasan ingin mengerjakan PR sekolah. Alasan ini seolah terdengar bisa dimaklumi, namun di sisi lain, hal ini justru menunjukkan kegagalan kita dalam mendidik anak untuk mengatur waktunya dengan bijak.

Secara psikologis positif, anak yang menge­tahui bahwa orang tuanya agak sedikit long­gar dalam menetapkan aturan di rumah, biasanya tidak akan mudah berbohong. Ya, ini adalah salah satu sisi positif dari orang tua yang tidak kaku. Anak-anak tidak akan berbohong karena mereka tahu persis bahwa orang tuanya akan memaklumi urusan mereka dengan berlindung di balik kejujuran. Namun di sisi lain, mereka akan tumbuh dewasa dengan kemampuan manajemen waktu yang buruk dan mudah sekali membuat alasan atau pembenaran untuk mendapatkan toleransi.

Selain itu, setiap anak harus men­dapatkan perlakuan yang adil tanpa merasa ada yang dianakemaskan atau dianak­tirikan. Pemberian izin kepada satu anak ter­tentu akan memberikan kesan pilih kasih pa­da anak lainnya. Oleh karena itu, bersikaplah konsisten terhadap aturan yang sudah Anda buat dan sepakati dengan anak-anak.

Jangan kasar kepada anak. Kasar berbeda dengan tegas. Orang tua dapat bersikap tegas dan lemah lembut pada saat yang bersamaan. Membentak, berteriak, memukul dan bentuk kekerasan lainnya adalah cara terburuk yang dapat Anda lakukan untuk mendidik seorang anak.

Tak jarang orang tua menggunakan hukuman fisik yang menyakitkan dan membekas. Bukan hanya membekas di badan, namun juga meninggalkan noda di hati sang anak hingga ia dewasa kelak. Rotan, sapu lidi, dan ikat pinggang sering digunakan orang tua, khususnya ayah, untuk mendisiplinkan seorang anak. Tindakan kasar orang tua akan terus diingat anak sampai ia besar nanti. Anak akan cenderung mudah marah, sulit bersosialisasi atau mencari pelarian dengan hal-hal negatif seperti mengkonsumsi obat-obatan terlarang dan lainnya.

Jika dulu Anda dibesarkan dengan cara seperti di atas oleh orang tua Anda, maka maafkanlah mereka. Orang tua kita sebenarnya menginginkan yang terbaik untuk anak-anaknya, namun dilakukan dengan cara yang kurang tepat. Jangan Anda ulangi pola didik yang menurut Anda salah kepada anak-anak Anda sendiri. Cukuplah siklus tersebut berhenti sampai di Anda dan adik-adik Anda, jangan sampai berlanjut sampai kepada anak dan cucu Anda di masa mendatang.

Sama halnya dengan kekerasan, cinta dan kasih sayang orang tua akan terus dikenang oleh anak sampai mereka dewasa. Orang tua dan keluarga adalah kontak fisik pertama seorang anak dengan dunia luarnya. Meskipun pergaulan di luar rumah turut berperan besar membentuk kepribadiaan seorang anak, faktor utama dan krusial yang paling menentukan tumbuh kembang anak tetap berada di dalam rumah.

Kekerasan bukan dan tidak akan pernah menjadi solusi terbaik dalam mendidik anak. Perasaan anak-anak sangatlah sensitif. Ajak anak berkomunikasi dua arah jika mereka bersikap tidak seperti yang kita harapkan. Kekerasan hanya akan menumbuhkan rasa benci dan dendam dalam benak alam bawah sadar sang anak.

Penting bagi setiap orang tua untuk dapat menjaga emosinya agar tetap tenang dalam berbagai situasi, terutama pada saat sikap anak sedang tidak bersahabat. Kekerasan tidak akan membuat situasi berangsur menjadi lebih baik dengan sendirinya. Secara genetika, beberapa orang tua memang memiliki kecenderungan untuk mudah tersulut emosinya dengan hal-hal yang sepele dan kecil. Dalam kondisi ini, perbanyaklah istighfar dan berdzikir untuk menurunkan amarah, sebelum hal-hal yang akan disesali terjadi.

Di samping itu, seorang anak adalah keturunan biologis langsung dari kedua orang tuanya. Jika orang tuanya mudah sekali untuk marah, anak-anak mereka pun memiliki kecenderungan yang sama ketika dewasa nanti. Jika sang orang tua tidak mampu mengendalikan emosinya, maka tindakan agresif ayah dan ibunya hanya akan memicu keagresfian yang lebih besar lagi pada diri sang anak.

Hubungan orang tua dan anak bersifat dua arah dan timbal balik. Perlu peran aktif kedua pihak untuk dapat saling berkomunikasi mencari jalan terbaik terhadap permasalahan di dalam rumah. Dan selalu ingat, kekerasan bukan dan tidak akan pernah menjadi solusi di dalam sebuah rumah tangga.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *