Tips Parenting: Perbaiki Hubungan Dengan Anak-Anak

By | November 19, 2015

Pada zaman dahulu kala, ada sebuah pohon apel besar. Seorang anak kecil bernama Sunat suka datang dan bermain di sekitarnya setiap pagi dan sore. Dia naik ke puncak pohon, makan apel, dan bergelantungan sebelum akhirnya tidur di bawah pohon itu karena kelelahan bermain seharian. Dia sangat mencintai pohon tersebut dan pohon itupun senang bermain dengannya. Waktu berlalu dan anak kecil itu telah tumbuh dewasa sehingga tidak lagi sempat bermain di sekitar pohon apel itu setiap hari.

Suatu hari, Sunat datang kembali ke pohon itu dan si pohon tampak sedih sambil berkata,  “Datang dan bermainlah bersamaku” ajak si pohon. “Aku bukan lagi seorang anak kecil, saya tidak suka bermain di pohon, aku ingin uang” keluh sang anak. Si pohon menjawab “Maaf, tapi saya tidak punya uang, tapi kamu boleh mengambil semua apel yang ada padaku dan menjualnya ke pasar”. Anak itu begitu gembira. Dia meraih semua apel di pohon dan pergi ke pasar dengan gembira. Setelah mendapat uang yang cukup banyak, anak itu tidak pernah kembali.

Suatu hari, anak laki-laki yang kini sudah berkeluarga dan memiliki anak itu datang kembali menemui si pohon. Sang pohonpun gembira mendengar jejak langkah kedatangan si anak. “Datang dan bermainlah bersamaku” kata pohon. “Aku tidak punya waktu untuk bermain, alu harus bekerja untuk menafkahi keluargaku. Kami membutuhkan rumah untuk tempat tinggal. Dapatkah kamu membantuku?” tanya si anak. Si pohon kemudian menjawab “Maaf, saya tidak punya rumah apapun. Tapi kamu bisa memotong cabang-cabang yang ada padaku untuk membangun sebuah rumah untuk keluargamu. Si anak itupun memotong semua cabang pohon dan pergi dengan gembira.” Pohon senang melihat anak itu bisa memiliki rumah. Namun, orang itu tidak pernah kembali sejak saat itu. Pohon kembali merasa kesepian dan sedih.

Pada suatu hari di musim panas yang sangat terik, pria itu kembali datang dan pohon itu senang. ‘Datang dan bermain dengan saya!” kata pohon. Si pria menjawab “Saya mulai tua. Saya ingin pergi berlayar untuk bersantai dan menikmati masa pensiun. Kamu bisa memberikanku sebuah perahu?” pinta pria itu. “Gunakan batang saya untuk membangun perahu. Kamu bisa berlayar jauh dan bahagia.” Pria itu memotong batang pohon untuk membuat perahu. Dia pergi berlayar dan tidak pernah muncul lagi untuk waktu yang lama.

Akhirnya, pria itu kembali setelah bertahun-tahun. Si pohon menjawab “Maaf, anakku. Kini aku tidak punya apa-apa lagi untukmu. Tidak ada lagi apel yang bisa dimakan” kata pohon. “Tidak masalah, saya tidak punya gigi untuk menggigit” orang itu menjawab. ‘Tidak ada lagi batang untuk memanjat” kata pohon. “Saya terlalu tua untuk itu sekarang” kata orang itu. Si pohonpun menteskan air mata “Aku benar-benar tidak bisa memberikan apa-apa lagi, satu-satunya yang tersisa adalah hanya akar tua. Orang itu terharu dan berkata ” Aku sangat lelah sekarang. Aku tidak perlu apa-apa lagi sekarang, hanya sebuah tempat untuk beristirahat. Si pohon menjawab “Baiklah,  akar pohon tua adalah tempat terbaik untuk bersandar dan beristirahat. Duduklah bersamaku dan beristirahat.” Pria itu duduk dan pohon itupun ikut senang dan tersenyum dengan air mata yang berlinang bahagia.

Pohon itu ibarat orang tua kita. Ketika masih kecil, kita senang bermain dengan ibu dan ayah. Ketika tumbuh dewasa, kita meninggalkan mereka, hanya datang kepada mereka ketika kita benar-benar membutuhkan sesuatu atau sedang berada dalam kesulitan. Tanpa pamrih, orang tua akan selalu hadir dan memberikan segala yang mereka miliki untuk membuat Anda bahagia. Anda mungkin berpikir bahwa anak dalam cerita di atas telah berbuat durhaka kepada si pohon, tapi itulah cara-cara anak-anak memperlakukan orang tuanya. Siapkan diri Anda untuk diperlalukan seperti halnya cerita pohon di atas, namun jangan pernah sekalipun menghilang ketika mereka membutuhkan kita.

***

Mendidik tidak mengenal kata expired. Mendidik anak juga bukan hanya kewajiban seorang ibu semata, seorang ayah juga berperan penting untuk membentuk karakter anak-anak. Kerjasama yang baik antara keduanya sangat diperlukan.

Kekerasan dan hukuman fisik bukanlah cara yang efektif untuk membuat anak mematuhi perintah Anda. Cara ini justru mengajarkan anak untuk mengatasi masalah dengan masalah, menyelesaikan masalah dengan kekerasan.

Anak-anak yang memiliki hubungan baik dengan orangtua mereka mungkin berulah (melakukan kenakalan-kenakalan) dari waktu ke waktu, tetapi pada dasarnya mereka ingin menyenangkan orang tua mereka dan membuat orang tua mereka bangga. Memiliki hubungan yang baik adalah cara terbaik untuk membuat anak-anak kita melakukan yang kita inginkan.

Tunjukkan pada mereka kasih sayang kita, penghargaan, dan kekaguman dengan cara yang baik. Bermainlah dengan mereka dan biarkan mereka yang mengendalikan permainan dan tertawalah pada hal-hal yang menurut mereka lucu. Biarkan mereka yang mengajari Anda bagaimana melakukan suatu hal.

Cobalah menjadi pendengar yang aktif untuk anak-anak yang lebih tua. Anda dapat melakukannya dengan memberi perhatian penuh, mendengar tanpa menghakimi, dan membuat ringkasan cerita mereka tanpa mendikte apa yang harus mereka lakukan.

Sebagai contoh, ketika anak-anak membicarakan tentang teman-temannya di sekolah, ajak anak-anak untuk memikirkan berbagai konsekuensi dari perilaku-perilaku buruk yang teman-teman mereka lakukan. Apakah penerimaan dari teman-teman sebaya mereka sebanding dengan segala konsekuensi yang mungkin terjadi? Lalu apa saja tindakan-tindakan alternatifnya? Dengan demikian, mereka akan belajar untuk membuat keputusan yang bijak dengan dukungan kita sebagai orang tua.

Beritahu anak-anak kita tentang apa yang akan mereka dapatkan jika melakukan apa yang kita sarankan. Sebagai contoh, beritahu mereka bahwa mereka akan boleh menonton televisi jika telah selesai mengerjakan PR.

Beri mereka pilihan. Sebagai contoh, tanyakan pada anak apakah dia mau memakai sandal atau sepatu. Berikan hanya pilihan-pilihan yang menurut kita baik.

Kasih batas waktu untuk setiap perintah dan permintaan. Ini akan mengurangi penolakan, mengajari mereka rasa hormat, dan membuat peluang untuk membuat mereka mendengarkan kita dan bekerjasama lebih baik.

Jangan mengajukan pertanyaan ya atau tidak jika permintaan tersebut bukan merupakan pilihan. Sebagai contoh, jangan katakan, ”Apakah adik sudah siap untuk berangkat ke sekolah?” karena bersiap ke sekolah bukanlah sebuah pilihan. Tetapi katakanlah,”Tolong segera bersiap-siap untuk berangkat sekolah sekarang sehingga kita bisa sarapan pagi bersama dan tidak perlu terburu-buru.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *