Tips Parenting: Seimbangkan Kesibukan Kerja

By | November 15, 2015

Seorang pria tampan berusia 30an berhenti di sebuah toko bunga. Ia ingin memesan beberapa bunga mawar untuk dikirim lewat pos kepada anak perempuannya yang tinggal di luar kota. Pria tersebut sudah bertahun-tahun tidak pernah pulang menemui anak satu-satunya itu. Ia bekerja super sibuk, dari jam 7 pagi sampai jam 10 malam, dari senin sampai sabtu, terkadang bahkan di hari minggu. Kariernya di sebuah perusahaan asal Inggris sangat bersinar.

Tak heran, gajinya cukup untuk membeli satu buah mobil setiap bulannya. Sang anak lantas dirawat oleh neneknya karena sang ibu, istri si pria tersebut, telah meninggal setahun yang lalu akibat kecelakan pesawat. Bunga adalah satu-satunya cara si pria tersebut berkomunikasi dengan anak perempuannya itu.

Saat ia keluar dari mobilnya dan ingin masuk ke toko untuk membeli bunga, ia melihat seorang ibu muda cantik yang duduk di pinggir jalan sambil menangis tersedu-sedu. Air mata wanita berparas ayu ini membasahi cincin kawinnya yang berwana kuning keemasan. Si pria bertanya ada apa gerangan dan ibu muda menjawab, “Saya ingin membeli setangkai bunga mawar merah untuk putri kecilku, tapi aku hanya punya uang Rp 2,000, dan harga mawarnya Rp 10,000.”

Pria itu tersenyum dan berkata, “Ayo ikut denganku. Aku akan membelikanmu bunga mawar yang paling indah untuk anakmu.” Sang pria itupun akhirnya membelikan ibu muda beberapa tangkai bunga mawar yang sangat menawan, warna merahnya begitu mempesona di tengah udara dingin sore itu. Saat mereka meninggalkan toko, hari sudah mulai gelap dan pria tersebut menawarkan ibu muda itu tumpangan di mobilnya. Ibu muda itupun mengiyakan dan berkata, “Ya, silakan! Anda begitu baik, belum pernah aku berjumpa dengan orang sebaik Anda.

Ibu muda itu kemudian mengarahkan sang pria untuk mengendarai mobilnya melewati jalan yang berliku-liku. Warna langitpun sudah sedikit berubah dan lampu penerang jalan mulai menyala satu per satu. Beberapa toko di pinggir jalan juga sudah banyak yang mulai memajang papan kecil bertuliskan close. Setelah berkendara selama kurang lebih 45 menit, sampailah mereka berdua di sebuah pemakaman sunyi tanpa peziarah.

Lokasi terletak di pinggir kota dikelilingi pohon-pohon yang tingginya dua kali dari atap rumah penduduk sekitarnya. Si ibu muda kemudian turun untuk meletakkan beberapa bunga di atas sebuah kuburan yang masih baru digali. Tanahnya masih basah dan jejak kaki pelayat masih terlihat jelas di area sekitar makam anak perempuannya itu.

Pria itu tiba-tiba menjadi kaku terpaku dengan tangan tak bergerak memegang stir kemudi dengan genggaman 10 jari. Persis seperti orang yang ingin membengkokkan bongkahan besi yang sangat kuat. Ia telan ludahnya sendiri dalam hitungan detik.

Tanpa pikir panjang, ia segera kembali ke toko bunga, membatalkan pesanan sebelumnya yang akan dikirim lewat pos. Ia membeli sebuah karangan bunga yang lebih indah daripada yang diberikannya kepada si ibu muda tadi. Dengan sedikit tergesa-gesa, ia masuk ke dalam mobil dan begegas pulang menuju rumahnya untuk bertemu dengan anak perempuan satu-satunya yang kini sudah beranjak dewasa.

Hidup ini singkat. Menghabiskan waktu dengan anak-anak tidak dapat dibayar dengan uang. Nikmati setiap momen dengan mereka sebelum terlambat. Anak-anak Anda lebih penting dari pekerjaan Anda.

***

Setiap engkau adalah pemelihara, dan setiap engkau akan dimintai pertanggung jawaban mengenai apa yang menjadi tanggung jawab pemeliharaannya: Seorang pemimpin adalah pemelihara, ia akan dimintai pertanggung jawaban mengenai apa yang menjadi tanggung jawab pemeliharaannya. Seorang laki-laki juga pemelihara dalam keluarganya, ia akan dimintai pertanggung jawaban mengenai apa yang menjadi tanggung jawab pemeliharaannya. Dan seorang perempuan adalah pemelihara dalam rumah suaminya, ia akan dimintai pertanggung jawaban mengenai apa yang menjadi tanggung jawab pemeliharaannya. (HR. Bukhâri)

Orang tua adalah role model pertama yang sangat menentukan untuk masa depan anak-anaknya. Sikap orang tua yang baik akan dengan cepat ditiru oleh anak-anaknya. Jika Anda selalu shalat di awal waktu, anak-anak dengan cepat akan meniru kebiasaan baik Anda yang selalu disiplin dalam beribadah.

Pendidikan anak adalah tanggung jawab setiap orang tua, ayah dan ibu. Ayah berperan sebagai kepala keluarga, pencari nafkah, dan pelindung kepada semua anggota keluarga. Ibu, di sisi lain, berperan melengkapi tugas ayah sebagai wakil kepala keluarga di rumah. Karena biasanya seorang ayah bekerja seharian dari pagi hingga malam mencari maisyah, maka peran ibu memainkan fungsi yang sangat vital di rumah.

Namun sayangnya, kini banyak ibu-ibu muda yang ikut membantu keuangan keluarga dengan bekerja secara full-time dan mengurus anak secara part-time. Terlebih jika penghasilan sang ayah tidak mencukupi kebutuhan keluarga. Kedua orang tua yang bekerja dapat menimbulkan persoalan yang cukup besar terhadap tumbuh kembang anak.

Peran ayah dan ibu dalam mendidik anak bersifat saling melengkapi. Gaya mendidik seorang laki-laki dan perempuan dapat memberikan keseimbangan psikologis dalam perkembangan seorang anak. Ketegasan seorang bapak dan kelemahlembutan seorang ibu akan membentuk kepribadian anak menjadi balance.

Sesibuk apapun orang tua bekerja, anak tetaplah seorang anak. Mereka bukan anak kandung dari pengasuh kita, mereka juga bukan anak dari pembantu kita, mereka bukan anak para baby sitter, dan mereka juga bukan anak dari ibu kita. Mereka adalah anak biologis kita yang memiliki hak untuk mendapatkan pendidikan yang baik, langsung dari orang tuanya sendiri.

Seorang ayah atau ibu, dengan kesibukannya sehari-hari, harus memberikan prioritas utama pada anak-anak. Para orang tua harus mencurahkan waktu lebih banyak bersama anak-anak. Kita dapat saksikan sendiri bahwa orang tua yang memberikan perhatian lebih terhadap anak-anaknya sendiri kerap menghasilkan pribadi-pribadi yang unggul dan berkualitas.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *